
Arini sedang rebahan di atas ranjang sambil membaca sebuah buku non-fiksi yang menceritakan biografi tokoh terkenal, tiba-tiba saja ia merasakan ada yang mengalir di pahanya. Sontak saja ia langsung berteriak memanggil Leon yang sedang berada di luar kamar.
"Leon...." Arini memanggil Leon dengan nada yang tidak terlalu keras tapi tegas.
Leon sendiri sedang berada di balkon sambil menyiram bunga lavender yang ada di sana. Tiba-tiba saja ia mendengar Arini memanggil namanya. Sontak saja ia langsung berlari menuju kamar Arini. Leon tahu, kalau Arini memanggil dengan nada seperti ini pasti sedang dalam keadaan genting.
Dan benar saja, ketika Leon sampai di kamar, ternyata kaki Arini dialiri darah segar. Ia langsung membawa Arini ke rumah sakit untuk melakukan persalinan.
***
Seorang bayi laki-laki yang sangat tampan sedang berada dalam gendongan Leon. Ia sangat bahagia sekali menyambut kelahiran anaknya ini. Sejak sampai di rumah, Leon belum melepaskan bayinya itu. Bahkan ia tak mau bayinya digendong oleh orang lain.
"Kamu sudah punya nama?" Leon bertanya pada Arini. Kalau Arini belum mempunyai nama untuk anak mereka, Leon sudah mempersiapkan itu. Tapi jika Arini sudah memiliki nama, maka Leon tidak akan mengubahnya.
Arini menggeleng. "Belum. Kamu sendiri bagaimana?" Arini bertanya balik pada Leon.
Leon mengangguk. Ia mencium sekilas pipi bayinya itu sebelum akhirnya menjawab. "Sudah. Bagaimana kalau Yusuf Agoria Leri?" Leon menyebutkan nama untuk anak mereka sambil menatap Arini. Ia ingin mengetahui pendapat Arini tentang nama yang telah ia siapkan itu.
Arini mengerutkan keningnya samar. Nama yang aneh. Hanya Yusuf saja yang familiar di telinganya, yang dua lagi tidak. Ia belum pernah mendengar nama itu sebelumnya. "Apa artinya?" Akhirnya Arini bersuara.
"Agoria itu artinya anak laki-laki dalam bahasa Yunani," beritahu Leon. "Sedangkan Leri itu singkatan dari nama kita," lanjutnya. Ia masih menatap Arini. Ia benar-benar ingin tahu apa pendapat Arini tentang nama itu. Apakah setuju atau tidak.
"Begitu, ya?" tanya Arini dan diangguki oleh Leon. "Baiklah, aku setuju." Tanpa berpikir panjang Arini langsung menyetujui usul Leon tersebut. Bagi Arini, selama nama itu mengandung arti yang bagus, ia tidak ada alasan untuk menolak. Toh nama adalah do'a, bukan? Anak berhak mendapatkan nama yang baik dari orang tua mereka.
"Kamu setuju?" tanya Leon tak percaya. Ia kira Arini akan merubahnya. Namun ternyata tidak.
__ADS_1
"Ya. Aku setuju," jawab Arini mantap.
Saat ini keduanya sedang berada di rumah. Mereka baru saja pulang ke rumah dengan di antar oleh Ayah Arini. Namun Hamdani sudah kembali pulang ke rumahnya. Dan sekarang hanya tinggal mereka berlima saja di rumah ini. Dan lebih spesifiknya lagi, mereka sedang berada di kamar. Arini sedang merapikan pakaian di lemari.
"Aku mau ke kamar Jasmine dulu, ya? Siapa tahu dia sudah bangun." Leon memandang Arini dan diangguki oleh Arini.
Leon pun langsung menuju kamar dimana Jasmine sedang tidur. Ternyata anak perempuan Leon tersebut masih terlelap.
Pertama kali Jasmine melihat Yusuf, bayi tersebut sangat senang dan seperti ingin mengajak adiknya itu untuk bermain bersamanya. Oleh karena itu Leon sangat semangat untuk mempertemukan Jasmine dan Yusuf secara terus-menerus. Mereka berdua menggemaskan.
Tapi berhubung Jasmine belum bangun, akhirnya Leon pun memutuskan untuk merebahkannya Yusuf di boks bayi yang ada di sebelah Jasmine. Dengan tujuan anak laki-lakinya itu ikut tertidur juga.
Dan berhasil, tak berapa lama Yusuf pun tertidur. Leon yang tak ingin meninggalkan mereka hanya berdua saja memutuskan untuk tidur di ranjang yang ada di kamar tersebut. Dengan tujuan kalau salah satu dari mereka ada yang menangis, Leon bisa langsung mendengar itu.
***
"Buat siapa barang-barang ini? Juna?" tanya Via sambil memperhatikan Calina yang terus memilih barang-barang untuk bayi.
"Untuk anaknya Arini," jawab Calina sambil memasukkannya sepasang sepatu bayi yang sangat lucu ke dalam troli belanja.
Via yang sedang memainkan ponselnya langsung mengalihkan pandangannya ke Calina. "Arini sudah melahirkan? Kapan? Anaknya laki-laki atau perempuan? Kok kamu bisa update? Bukankah kamu dan Leon sudah berpisah?" Via bertanya seperti kereta api saja. Sangat panjang.
"Anak mereka laki-laki. Tahu, dong. Aku ini intel." Calina tersenyum bangga sambil menepuk dadanya sendiri.
Via hanya bisa mendengus kesal. Intel intel apa? Paling juga hasil dari stalker.
__ADS_1
"Ayo ke kasir! Tidak sabar mau mengirim barang-barang ini ke rumah Arini." Calina langsung menuju kasir sambil mendorong troli belanja yang isinya lumayan banyak.
Sementara itu Via yang sedang tidak ingin belanja apapun, langsung bergegas mengikuti Calina dari belakang.
Dalam hati Via salut akan rasa kekeluargaan antara Arini dan Calina. Meski mereka berdua pernah menjadi istri seorang pria yang sama, namun keduanya tetap saja akur. Tidak seperti orang kebanyakan.
"Kamu mau datang langsung atau kirim paket saja?" Via sedikit berbisik saat mereka sedang mengantri di meja kasir.
"Kirim paket, ya?" Calina tampak berfikir sejenak. "Itu ide bagus. Aku akan kirim paket saja," kata Calina. Dirinya belum resmi bercerai secara negara. Tidak baik untuk dirinya bertemu Leon disaat seperti ini. Oleh karena itu ia akan mengirimkan semua barang-barang ini menggunakan jasa pengiriman saja.
***
"Paket dari siapa, Sayang?" Leon bertanya saat melihat Arini membawa sekotak paket dari pintu depan.
"Dari Calina," jawab Arini. "Katanya dia masih ada di luar kota, jadi belum bisa datang ke sini."
Leon mengangguk saja. Ia melihat Arini yang mulai membongkar kotak paket dari Calina.
Hubungan Leon dan Calina sudah tidak sehangat dulu, sekarang keduanya sama-sama dingin. Bahkan sudah tidak pernah lagi bertanya kabar, baik itu melalui chat atau telepon. Dan keduanya pun sedang sama-sama menyelesaikan perceraian mereka berdua. Lima hari lagi Leon dan Calina akan menghadiri sidang cerai. Tentu saja dengan senang hati mereka akan datang.
"Waahh... Ini lucu sekali." Arini mengeluarkan barang-barang dari Calina. Isikan ada sepatu, kain bedong instan dan baju-baju bayi. Semuanya berkarakter keropi. Sepertinya Calina menyukai katak. Buktinya ia mengirimkan semua paket dengan gambar keropi.
Leon melihat barang-barang tersebut sambil mengerutkan keningnya. Sejak kapan Calina menyukai keropi? Setahu Leon, Calina itu menyukai Spongebob. Ah, masalah selera pasti bisa berubah kapan saja, bukan?
Arini lalu mengambil ponselnya kemungkinan menghubungi Calina via chat. Sekedar mengucapkan terimakasih.
__ADS_1