Jodoh Istikharah

Jodoh Istikharah
JI 2 - Lumpuh


__ADS_3

Sudah seminggu lebih penyakit Leon tak kunjung sembuh. Hari demi hari selalu Leon habiskan di dalam kamar saja. Karena kondisinya yang lumpuh, Leon tidak dapat melakukan aktivitas sebagaimana biasanya.


Sebagai orang yang aktif dan selalu bekerja keras, ketika sakit lumpuh seperti sekarang ini ia benar-benar setres. Biasanya kerja, sekarang hanya bisa terbaring lemah di atas kasur.


Saat ini Leon sedang tidur telentang sambil menatap lampu gantung yang ada di dalam kamarnya. Rasa-rasanya kini ia mulai kehilangan semangat hidup.


"Mengapa ujian datang bertubi-tubi padaku?" gumam Leon dengan tatapan sendu.


Saat ini Arini sedang pergi bekerja. Maka jika Leon ingin ke kamar mandi, laki-laki itu harus merangkak. Itupun lama sekali sampainya. Seperti siput.


Asisten rumah tangganya perempuan semua. Tidak mungkin perempuan mengantar Leon sampai ke kamar mandi, apalagi membantunya membersihkan diri. Sedangkankan kedua anaknya masih balita, belum bisa membantu seperti orang dewasa.


Tok tok tok


"Papa...," teriak Jasmine dari luar kamar. "Boleh masuk?" tanyanya.


"Boleh, Nak. Masuk aja!" sahut Leon dari dalam kamar.


Jasmine lalu membuka pintu kamar Leon. Gadis cilik tersebut tidak datang sendirian. Ia datang bersama Yusuf--- adiknya.


Tangan gadis cilik tersebut membawa sebuah gelas yang berisi jus semangka. Jasmine dan semua orang di rumah tersebut tahu, kalau Leon tidak berselera makan. Ayah Jasmine dan Yusuf itu hanya mau minum susu dan jus saja.


Sudah lima hari ini Leon tidak makan nasi sama sekali. Tubuhnya mulai kurus, ditambah lagi aura wajahnya yang kuyu, membuat ia seperti m*y*t hidup saja.


"Papa au jus?" tanya Yusuf sambil merangkak naik ke atas ranjang ayahnya.


Sedangkan Jasmine masih berdiri di depan ayahnya sambil memegang gelas jus. "Papa mau jus?" tanya Jasmine.


"Nanti, Nak. Papa masih kenyang," jawab Leon sambil tersenyum getir. Leon memang masih kenyang, karena belum lama ini ia baru menghabiskan segelas susu buatan ART-nya.


Jasmine lalu menaruh gelas jus tersebut di atas nakas samping tempat tidur ayahnya. Setelah itu, ia lalu naik ke atas ranjang ayahnya.


Jus untuk Leon tidak pernah memakai es, jadi jika tidak langsung di minum, tidak apa-apa.


"Kamu sudah pulang sekolah?" tanya Leon sambil menatap Jasmine.

__ADS_1


Jasmine mengangguk. "Sudah, Pa. Tadi di jemput Aunty Wulan," jawabnya.


Yusuf mengambil tangan kiri ayahnya, lalu memijat tangan tersebut dengan tangan kecilnya.


Jasmine pun lalu ikut juga memijat kaki ayahnya.


Kedua anak Leon tersebut sangat menyayangi Leon. Namun tetap saja, Leon masih saja kehilangan harapan hidup.


"Papa...," panggil Jasmine.


"Iya, Nak?!" jawab Leon pelan sambil menatap sendu ke arah anak perempuannya itu.


"Papa harus sembuh, ya?! Nanti kalau Papa sembuh, kita jalan-jalan keluarga," ujar Jasmine dengan mata yang berbinar-binar penuh semangat.


"Alan-alan walga," sahut Yusuf dengan suara cadelnya. Bocah laki-laki cilik tersebut suka sekali mengikuti kata-kata kakaknya.


Leon mengangguk pelan. Ia menyunggingkan sebuah senyum kecil.


"Mama kapan pulang, ya?!" gumam Jasmine. Tak jelas gumaman itu ia tujukan untuk siapa. Entah untuk dirinya sendiri, untuk adiknya atau untuk ayahnya.


Namun, Leon yang mendengar gumaman tersebut menjawab, "mungkin besok. Kenapa? Kangen Mama, ya?" tanya Leon.


Leon tak lantas menanggapi kata-kata Jasmine. Kata-kata anaknya itu mengingatkan sekali lagi kalau ia lumpuh. Benar-benar lumpuh.


"Kalian tidak tidur siang?" tanya Leon pada dua anaknya. Ia memilih mencari topik pembicaraan lain. Tidak mau menyambung soal kata-kata Jasmine tadi.


"Kamu ngantuk, tidak?" tanya Jasmine sambil menatap adiknya.


Dengan tampang polosnya Yusuf mengangguk.


"Kita tidur di bawah saja, yuk!" ajak Jasmine dan di-setujui oleh Yusuf.


Keduanya lalu pindah ke lantai yang dilapisi oleh karpet bulu halus. Seperti biasa, sebelum tidur, Yusuf ingin dibacakan dongeng.


Kali ini Jasmine yang kebagian membacakan dongeng untuk adiknya. Tapi karena Jasmine belum terlalu lancar membaca, gadis cilik Leon dan Arini tersebut terlihat menggemaskan sekali.

__ADS_1


Tanpa sadar Leon menyunggingkan sebuah senyum saat mendengar Jasmine terbata-bata dalam mengeja kalimat.


Untunglah Yusuf tidak protes dengan bacaan kakaknya yang belum lancar itu. Bocah laki-laki cilik itu hanya tidur dengan manis sambil memeluk sebuah boneka kucing berukuran cukup besar.


***


"Nasibnya Bapak kok buruk sekali ya, Lan?" ujar Ani sambil mengiris wortel. Dua asisten rumah tangga Arini dan Leon tersebut sedang ingin membuat sup ayam.


"Konon katanya, kalau orang mendapatkan cobaan, itu tandanya dia disayang Allah, Bude," sahut Wulan sambil menghaluskan bumbu menggunakan blender.


"Iya, tapi ini cobaannya terlalu ekstrim, Lan! Apa jangan-jangan ini karma karena dulu Bapak pernah menyakiti Bu Arini?"


"Hus, Bude! Jangan ngomong sembarangan, ah!" sergah Wulan sambil menatap Ani dengan horor. Kalau pembicaraan ini di dengar oleh tuan rumah bagaimana? Pasalnya Jasmine itu pintar, loh. Gadis cilik tersebut otaknya cerdas. Dia tahu pembicaraan orang dewasa.


Ani meringis sambil mencuci wortel yang sudah ia potong-potong. "Habisnya, Bude ini kebiasaan. Dulu waktu masih ada Mbak Retno, bicara Bude sering ceplas-ceplos."


Wulan menggelengkan kepalanya takjub. Ingatkan Wulan, supaya saat nanti dirinya sudah menjadi ibu, jangan sampai dia menjadi ibu-ibu tukang gibah.


Setelah bumbu dan semua bahan siap, Wulan lalu memasak sup tersebut. Aroma gurih menguar di ruang dapur. Membuat perut yang menciumnya menjadi lapar.


"Sudah lima hari Bapak tidak makan nasi, apa tidak lapar, ya?" ujar Ani seraya mencuci blender.


"Namanya juga lagi sakit, Bude. Wulan juga waktu kemarin sakit gigi, tidak selera makan, kok. Setiap hari cuma minum susu dan jus saja."


"Pasti kenyangnya beda. La wong air dibandingkan sama nasi. Jelas jauh bedanya, Lan."


"Namanya juga lagi sakit, Bude. Mana ada selera makan. Memangnya waktu Bude sakit, ada selera makan?" tanya Wulan sambil menambahkan bumbu penyedap ke dalam sup.


"Selera-selera saja. Malahan ni, ya! Bude saat sakit kepinginnya makan yang aneh-aneh," jawab Wulan sambil mencuci tangannya di wastafel.


Wulan menggeleng takjub. Ani ini memang ajaib. Ada-ada saja banyolannya yang bisa membuat Wulan terheran-heran.


"Bude mau cicip, Lan." Ani mengambilnya sebuah mangkuk kecil. Kemudian rekan kerja Wulan tersebut menyodorkan mangkuk tersebut di hadapan Wulan.


Dengan sigap Wulan menuangkan sedikit sup ke mangkuk Ani.

__ADS_1


Ani menyendok sup-nya sambil meniup-niup pelan. "Pas, Lan. Cuma kurang empuk saja," ujar Ani saat ia telah mencicipi sup tersebut.


"Oke, Bude," jawab Wulan.


__ADS_2