
Setelah kepergian Wulan, Ani sangat merasa kesepian sekali. Tidak ada lagi teman yang sudi mendengar ocehannya. Satu-satunya hiburan Ani adalah menonton Drama Korea. Kalau tidak ada Drama Korea, mungkin Ani bisa setres sendiri.
David tidak se-asyik Wulan, laki-laki itu tidak bisa diajak menggosip. Jika Ani sudah mulai bergosip, dengan cepat David akan mencari topik pembicaraan lain.
Beda dengan Wulan, meskipun ia tidak setuju dengan apa yang dilakukan Ani, tapi ia tak akan memotong ucapan Ani begitu saja. Apalagi mencari topik pembicaraan baru.
Saat ini Ani sedang menonton Drama Korea menggunakan ponselnya. Ia duduk sendirian di sofa ruang tamu sambil fokus menonton. Tiba-tiba saja David mengambil paksa ponsel itu. Membuat Ani menjerit kesal.
"David! Durhaka nanti kamu! Sini hp Bude!" Ani menadahkan tangannya, meminta ponselnya untuk dikembalikan. Ia menatap geram pada David yang hobi sekali menjahilinya.
David yang dasarnya usil, tak lantas mengembalikan ponsel Ani. Ia sedikit menjauh dari Ani sambil menonton Drama Korea yang sedang diputar di ponsel itu.
"David! Sini hp Bude! Kuota mahal, Vid! Jangan buat Bude emosi." Ani bicara dengan nada kesal. Ia masih duduk di sofa dan tak berniat mendekati David.
Setelah puas mengerjai Ani, David lalu mengembalikan ponsel Ani. "Maaf, Bude," ujarnya sambil cengar-cengir. "Habisnya Bude kalau lagi nonton sampai tidak dengar apa-apa. Dari tadi saya tanya, Bude diam saja," ujarnya.
Ani menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia meringis malu. "Kamu tanya apa?" tanya Ani dengan nada rendah.
"Mas Leon dan Mbak Arini kemana?" tanya David sambil menatap Ani.
"Ke kebun teh," jawab Ani. "Sama Yusuf dan Jasmine juga," lanjutnya lagi.
David menganggukkan kepalanya. Ia tidak tahu kemana perginya Leon dan Arini karena tadi saat keduanya pergi, ia masih di minimarket.
Ia ke minimarket untuk membeli alat cukur. Alat cukurnya tak sengaja tertinggal di Jakarta. Sehingga mau tak mau ia harus membeli yang baru. Karena kumis David itu harus dicukur setiap hari. Jika tidak dicukur satu hari saja, maka akan tumbuh dan itu sangat menggangu.
"Kalau gitu, saya mau jalan-jalan juga, deh. Bude tidak apa-apa kan kalau sendirian di sini?" tanya David.
__ADS_1
"Tidak apa-apa. Lagian ada Oppa Oppa ganteng yang menemani Bude," ujar Ani sambil senyum-senyum sendiri.
Melihat hal itu, David hanya bisa geleng-geleng kepala sendiri. Demam Drama Korea sepertinya tidak hanya menjangkit anak muda, tetapi orang tua bisa terjangkit juga.
Setelah berpamitan pada Ani, David lalu keluar dari villa. Ia tidak memiliki tujuan, sehingga ia hanya melangkahkan kakinya ke sembarang arah.
Dan akhirnya, ia memutuskan untuk duduk-duduk saja di sebuah batu besar sambil menikmati vape. Jika ada orang lain, ia tidak pernah menge-vape sama sekali, karena ia takut orang lain tidak nyaman dengan asapnya.
"Duduk di sini aja, ah. Siapa tahu ada gadis cantik yang lewat," ujarnya sambil terkekeh sendiri.
Tiba-tiba saja David ingat dengan Wulan yang akan melanjutkan pendidikannya. Ia ingin juga melanjutkan pendidikannya ke bangku yang lebih tinggi. Tapi ia hanya memiliki ijazah SMP.
Beberapa waktu lalu Leon menawarinya untuk mengambil ijazah paket C. Tapi dia menolak karena harus sekolah segala. Waktu itu ia menolak karena dirinya malas jika harus sekolah meskipun itu hanya lima hari dalam satu minggu.
Tapi setelah di pikir-pikir, keputusannya menolak adanya keputusan yang buruk. Sepulang dari sini nanti, ia akan kembali membahas ini dengan Leon. Semoga saja Leon tidak menertawakannya.
Sementara itu di lain tempat, Leon dan keluarganya sedang bersua foto di kebun teh milik warga sekitar. Mereka berfoto dengan cara selfie atau kadang bergantian yang menangkap gambarnya. Kadang Arini dan kadang juga Leon.
Sedangkan Arini, besok ia memiliki jadwal terbang. Sehingga mau tak mau mereka memang harus pulang. Karena besok mereka harus melakukan pekerjaannya masing-masing.
Setelah puas bersua foto, Yusuf meminjam ponsel ayahnya untuk memfoto beberapa ekor kupu-kupu warna-warni.
Sedangkan Jasmine, ia sedang fokus menggambar pemandangan di tablet. Ia tak membawa kanvas, sehingga dirinya hanya bisa menggambar di tablet saja.
Arini duduk di sebelah Jasmine yang sedang fokus menggambar. "Enak menggambar di kanvas atau di tablet, Nak?" tanyanya.
Jasmine mengangkat kepalanya dan menjawab sang ibu. "Enak di kanvas, Ma. Karena Jasmine sudah terbiasa di kanvas. Kalau di tablet ini lumayan susah, karena Jasmine tidak biasa," jawabnya.
__ADS_1
Jasmine memang anak yang sangat sopan, jika ia sedang berbicara dengan orang lain, pasti ia akan menatap lawan bicaranya.
"Kamu bisa melukis Mama, tidak?" tanya Arini.
Jasmine menggeleng pelan. "Jasmine spesialis pemandangan, Ma. Tidak bisa melukis manusia," ujarnya polos.
Arini mengangguk dan menyuruh anaknya itu untuk kembali melanjutkan aktivitasnya.
"Sayang, aku mau ke sana, ya?! Berdua dengan Yusuf. Yusuf mau memfoto pemandangan di sana," ujar Leon sambil menunjuk arah barat.
Arini mengangguk. "Hati-hati, ya?!" ujarnya.
"Iya, Sayang," jawab Leon yakin.
Leon dan Yusuf lalu berjalan ke arah barat. Mendadak Yusuf suka sekali dengan fotografi. Anak laki-laki Leon dan Arini itu tiba-tiba saja meminjam ponsel ayahnya untuk dipakai memfoto apa saja yang ia lihat.
Leon sebagai ayah tentunya sangat mendukung sekali apa yang menjadi minat sang anak. Kalau nantinya Yusuf tertarik dengan dunia fotografi, maka ia akan me-leskan fotografi pada orang yang ahli. Sama seperti yang ia lakukan pada Jasmine.
Setelah sampai, Yusuf langsung saja memfoto apa yang menurutnya menarik. Karena Yusuf masih kecil dan belum profesional, maka hasil fotonya belumlah bagus. Banyak yang blur.
"Mau Papa ajarin, Nak?" tanya Leon yang berdiri di sebelah Yusuf.
Yusuf mengangguk polos.
Leon lalu berdiri di belakang Yusuf. Ia mengajarkan bagaimana caranya memfoto. Mulai dari bagaimana caranya membingkai foto yang ingin kita ambil, sampai bagaimana caranya supaya tidak blur.
Ya, walaupun sebenarnya ia tidak bisa memfoto dengan bagus, tapi setidaknya ia bisa memfoto tanpa blur.
__ADS_1
Setelah mendapat ilmu dasar dari sang ayah, Yusuf lalu memfoto sendiri. Hasilnya lumayan. Tidak blur seperti tadi.
Matahari sudah semakin tinggi. Merekapun memutuskan untuk kembali ke villa dan beristirahat. Karena nanti sore mereka akan melakukan perjalanan pulang.