Jodoh Istikharah

Jodoh Istikharah
JI 2 - Bukan Ular Berbisa


__ADS_3

Melihat kaki Arini yang digigit ular, Leon jadi panik bukan main. Bukannya cepat-cepat membawa Arini ke rumah sakit, laki-laki itu malah sibuk memburu si ular dan ingin membunuhnya.


"Hei ular sialan! Kemanapun kau lari, aku akan mengejarmu!" Leon menyusuri semak-semak dengan bantuan senter yang ada di ponselnya.


Begitu ular tersebut selesai menggigit Arini, ular itu langsung kabur. Leon jadi geram sendiri karena tidak sempat membunuhnya saat itu juga.


"Leon!" panggil Arini panik. Dia takut jika ular tadi adalah ular berbisa. Dirinya tidak paham soal ular, jadi tidak tahu yang menggigitnya tadi ular berbisa atau bukan. "Leon!" panggil Arini lagi karena Leon tak kunjung datang.


"Sebentar, Sayang. Ularnya belum ketemu," sahut Leon dari balik semak-semak.


"Leon! Kalau kamu tidak mau membawa aku ke rumah sakit, aku pergi sendiri." Arini lalu jalan menuju mobil. Dia kesal pada Leon yang tak mempedulikan keadaannya.


"Arini, jangan jalan! Nanti bisanya menyebar. Kalau tergigit ular jangan bergerak. Diam saja." Leon lalu membopong Arini masuk ke dalam mobil. Sebelumnya laki-laki itu telah mengikat kaki Arini dengan sobekan baju miliknya.


"Maaf, Sayang. Aku tadi panik sekali. Harusnya aku tinggalkan saja ular tadi, dan fokus membawa kamu ke rumah sakit," ujar Leon saat keduanya sudah dalam perjalanan menuju rumah sakit.


Arini hanya diam saja. Dia kesal pada Leon. Entah berasal dari planet mana suaminya itu. Tingkahnya selalu aneh. Sudah tahu istrinya di gigit ular, bukannya segera dibawa ke rumah sakit, ini malah sibuk mengejar si ular.


Kalau aku mati kena bisa ular, jangan menyesal Leon. Ucap Arini dalam hati karena saking kesalnya.


Sesampainya di rumah sakit, Arini langsung di bawa ke UGD. Dokter jaga langsung menangani Arini dengan baik.


Leon menunggu dengan cemas sekali. Dia lalu menghubungi ponsel ibunya. Dan beruntung sang ibu belum tidur.


"Ma, Arini di gigit ular," beritahu Leon setelah sang ibu mengangkat teleponnya.


"Papa... Bangun... Arini di gigi ular!" terdengar suara panik dari seberang sana.


"Sekarang kami di Rumah Sakit Jelita, Ma!" ujar Leon.


"Mama sama Papa segera datang."


Telepon langsung di putus oleh Mutiara begitu saja.


Leon duduk lemas di kursi tunggu. Sedari tadi dia berdo'a, semoga ular tadi bukan ular berbisa.

__ADS_1


"Bodoh! Bodoh!" Leon menjambak rambutnya sendiri. Gara-gara dia, Arini di gigit ular. Andai saja dia tidak mengabaikan kata-kata Arini tadi, pasti ular itu tidak sampai menggigit istrinya.


Leon juga menyesali kebodohannya yang malah mengejar ular bukan langsung membawa Arini ke rumah sakit.


"Aku memang bodoh!" lirihnya frustasi.


***


Leon duduk meringkuk di lantai. Orang tuanya memandang dia dengan tatapan tajam. Terutama Mutiara. Perempuan itu sangat sayang sekali pada Arini. Mutiara marah begitu mengetahui semua ceritanya dari Leon.


Sedangkan Malvin dan Hamdani lebih kalem. Karena ular yang menggigit Arini bukanlah ular berbisa. Jadi dua orang tua laki-laki itu tidak terlalu panik.


"Jangan pernah lagi bawa Arini ke tempat sialan itu!" ucap Mutiara sambil menatap tajam ke arah anak laki-lakinya itu.


Leon yang memang merasa bersalah, hanya bisa duduk memeluk lutut di lantai yang dingin. Dia menunduk dalam-dalam. Tidak berani menatap ketiga orang tuanya yang duduk di sofa panjang.


"Rini tidak apa-apa kok, Ma. Lagian ularnya juga bukan ular berbisa. Leon tidak salah, semua ini murni ketidak sengajaan," ujar Arini. Dia tak tega melihat Leon yang di sudutkan seperti ini. Walaupun tadi malam dia sangat marah pada Leon, tapi pagi ini sudah tidak lagi.


"Kamu jangan bela Leon, Rin. Dia sebagai laki-laki memang tidak bisa bertanggung jawab. Coba hitung, sudah berapa banyak kesalahan yang dia perbuat padamu?" Mutiara yang memang masih kesal pada Leon, tidak mau berhenti bicara begitu saja.


Sebenarnya yang anakmu itu aku atau Arini, Ma? Mengapa Mama lebih sayang pada Arini? Ucap Leon dalam hati.


"Mana bisa begitu, Rin! Leon ini memang perlu pelajaran tambahan. Supaya dia bisa tanggung jawab," ucap Mutiara kesal.


"Mamamu benar, Rin. Leon memang perlu diberi pelajaran tambahan. Kalau tidak, dia tidak akan pernah berubah." Setelah diam saja, Malvin ikut ambil suara.


"Ya. Kita hukum saja dia. Supaya kapok," ujar Mutiara.


"Sudah, sudah. Kasihan Leon," ujar Hamdani menenangkan mereka semua.


Disaat Mutiara dan Malvin membela Arini, Hamdani membela Leon. Memang ada-ada saja keluarga satu ini.


Mereka semua diam beberapa saat. Tidak ada yang bicara sampai pintu ruangan mereka di ketuk. Dan masuklah seorang perawat.


"Pagi, Bu Arini," sapa suster itu ramah.

__ADS_1


"Pagi, Sus," jawab Arini tak kalah ramahnya.


Suster tersebut memeriksa keadaan kaki Arini. Mengganti perban yang lama dengan yang baru.


"Terimakasih, Sus," ucap Arini setelah suster tersebut selesai melakukan pekerjaannya.


"Sama-sama, Bu," jawab suster itu ramah. Kemudian dia keluar dari ruangan Arini setelah mengangguk sopan pada ketiga orang tua yang ada di dalam sana.


Sebenarnya kata dokter, Arini sudah boleh pulang pagi ini. Tapi Mutiara tidak mau Arini cepat-cepat pulang. Dia khawatir Arini mengalami alergi atau lain sebagainya. Oleh karena itu, orang tua perempuan itu memaksa dokter untuk memindahkan Arini ke ruang rawat inap.


The power of emak-emak memang tidak bisa di lawan. Untung saja ruang rawat inap ada beberapa yang kosong. Jadi dokter bisa mengabulkan keinginan Mutiara tersebut.


"Ma... Nanti siang Rini boleh pulang, ya?" rengek Arini dengan tampang sedihnya. "Rini baik-baik aja, kok. Lagian Rini kangen anak-anak."


Melihat tampang memelas menantunya, akhirnya Mutiara pun luluh. Dia mengangguk sebagai jawaban.


"Terimakasih, Mama yang cantik," ucap Arini sambil tersenyum manis sekali.


"Mama sama Papa mau sarapan apa? Leon mau beli sarapan," ujar Leon yang merasakan perutnya berbunyi.


"Nasi goreng."


"Nasi uduk."


"Nasi goreng."


Ujar Mutiara, Malvin dan Hamdani secara bergantian.


Kemudian Leon memandang Arini. "Kamu mau apa, Sayang?" tanyanya.


"Nasi uduk," ujar Arini. "Sama kopi boleh, kan?" lanjutnya sambil cengir-cengir.


"Boleh, dong," ucap Leon. Untuk Arini, apa sih yang tidak boleh.


Leon lalu meninggal ruang rawat inap untuk mencari sarapan.

__ADS_1


Tadi malam, begitu mendapat kabar dari Leon, Mutiara dan Malvin langsung bergegas ke rumah sakit. Sedangkan Hamdani, pukul enam tadi baru datang.


Jasmine dan Yusuf sengaja tidak diajak oleh Mutiara dan Malvin. Biar saja mereka istirahat di rumah. Kasihan kalau harus ke rumah sakit malam-malam.


__ADS_2