
Sedari tadi Yusuf rewel terus. Tidak mau pisah dari Arini.
Niat hati Arini ingin menjemput Jasmine, tapi tidak bisa karena Yusuf tidak mau pisah darinya. Entah apa gerangan yang membuat Yusuf rewel seperti ini.
Akhirnya yang menjemput Jasmine kali ini adalah Wulan. Ani sendiri sedang sibuk menyetrika pakaian.
Sesampainya di sekolah Jasmine, Wulan celingak-celinguk mencari kesana-kemari anak majikannya itu.
Saat melihat Jasmine dari kejauhan, Wulan langsung mendekati bocah cilik tersebut.
Betapa kagetnya Wulan saat melihat wajah dan tangan Jasmine lebam-lebam. Tanpa harus menginterogasi Jasmine, Wulan tahu apa yang terjadi. Pasti Jasmine di bully fisik.
Tidak mungkin Jasmine kecelakaan saat olahraga atau bermain.
"Kita pulang sekarang, ya?!" ujar Wulan dan di-angguki oleh Jasmine.
Beberapa anak yang lewat di dekat Wulan dan Jasmine, memandang sinis ke arah mereka berdua.
Benar dugaanku. Pasti Nona Jasmine di bully, batin Wulan.
Sekarang Wulan dan Jasmine sudah di dalam taksi. Pelan-pelan Wulan bertanya pada Jasmine.
"Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Wulan dengan suara rendah.
Jasmine hanya menunduk dan diam saja.
Wulan memeluk bahu Jasmine. "Ngomong sama Aunty," lirihnya.
"Jasmine di bully, Aunty. Jasmine di lempar pakai buku, sepatu dan juga makanan." Jasmine bicara sambil menunduk.
Bapak supir taksi melirik sekilas melalui spion tengah. Tapi beberapa detik kemudian ia kembali fokus melihat jalanan.
Wulan tidak berniat mewawancarai Jasmine lagi. Perempuan muda tersebut memeluk Jasmine erat.
Dalam hati Wulan bertekad akan mengadukan ini pada Arini. Ini tidak bisa dibiarkan. Kalau didiamkan terus, kasihan Jasmine.
***
Setelah sampai rumah, Jasmine langsung bersembunyi di dalam kamarnya. Arini sedang menidurkan Yusuf di kamar. Sedangkan Mutiara sedang keluar entah ke mana.
Tadi hanya Ani yang memergoki wajah lebam Jasmine.
"Pokoknya kita harus ngadu sama Ibu, Bude. Kasihan Nona Jasmine." Wulan berapi-api karena saking emosinya.
Ani mengangguk setuju. "Sekarang kamu yang laporan, sana! Bude Langi tanggung," ujar Ani sambil menunjuk setrikaan yang masih ada beberapa lembar kain lagi.
Wulan mengangguk yakin. Ia lalu bergegas menuju kamar Arini.
Dengan tangan gemetar ia mengetuk kamar Arini.
__ADS_1
"Masuk," kata Arini dari dalam kamar.
Wulan pun membuka pintu kamar Arini. Tampak Arini sedang membereskan buku-buku ke dalam lemari.
Yusuf sudah tertidur pulas.
"Saya mau bicara serius sama ibu," kata Wulan takut-takut.
Arini mengerutkan keningnya dalam. "Ada apa?" tanyanya penasaran. Kalau di lihat dari ekspresi Wulan, sepertinya ini bukan berita yang bagus.
"Bisa kita bicara di luar, Bu?" kata Wulan dan di-angguki oleh Arini.
Sekarang di sinilah mereka berdua. Perpustakaan keluarga.
Tadi kata Wulan dia hendak bicara serius dan jangan ada yang mendengar. Oleh karena itu, Arini membawanya ke perpustakaan. Karena di sini aman.
"Sekarang sudah aman, Lan. Bicaralah!" kata Arini.
Mereka berdua duduk berhadapan di sebuah meja bundar yang dialasi dengan karpet bulu halus.
"Nona Jasmine di bully fisik, Bu. Wajah dan tangannya lebam ungu. Entah bagian tubuh yang lain seperti paha dan betis. Mungkin lebam juga."
Bagai di sambar petir. Arini lantas tersentak dan tak bisa berkata apa-apa.
"Nona Jasmine di lempari buku, sepatu dan makanan, Bu. Ini masalah serius. Bapak dan Ibu harus segera bertindak."
"Di kamar, Bu."
"Makasih, Lan. Saya keluar dulu," kata Arini dan di-angguki oleh Wulan.
Sesampainya Arini di kamar Jasmine, gadis cilik tersebut sedang duduk termenung di atas kasur sambil memeluk sebuah boneka katak.
Jasmine menoleh ke arah Arini yang muncul dari balik pintu. "Mama...," ujarnya.
Arini tersenyum pahit dan duduk di sini ranjang. Dia memeluk Jasmine erat. "Kenapa tidak bilang apa-apa sama Mama, Nak? Kenapa?" Arini menangis sedih.
"Maaf, Ma. Jasmine takut buat Mama sedih dan khawatir," lirihnya dalam pelukan sang ibu.
Arini melepaskan pelukannya dan melihat kondisi Jasmine. Dari bagian terbuka seperti wajah hingga bagian tertutup seperti paha dan sebagainya.
Hasilnya ditemukan lebam pada wajah, tangan kanan, paha dan perut.
"Kamu di pukul pakai apa, Nak?" tanya Arini dengan nada rendah dan menatap lekat-lekat ke arah putrinya.
"Yang wajah di lempar pakai buku, Ma. Ini kena ujung buku yang keras." Jasmine menunjuk wajahnya menggunakan tangan. "Terus juga dilempar pakai kue, tapi kan kue tidak sakit. Cuma kotor aja.
Terus kalau paha dan perut di lempar sepatu. Dan tangan ini Jasmine jatuh sendiri kena meja. Jasmine di bully karena kata Bunda Sinta, Papa bangkrut. Jadi kata teman-teman, Jasmine tidak layak lagi sekolah di sana."
Entah mendapat keberanian dari mana, Jasmine berhasil mengutarakan seluruh isi hatinya. Padahal sebelum ini, ia selalu takut jika masalahnya sampai kepada sang ibu.
__ADS_1
Arini memijit pelipisnya yang berdenyut. Kurang ajar sekali bocah-bocah itu.
"Kita ke dokter sekarang, ya?" Arini memegang pundak Jasmine dan menatap anaknya itu lekat-lekat.
"Ke dokter, Ma?"
"Iya. Kita periksa keadaan kamu. Mau, ya?!"
Jasmine mengangguk pelan. Sebenarnya ia tidak mau di bawa ke dokter. Tapi berhubung ibunya yang minta, ia tak berani menolak.
***
Sepulang dari dokter, Arini lalu mengompres lebam-lebam di badan Jasmani. Kata dokter tidak ada bagian tubuh yang cidera fatal.
Lebam-lebam tersebut hanya perlu di kompres saja.
Mutiara menggendong Yusuf sambil melihat Arini yang mengompres Jasmine. Ibu Leon tersebut tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya diam saja sambil menatap.
"Sakit, Nak?" tanya Arini.
Jasmine menggeleng.
Jasmine tidur di kasurnya. Sementara Arini duduk di sisi ranjang. Gadis cilik tersebut melirik takut ke arah sang Oma yang berdiri di depan pintu sambil menggendong Yusuf.
Mutiara yang tahu sedang di lirik Jasmine, balas melirik bocah cilik tersebut.
Sontak saja Jasmine jadi semakin takut dan melemparkan pandangan ke dinding.
"Oma... Au pipis," ujar Yusuf yang ada di gendongan Mutiara.
"Yusuf mau pipis, ya? Anak pintar. Ayo Oma antar."
Mutiara lalu membawa Yusuf ke kamar di dalam kamar Jasmine.
Dan tak lama setelah itu, cucu dan nenek tersebut sudah keluar dari dalam kamar mandi.
"Ngantuk, Ma," lirih Jasmine.
"Mau tidur?" tanya Arini.
Jasmine mengangguk.
"Ya sudah. Tidur yang nyenyak, ya?!" ujar Arini seraya menyudahi kompresannya.
Melihat Jasmine hendak tidur, Mutiara pun keluar dengan menggandeng tangan mungil Yusuf. Lalu di susul Arini.
Tinggallah Jasmine sendirian.
Sebenarnya Jasmine tidak benar-benar ngantuk. Ia hanya takut melihat Mutiara. Dan pura-pura tidur adalah cara ampuh untuk mengusir neneknya tersebut.
__ADS_1