Jodoh Istikharah

Jodoh Istikharah
JI 2 - Quality Time


__ADS_3

Arini, Leon dan Yusuf mengantar Mutiara ke Korea. Jasmine tidak ikut, karena balita tersebut sedang sekolah.


"Mama hati-hati, ya? Kalau sudah sampai, kabari Rini dan Leon," kata Arini saat melepaskan keberangkatan ibu mertuanya.


"Iya. Pasti Mama kabari kalian," jawab Mutiara. Ia lalu mencium pipi Yusuf, lalu setelah itu bergegas melakukan penerbangan.


"Kita sudah lama tidak quality time, loh." Leon berujar saat ibunya sudah hilang tersamarkan dengan penumpang lainnya.


"Kamu sibuk terus," ujar Arini sambil memajukan bibirnya lima sentimeter.


Melihat kelakuan istrinya itu, Leon hanya bisa geleng-geleng kepala sambil tersenyum lebar.


Leon mengakui, akhir-akhir ini memang dirinya sangat sibuk sekali. Sehingga tidak ada waktu untuk berdua dengan Arini ataupun bermain dengan anak-anaknya.


"Ke restoran, mau? Sudah lama kita tidak makan bersama," kata Leon sambil membenarkan letak Yusuf di gendongannya.


"Boleh. Restoran Nusantara saja, ya?"


"Oke."


Keduanya lalu bergegas menuju parkiran. Saat telah sampai di dekat mobil, Arini meminta kunci mobil tersebut kepada Leon. "Biar aku yang nyetir. Kamu gendong Yusuf saja," ujar Arini. Sepertinya Yusuf ingin tidur, pandangan matanya sudah sayu sekali. Kasihan kalau di pindah gendongan, takutnya batita tersebut malah terbangun dan tidak jadi tidur.


Leon menyerahkan kunci mobilnya pada Arini. Dulunya Arini memang malas sekali mengendarai mobil, dia lebih memilih menggunakan angkutan umum atau kendaraan daring. Tapi semenjak Jasmine mulai masuk sekolah, Arini jadi tidak malas lagi menyupir mobil.


"Aku sudah tanya Jasmine mengenai les melukis. Dia setuju," ujar Arini sambil memasang sabuk pengaman.


"Oh, ya?" Leon menyahut antusias. Dirinya akan senang jika Jasmine dapat menyalurkan bakat yang dimilikinya. "Nanti aku cari guru melukis yang hebat," lanjutnya.


Memang banyak pelukis yang tidak kaya. Akan tetapi itu tidak masalah bagi Leon. Toh pekerjaan dari melukis atau menggambar bisa banyak jenisnya. Bisa arsitektur, desainer interior, desainer grafis, fashion desainer, dan masih banyak lainnya. Tidak melulu harus melukis di kanvas.


Leon tidak tahu bakat melukis Jasmine turunan dari siapa. Mungkin Becca, atau Rania. Pasalnya Leon hidup dengan Becca tidak terlalu lama, jadi dirinya belum mengenal Becca dengan baik.


"Ternyata Yusuf benar-benar tidur," ujar Arini sambil menoleh ke arah Leon yang ada di sebelahnya. Saat ini sedang lampu merah, antriannya cukup panjang sekali, seperti ada kemacetan di depan sana.

__ADS_1


Leon menunduk, dia melihat Yusuf yang ada di dalam gendongannya. Benar kata Arini, anak laki-laki mereka tidur dengan pulas sekali.


"Ada apa sih di depan? Seperti ada kecelakaan saja," ucap Leon sambil melihat ke samping.


Tepat saat Leon menoleh, seorang pedagang asongan menawarkan kacang bawang kepada Leon. "Kacang, Mas! Seribuan saja!" teriak seorang laki-laki remaja dari luar mobil.


Leon yang merasa iba, membeli dagangan pria tersebut. "Dua, ya?" Kata Leon.


Penjual tersebut memberikan dua bungkus kacang bawang kepada Leon. "Ini, Mas. Cocok untuk teman macet. Di depan ada kecelakaan. Bapak ojek keserempet Fuso. Bapak ojeknya yang salah, sudah tahu lampu merah malah menerobos. Kan jadi keserempet. Untung tidak meninggal." Penjual tersebut berbicara sambil mengibaskan tangannya karena gerah.


Leon mengangguk-anggukkan kepalanya. Pantas saja macet, ada kecelakaan rupanya. "Ini, kembaliannya buat kamu, saja!" Leon berujar sambil memberikan uang dua puluh ribu kepada pedagang tersebut.


"Terimakasih, Mas. Murah rezekinya." Setelah mengucapkan terimalah, pedagang tersebut berlalu dan kembali menjajakan dagangannya.


"Kasihan banget Bapak ojeknya," gumam Arini sambil memutar musik pop melalui tape yang ada di mobil.


"Kasihan memang. Tapi dia salah. Yang lebih kasihan itu si supir Fuso." Leon berujar sambil memakan kacang yang baru saja dia beli.


Hari ini Leon sengaja libur. Dia ingin sejenak menghabiskan waktunya bersama Arini dan mengistirahatkan otaknya dari pekerjaan.


Arini mengganti musik di tape menjadi radio. Dan saat itu musik yang di putar oleh stasiun radio adalah milik Calina-- mantan istri Leon.


"Ini lagu Calina," ujar Arini sambil memandang lurus ke depan. Arini jadi ingat Calina, apa kabarnya sekarang biduan dangdut itu? Sudah lama mereka tidak bertemu. Terakhir kali Arini dan Calina berkomunikasi, dau bulan yang lalu melalui DM Instagram.


Leon diam saja, dia tak tau harus merespon seperti apa. Dia takut salah bicara dan membuat Arini sakit hati.


Arini mengikuti suara merdu Calina, dia ikut bernyanyi bersama Calina. Ya, meskipun suara Arini sumbang, tapi setidaknya dia memiliki kepercayaan diri yang tinggi.


Leon ingin menegur suara Arini, tapi ia tak sampai hati. Akhirnya ia hanya berpura-pura tidak dengar saja.


Setelah terjebak macet selama dua puluh menit, akhirnya mereka bisa bebas juga.


Saat ingin turun dari mobil menuju area dalam restoran, Yusuf terbangun. "Pal. Suf lapal," ujarnya sambil mengucek matanya menggunakan tangan.

__ADS_1


"Yusuf, lapar? Kita makan, ya?" ujar Leon sambil mengusap puncak kepala Yusuf dengan sayang.


"Kamu mau pesan apa?" Arini bertanya pada Leon sambil menyodorkan buku menu.


"Ayam geprek level lima dan nasi daun jeruk."


"Kalau aku mau ayam goreng dan kulit krispi. Nasinya biasa saja." Arini berujar sambil menulis pesanan di kertas.


Arini tidak memesan makanan pedas agar Yusuf bisa makan bersamanya.


"Au cama Mama." Yusuf merengek sambil mengulurkan tangannya untuk di gendong dengan Arini.


"Sini sama Mama, yuk!" Arini megambil alih Yusuf dari gendongan Leon. "Ups, anak pintar." Arini mencium pipi gembul Yusuf dengan gemas.


Leon memeriksa jam tangannya. Satu jam lagi Jasmine pulang sekolah. Semoga saja mereka tidak terjebak macet lagi.


Begitu pesanan mereka datang, mereka langsung menikmatinya. Karena ini di restoran, jadi Arini menyuapi Yusuf makan. Bisa jadi kapal pecah restoran ini jika Yusuf makan sendiri.


"Au ulit yam, Ma." Yusuf menolak saat Arini menyuapinya dengan ayam goreng.


Akhirnya Arini mengganti lauk ayam goreng menjadi kulit ayam krispi.


"Kamu kenapa? Dari tadi lihat jam terus?" Arini bertanya saat melihat Leon seperti tidak fokus makan.


"Sebentar lagi Jasmine pulang sekolah. Perjalanan dari sini ke sekolah lama."


"Minta tolong Bude Ani saja," ujar Arini sambil menyuapi Yusuf.


"Selama ini aku belum pernah menjemput Jasmine. Harusnya hari ini aku bisa menjemput dia pulang sekolah," ujar Leon frustasi. Leon memang belum pernah sekalipun menjemput Jasmine dari sekolah.  Biasanya ia hanya mengantar saja. Sekali ada waktu libur, ia malah lalai dan mencari tempat makan yang jauh dari sekolah Jasmine.


"Besok kamu libur lagi, saja. Atau kalau tidak, pulang sebentar untuk menjemput Jasmine, setelah itu berangkat kerja lagi."


Leon hanya mengangguk saja.

__ADS_1


__ADS_2