Jodoh Istikharah

Jodoh Istikharah
Bayi Perempuan


__ADS_3

Becca menatap wajah bayi perempuannya yang masih merah. Ia ingin sekali menangis mengingat semuanya. Rasanya sakit melahirkan Becca rasakan sendiri. Tidak ada suami yang menyemangati disisinya.


Entah mengapa Becca masih sering labil. Terkadang ia mengatakan tidak akan marah pada Leon, tetapi nyatanya malah marah.


Perkiraan dokter memang tiga minggu lagi ia akan melahirkan, namun Tuhan berkata lain. Nyatanya ia malah melahirkan hari ini. Pukul 2 dini hari tadi bayi perempuan Becca lahir dengan cara persalinan normal.


Sekarang jam sepuluh pagi. Rania sedang pulang sebentar untuk mengambil pakaian ganti. Becca hanya sendirian saja di rumah sakit.


Sejak kemarin Becca membuat ponselnya menjadi mode pesawat. Dan ia baru membuka mode pesawat tersebut detik ini. Banyak pesan masuk dari Leon.


Leon


Honey, Diana melahirkan. Tapi anaknya meninggalkan saat masih didalam perut.


Sekarang aku sedang sibuk mengurusi pemakaman sang bayi.


Maaf belum bisa pulang.


Oh, iya. Bagaimana kabar anak kita?


Becca tidak membalas pesan dari Leon. Ia memilih kembali membuat ponselnya dalam mode pesawat agar tidak bisa dihubungi oleh Leon.


Entah mengapa Becca merasa sedih saat mendengar kabar bahwa anak yang dikandung Diana meninggal didalam perut. Sebagai seorang perempuan, Becca dapat merasakan kesedihan kehilangan sang jabang bayi.


Sekali lagi Becca menatap lekat-lekat ke arah bayinya yang sedang menyusu di dekapannya. Ia merasa sangat bersyukur sekali diberikan kepercayaan oleh Tuhan untuk menjaga bayinya.


Bayi merah tersebut Becca beri nama  "Jasmine". Sejak hamil, Becca senang sekali menghirup aroma teh jasmine. Uniknya, ia hanya menghirup aromanya saja dan tidak mengkonsumsinya.


Karena memang Becca tidak pandai memberi nama anak, hanya Jasmine saja yang ada di pikirannya. Mungkin supaya lebih panjang akan ditambah menjadi Putri Jasmine. Tapi itu belum final. Ia masih akan mempertimbangkannya lagi.


***


Leon sedang sibuk mengurusi pemakaman putrinya. Sekarang Leon tidak lagi mengelak, karena anak tersebut memang benar-benar mirip dirinya. Artinya, itu memang anaknya. Bukan anak laki-laki lain.

__ADS_1


Ayah dan ibu mertuanya sedang melakukan perjalanan bisnis keluar negeri. Diana masih di ruang ICU karena kondisi perempuan tersebut menurun setelah melahirkan bayi yang sudah meninggal.


Selesai memakamkan putrinya yang ia beri nama Leona Bramandjaya. Leon tidak langsung pulang. Ia menatap tanah gundukan tersebut sambil melamun. Tanpa sadar air matanya menetes.


"Leona... Maafkan Papa yang brengsek ini, ya, Nak. Harusnya Papa sering disamping kamu. Bukan malah menjauhi kamu dan Mama kamu," lirih Leon. Ia menghapus air matanya yang mengalir menggunakan punggung tangan. Perasaan bersalah menyelimuti hatinya. Leon teringat bagaimana selama ini ia berlalu tidak adil pada Diana dan Leona yang saat itu masih berada didalam perut.


Kemarin Diana dan Leon tidak sengaja bertemu di parkiran sebuah mall. Saat itu Leon sedang membelikan kebutuhan dapur untuk Calina yang sedang tidak ingin keluar dari pertapaannya.


"Leon!" panggil Diana sambil berlari kecil mendekati Leon yang hendak masuk ke dalam mobil.


Leon menoleh dan menatap Diana bingung. "Ada apa? Belum saatnya aku pulang ke rumahmu," ucapnya sambil membuka pintu mobil dan memasukkan barang belanjaan kedalamnya.


Diana baru saja pulang dari kafe Becca dan ia hendak shopping ke mall. Tapi ia mengurungkan niatnya saat bertemu dengan Leon. Baru saja ia akan mengancam Leon, perutnya terasa sakit dan ada cairan putih mengalir di kakinya. Sontak saja hal tersebut membuat Leon panik dan langsung membawa Diana ke rumah sakit.


Bunyi ponsel yang ada di saku celana menyadarkan Leon dari lamunannya.


Arini


Maaf, Leon. Aku tidak bisa hadir di pemakaman. Sebentar lagi aku akan melakukan penerbangan.


Selang beberapa detik masuk lagi chat dari sang ibu mertua.


Mama Rania


Becca sudah melahirkan anak perempuan yang cantik dan sehat.


Tapi dia tidak mau kau tahu kabar gembira ini.


Mama terpaksa mengabarimu supaya kau tahu kalau anakmu sudah lahir. Mama harap kau bisa adil terhadap istri-istrimu.


Leon langsung lemas seketika. Tanpa sadar ia ambruk di pusara sang anak.


Ia merutuki betapa bodohnya ia yang tidak mengetahui kalau anaknya yang lain sudah lahir. Suami macam apa dirinya ini yang tidak ada disamping istrinya saat sang istri melahirkan.

__ADS_1


Leon menjambak rambutnya frustrasi. Saat seperti sekarang ini, ingin rasanya ia menceraikan semua istrinya.


"Apa aku ceraikan saja semuanya supaya aku tidak menjadi gila?" gumam Leon sambil membersihkan wajahnya yang kotor akibat terkena tanah.


"Ah, gila!" Leon menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Ia lalu berjalan lunglai menuju mobilnya.


Sekarang tujuannya adalah pulang ke rumah orang tuanya lalu mandi. Setelah itu menjenguk Becca lalu kemudian menjenguk Diana.


Kondisi Diana saat Leon tinggalkan tadi sedang memprihatinkan. Semoga saja kondisi Diana lekas pulih sehingga Leon tidak semakin pusing dan merasa bersalah.


***


Becca memandang Leon dengan tatapan datar. Leon tengah menggendong Jasmine sambil berdendang tidak jelas. Ekspresi bahagia terpancar jelas di wajah Leon.


"Kamu cantik, mirip Mama kamu," ucap Leon sambil mencium pipi Jasmine dengan gemas. Entah dapat keberanian dari mana Leon berani menggendong bayi merah tersebut.


Jujur saja Becca senang saat melihat Leon bahagia akan kelahiran Jasmine. Tapi tetap saja. Becca masih marah karena Leon yang tidak ada disampingnya saat proses melahirkan. Itu sangat menyakitkan bagi Becca.


"Aku minta maaf tidak ada di disampingmu saat kamu sedang berjuang melahirkan anak kita," Lirih Leon sambil duduk di sisi tempat tidur Becca.


Becca diam saja tidak menjawab apa-apa. Sekali lagi. Ia masih marah.


Leon tahu Becca marah padanya. Dan ia sebagai laki-laki yang tidak bisa menghibur perempuan yang sedang marah, hanya bisa pasrah saja.


Becca masih di rumah sakit. Rumah sakit Becca dan Diana jaraknya cukup jauh. Hari sudah menjelang sore. Leon teringat akan Diana yang sedang kritis. Tapi Leon bingung hendak izin kepada Becca seperti apa. Salah-salah malah membuat Becca semakin marah.


"Honey, aku tidak bisa lama-lama disini. Diana sedang kritis," gumam Leon nyaris tanpa suara. Saat berkata demikian Leon menunduk, tidak berani menatap Becca.


"Pergilah!"


Suara Becca terdengar sangat dingin, membuat Leon semakin tidak enak hati. Namun demikian Leon tetap pergi menemui Diana. Biar bagaimanapun Diana adalah istrinya.


Lebih kurang satu jam lamanya diperjalanan, Leon sampai di rumah sakit yang merawat Diana.

__ADS_1


Kondisi Diana masih sangat buruk. Ia masih belum sadar dan masih berada di ruang ICU. Ada banyak selang yang Leon tidak faham fungsinya menghiasi tubuh Diana.


Sangat kasihan sekali kondisi Diana. Dalam hati Leon tak henti berdo'a agar Diana cepat sadar dan kondisinya lekas membaik.


__ADS_2