Jodoh Istikharah

Jodoh Istikharah
Marah


__ADS_3

"Arrgghh.... Brengsek! Leon brengsek!"  Becca marah-marah sambil menusuk-nusuk foto Leon hingga foto tersebut hampir hancur. Setelah puas menusuk-nusuk, diremasnya foto tersebut lalu ia masukkan ke dalam tong sampah.


Bagaimana Becca tidak emosi, sudah dua minggu ini Leon mengacuhkannya. Pesan yang dikirim Leon terakhir kali adalah pemberitahuan kalau ponselnya disita oleh Diana dan ia hanya memiliki waktu 10 menit.


Saat itu Becca sedang meeting. Dan ketika ia membalas pesan Leon, ponsel suaminya itu sudah tidak bisa lagi dihubungi. Hingga saat ini, Leon belum ada lagi menghubunginya.


Becca jadi berfikir, apa yang sudah diperbuat Diana sehingga Leon sangat penurut kepada mantan sahabatnya itu?


"Diana... Kau membuatku sengsara. Kudo'akan semoga kau tidak pernah bahagia!" geram Becca sambil meninju-ninju guling.


Becca dan Diana kenal bukan hanya sehari dua hari. Tapi sudah bertahun-tahun. Dan Becca tidak pernah menyangka kalau orang yang akan menyakitinya adalah orang terdekatnya. Yaitu suami dan sahabatnya.


Suara pintu dibuka membuat Becca menoleh ke arah pintu.


Leon.


Laki-laki tersebut tercengang melihat keadaan kamar yang sangat berantakan. Terlebih lagi kondisi Becca yang sedikit berantakan. Rambut acak-acakan dan mata sembab. Seperti baru selesai menangis.


"Maafkan aku, Becca." Leon berjalan pelan mendekati Becca setelah sebelumnya menutup pintu kamar.


Becca melihat Leon dengan sorot mata tajam dan seperti ingin membunuh.


"Kau masih ingat jalan pulang rupanya," kata Becca sambil tersenyum miring. "Kukira kau sudah sangat nyaman dengan perempuan itu, hingga melupakan semuanya tentangku."


"Aku minta maaf, Becca. Banyak yang ingin kuceritakan. Tentang rumah tangga kita," kata Leon. Ia terus berjalan pelan mendekati Becca.


"Jangan mendekat, Leon! Aku sedang malas berdekatan denganmu!"


Leon menunduk lalu duduk di pinggir kasur. Sebelumnya ia sudah menemui Arini dan meminta maaf kepada perempuan tersebut. Dan disana Arini mengatakan kalau kondisi Becca sangat kacau. Oleh karena itu, ia hanya beberapa jam saja di apartemen Arini dan langsung menuju rumah Becca. Bahkan Leon belum sempat mengabari Calina kalau ia sudah bebas dari Diana.


Sesampainya di rumah Becca, ternyata benar. Istri keduanya itu sedang kacau. Tampak dari penampilan dan juga keadaan kamar yang berantakan.


"Diana mengancam akan mencelakaimu kalau aku sampai tidak mendengarkan kata-katanya," beritahu Leon. "Aku tidak ingin kau kenapa-napa, Becca."


Becca tertawa sinis. "Lalu kau percaya?"

__ADS_1


"Tentu saja aku percaya. Diana adalah perempuan yang berbahaya. Ia bisa melakukan apa saja tanpa berfikir akibat fatalnya. Ia seperti psikopat," sahut Leon sambil memandang ke arah Becca.


"Kau bodoh, Leon. Diana hanya sedang menggertak saja. Aku yang sudah mengenalnya selama bertahun-tahun. Aku tahu betul siapa Diana." Becca tertawa sinis. Ia menyesalkan kebodohan Leon. Entah laki-laki macam apa suaminya itu, mudah sekali dipengaruhi.


"Diana yang dulu beda dengan yang sekarang, Becca. Diana yang sekarang tidak segan berbuat jahat. Kau saja yang belum mengenalnya," sahut Leon tak mau kalah. Karena ia merasa yakin kalau Diana memang jahat seperti yang ada di pikirannya.


"Kau membela dia? Kau tidak percaya padaku?" Becca berkata dengan aura yang sangat dingin.


"Ak... Aku tidak bermaksud seperti itu, Becca. Maksudku... Ah, sudahlah. Jangan kita bahas lagi soal Diana. Aku malas mendengar namanya," ucap Leon. Mencoba menetralkan perasaan tegang diantara mereka berdua. "Bagaimana kandunganmu? Apa anak kita baik-baik saja?"


"Apa pedulimu!"


"Tentu saja aku peduli. Itu anak kita, Becca. Aku ayahnya." Leon berbicara dengan penuh permohonan. Ia memohon supaya Becca berhenti marah dan memaafkannya.


"Kau bukan ayahnya. Aku selingkuh dan hamil anak selingkuhanku. Jadi anak ini bukan anakmu. Oleh karena itu, kau tak perlu peduli ataupun merasa bersalah. Karena kau bukan ayahnya," ucap Becca. Ia duduk di kursi dengan meja rias sambil menyisir rambutnya yang kusut.


Leon tertawa heboh. "Kau sangat lucu, Becca. Kau pikir aku percaya? Karang lagi cerita yang lebih bermutu. Supaya aku tidak merasa geli," kata Leon sambil memegangi perutnya karena terlalu heboh tertawa.


Becca melirik sejenak ke arah Leon. Ia tak menjawab apa-apa lagi. Karena ia sudah mulai malas berdebat dengan Leon. Ia lalu menuju kamar tamu dan tidur malam di sana. Beruntung ibunya sedang berada di luar kota, sehingga Becca bisa bebas tidur dimana saja.


Ia teringat kata-kata Arini beberapa saat yang lalu. "Kau salah, Leon. Kau sebagai laki-laki terlalu lembek dan tidak bisa tegas terhadap Diana. Bahkan kau tidak bisa adil terhadap istri-istrimu yang lain. Kau harus sadar itu, Leon!"


Leon membaringkan tubuhnya telentang menatap langit-langit kamar. Arini benar, ia memang tidak adil terhadap istri-istrinya.


Leon teringat akan Calina. Buru-buru ia mengeluarkan ponselnya dan mengabari Calina.


Leon


Kau sedang apa, Babe? Aku sudah bebas dari Diana.


Calina


Aku senang mendengarnya. Akhirnya kau bebas juga.


BTW aku sedang istirahat di apartemen. Baru pulang dari perfom.

__ADS_1


Leon


Tapi bukan bebas dalam arti sesungguhnya. Diana masih membayangiku. Aku hampir tidak bisa berbuat tanpa persetujuannya. Beruntungnya ia sedang baik. Jadi ponselku dikembalikan.


Calina


Itu semua akibat perbuatanmu di masa lalu, Leon. Sekarang kau harus menghadapinya. Jangan kau salahkan siapapun.


Leon


Aku mengerti. Maafkan aku, Ca.


Leon menyudahi chat dengan Calina karena istri keempatnya itu sedang ingin istirahat.


Calina benar, ini semua akibat perbuatannya di masa lalu. Dan sekarang ia harus menjalaninya.


Leon bangkit dan mencari Becca di beberapa ruangan. Seperti dapur, ruang tamu dan balkon. Nihil. Tidak ada Becca di sana. Hingga kakinya berhenti di depan kamar tamu.


"Becca. Please buka pintu, dong!" Leon mengetuk pintu kamar tersebut beberapa kali.


Hening.


Tidak ada jawaban.


Namun demikian Leon tahu kalau Becca ada di dalam. Karena keadaan pintu terkunci dari dalam.


"Becca! Honey!"


"Berhentilah berisik, Leon! Aku sedang ingin sendiri," teriak Becca dari dalam kamar.


"Baiklah. Aku ada di kamar kalau kau butuh sesuatu. Selamat malam. Selamat istirahat, Honey," ucap Leon lembut. Namun tidak ada respon dari Becca.


Akhirnya Leon kembali masuk ke dalam kamarnya yang seperti kapal pecah. Tapi sebelum ia istirahat, terlebih dahulu ia membersihkan kamar tersebut. Setelah semuanya beres dan bersih, barulah Leon memutuskan untuk istirahat.


Tak butuh waktu lama, Leon sudah tertidur. Karena memang, selama bersama Diana, Leon lebih sering begadang. Dan juga, sepulangnya dari honey moon, Leon langsung memutuskan untuk menemui Arini dan Becca. Sehingga ia belum memiliki waktu untuk istirahat.

__ADS_1


__ADS_2