Jodoh Istikharah

Jodoh Istikharah
Perihal Diana


__ADS_3

"Makan siang bersama, yuk!" ajak Leon. Ia sengaja mendatangi ruang kerja Becca saat jam istirahat sudah tiba.


"Sebentar. Aku masih ada pekerjaan," sahut Becca sambil terus fokus mengetik di layar komputer. "Aku berniat berhenti dari sini. Diana mengancamku akan menyebarkan aib kalian berdua jika aku macam-macam dengannya. Kau tahu sendirilah macam-macam menurut Diana seperti apa. Perusahaan ini milik paman Diana, aku malas berhubungan dengan Diana lagi." Becca berbicara sambil terus fokus mengetik.


"Diana mengancammu seperti itu?" tanya Leon cemas. Ia khawatir Becca dan kandungnya akan terkena dampak dari Diana.


Becca hanya mengangguk sambil membereskan berkas-berkas yang ada di atas mejanya.


"Besok kita berhenti sama-sama kalau seperti itu. Aku juga berniat berhenti dan ingin fokus pada peternakan sapi," ucap Leon sambil memperhatikan Becca yang masih berberes.


"Baik. Aku setuju. Aku ingin membantu Mama di kafe saja," jawab Becca. Sebelumnya ia memang sudah sempat membicarakan hal tersebut kepada ibunya.


Terang saja ibunya menyambut setuju. Becca sebagai anak semata wayang tentu saja menjadi pewaris kafe milik Rania. Kebetulan sekali Rania baru membuka cabang baru seminggu yang lalu. Ia butuh bantuan untuk mengelola kafe miliknya.


Setelah selesai berberes, keduanya jalan bersama menuju kantin kantor.


"Mau makan apa?" tanya Leon.


"Seperti biasa saja," sahut Becca.


Menu biasa yang dimaksud Becca adalah nasi goreng dan jus mangga serta air mineral.


Leon langsung memesan menu tersebut dan tak lama pesanan merekapun sampai.


"Bagaimana kabar Mbak Arini?" tanya Becca sambil tersenyum manis. Bibirnya memang tersenyum, tapi dalam hatinya ia menangis cemburu. Becca memang sering labil dalam hal perasaan.


"Dia baik," sahut Leon.


"Syukurlah. Aku senang mendengarnya."


Mereka menikmati makan siang dengan sedikit perbincangan. Becca yang moddy memang sulit ditebak.


"Kapan akan periksa kandungan?" tanya Leon saat mereka telah selesai santap siang.


"Dua hari lagi," jawab Becca setelah ia melumasi tenggorokannya dengan air mineral.

__ADS_1


Leon mengangguk beberapa kali. "Kebetulan besok jadwalnya aku bersamamu. Jadi aku bisa menemaniku periksa kandungan."


Becca tidak menjawab apa-apa.ia memilih menyeruput jusnya yang masih penuh.


***


Leon sangat canggung berada di tengah ayah mertua dan adik iparnya. Pasalnya, kedua laki-laki tersebut sejak tadi mendiamkannya.


Wajar jika seorang ayah tidak terima jika anak perempuannya disakiti oleh suaminya. Wajar juga jika seorang adik merasa marah kepada kakak iparnya yang melakukan poligami.


"Sayang..." Leon memanggil Arini yang sedang berenang.


"Ada apa?" jawab Arini sambil menepi.


Leon duduk di pinggir kolam sambil melihat sekeliling. Tempat tersebut masih sama seperti sejak terakhir kali ia datangi.


Ayah Arini adalah seorang duda dan hanya tinggal bersama anak bungsunya. Ada sepasang suami istri yang bekerja sebagai asisten rumah tangga dan menginap di rumah mewah ini.


"Hei... Malah ngelamun." Arini melambai-lambaikan tangannya di depan Leon.


Arini menyipratkan air ke wajah Leon. "Papa dan Aldi kemana?" tanya Arini.


"Ada di dalam." Leon menunjuk ke dalam rumah menggunakan wajahnya.


"Kalau takut dingin mending nongkrong sama Papa dan Aldi saja. Dari pada bengong sendirian." Setelah mengatakan itu Arini lalu melanjutkan kembali berenang.


Leon hanya duduk saja sambil menatap Arini yang berenang. Bagaimana mungkin ia ikut bersama ayah mertua dan adik iparnya. Mereka berdua tidak mau bicara dengan Leon.


Sedari tadi saat Arini berenang, Leon sudah mengajak mereka mengobrol. Namun Hamdani dan Aldi lebih memilih diam dan tidak menanggapi Leon. Karena merasa tidak nyaman didiamkan sendiri, Leon memilih bergabung bersama Arini.


"Sudah dulu berenangnya, Sayang! Jangan terlalu lama berenang malam. Tidak bagus untuk kesehatan," teriak Leon saat melihat Arini masih asik berenang.


Karena pagi sampai sorenya Leon bekerja. Alhasil mereka baru bisa ke rumah Hamdani pukul delapan malam.


Arini yang sudah lama tidak berenang, langsung menuju kolam renang setelah sampai di rumah ayahnya.

__ADS_1


Arini keluar dari kolam renang sambil menggigil kedinginan. Leon hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah absurd istrinya itu.


"Dingin?"


"Tidak!" jawab Arini sambil berjalan pelan menuju kamar mandi untuk berganti pakaian.


Tak berapa lama Arini sudah keluar dengan menggunakan pakaian kering. Mereka pun sama-sama berjalan menuju kamar yang ada di lantai dua.


"Besok aku dan Becca akan berhenti dari perusahaan. Aku ingin fokus mengembangkan usahaku. Sementara Becca ingin membantu kafe Mamanya," beritahu Leon saat mereka sudah berada di dalam kamar.


"Aku mendukung kalau memang itu keputusanmu," jawab Arini sambil mengeringkan rambutnya menggunakan alat pengering rambut.


"Ya ampun. Jarimu sampai keriput," desis Leon saat tanpa sengaja melihat jari Arini yang mengeriput karena kedinginan.


"Tidak butuh waktu lama pasti akan kembali normal lagi," sahut Arini santai. "Oh, iya. Apa yang membuat kalian ingin berhenti secara mendadak? Apa ada masalah di kantor?"


"Masalahnya lebih ke Diana. Dia mengancam Becca akan menyebarkan aibku kalau sampai Becca macam-macam. Oleh karena itu Becca malas berhubungan dengan apapun yang berbau Diana. Termasuk bekerja di perusahaan paman Diana."


Bicara soal Diana, Arini jadi memikirkan bagaimana bisa Leon melakukan hubungan suami istri di luar nikah hingga Diana hamil. Apakah Leon lupa kalau hubungan tersebut dosa?


Sebenarnya untuk apa lagi Leon mencari kesenangan dengan perempuan lain. Toh sebelum menikah dengan Diana, Leon sudah memiliki empat orang istri.


"Apa yang akan Diana lakukan?" tanya Arini. Ia membaringkan tubuhnya di atas kasur king size yang nyaman.


"Menyebarkan berita kalau aku sudah menghamilinya diluar nikah," gumam Leon sambil menunduk. Jujur saja ia malu mengatakan hal tersebut di depan Arini. Suami macam apa dirinya ini yang telah menghamili perempuan selain istrinya. Sungguh memalukan.


Arini menenangkan dirinya sendiri dengan banyak-banyak istighfar. Jangan sampai amarah menguasainya. Walau ia kecewa dengan Leon. Tapi ia tidak ingin marah-marah.


"Itu semua terjadi atas pilihanmu sendiri. Biar bagaimanapun Diana sekarang sudah menjadi istri sahmu. Kau harus memperlakukannya dengan baik jika tidak ingin berdosa."


Leon memainkan boneka sponge bob milik Arini. Entah mengapa jika membahas perihal Diana, Leon menjadi sangat malu sendiri. Ia malu pada dirinya sendiri yang telah melakukan perbuatan terlarang pada perempuan yang bukan istrinya.


"Aku tidak bermaksud mengguruimu. Aku hanya mengingatkanmu saja. Kuharap kau tidak tersinggung," ucap Arini hati-hati.


"Aku tidak tersinggung sama sekali. Justru aku senang kau seperti ini. Aku merasa diperhatikan," sahut Leon sambil menatap Arini dengan serius.

__ADS_1


Ya, Leon sangat menyukai Arini yang seperti ini daripada Arini yang dingin dan cuek beberapa waktu yang lalu.


__ADS_2