
Leon emosional memandang dua tumpuk berkas yang ada di atas mejanya. Saat ini pikirannya sedang kalut.
Baru Leon tahu, ternyata rekan bisnisnya menghianati dirinya. Memang Leon tidak sendirian dalam menjalankan usaha ini. Untuk sampai pada titik saat ini, Leon mendapatkan sokongan dana dari rekannya.
Karena kalau berjalan sendiri, Leon tidak mampu. Gajinya dulu sebagai karyawan tidak banyak yang dapat di tabung. Sehingga ia memutuskan untuk meminta bantuan rekannya dalam hal modal finansial.
Namun mau di kata apa, sekarang Leon berada dalam titik kehancuran. Rekannya menghianati perjanjian mereka. Diam-diam rekannya tersebut mengambil uang perusahaan untuk keperluan pribadinya. Dan uang yang ia ambil tidak sedikit. Termasuk uang untuk gaji karyawan juga di ambilnya. Alhasil sekarang Leon pusing bukan main, pakai apa ia akan membayar karyawan-karyawannya?
"Bang*at!" Leon mengumpat sambil meninju meja. Membuat benda yang ada di atasnya bergoyang.
Pintu ruangannya di ketuk dari luar, membuat Leon menoleh ke arah pintu. "Masuk!" teriaknya dari dalam ruangan.
Setelah pintu di buka, muncullah Arini sambil menenteng satu buah rantang yang berisi makan siang untuk Leon.
"Hai..." Arini menyapa lalu duduk di depan Leon. Ia menaruh rantang yang ia bawa di atas meja. "Banyak sekali kerjaan kamu. Ini semua pekerjaan untuk hari ini?" tanya Arini sambil menatap dua buah tumpukan kertas-kertas di atas meja suaminya.
Leon mengangguk sambil tersenyum. Arini adalah mood booster-nya. Padahal tadi ia sedang marah-marah, ketika melihat Arini, marahnya langsung reda. "Kamu masak sendiri?" tanya Leon.
"Iya. Aku bawa soto ayam," jawab Arini. "Kamu makan, gih! Sudah saatnya makan siang, ini."
Sebenarnya Leon sedang tidak berselera makan karena banyaknya pikiran. Akan tetapi karena Arini sudah susah payah memasak untuknya, akhirnya Leon pun memutuskan untuk makan siang.
"Kamu sekalian, tidak?" tanya Leon.
"Aku sudah makan di rumah. Sekarang masih kenyang," jawab Arini.
Leon pun tidak memaksa Arini untuk makan lagi, ia akhirnya makan sendiri saja.
"Anak-anak tidak kamu ajak?" tanya Leon disela-sela kunyahannya.
"Di telan dulu, Leon! Baru berbicara," ujar Arini.
Saat di tegur Arini, Leon hanya meringis sambil garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Ia memang sering kebiasaan makan sambil bicara. Dan Arini selalu tidak bosan untuk menegur suaminya itu.
"Yusuf sedang tidur. Jasmine sedang asik melukis dengan Wulan," jawab Arini. Jasmine memang suka melukis dan mewarnai.
__ADS_1
Arini baru tahu, ternyata Wulan berbakat sekali dalam melukis. Terutama melukis manga.
"Sepertinya Jasmine berbakat jadi pelukis profesional. Mengapa kita tidak mendaftarkannya untuk kursus melukis?" kata Leon setelah kunyahan di mulutnya tertelan.
"Ide bagus. Nanti kita tanyakan Jasmine secara langsung. Apakah dia setuju atau tidak. Kalau dia tidak setuju, kita bisa apa?"
"Ngomong-ngomong, ini enak," ujar Leon sambil menunjuk makannya.
"Oh, ya? Kamu suka?"
"Suka?"
"Syukurlah."
"Tapi kalau boleh request, bisa di tambah sambalnya sekalian," kata Leon sambil meringis. Ia kurang suka makan jika tidak pedas.
"Hehe... Maaf. Aku lupa bawa. Sebenarnya tadi sudah aku siapkan, tinggal di bawa saja. Tapi malah ketinggalan," ucap Arini dengan rasa bersalah. Ia tahu Leon suka sambal, tapi kok bisa-bisanya ia lupa membawa sambal untuk makan siang suaminya ini.
"Tidak apa-apa, kok. Begini saja sudah enak," ucap Leon.
***
Tiba-tiba Leon terpikirkan akan gaji karyawannya untuk tiga hari lagi. "Mampus ini. Mampus!"
Leon menjambak-jambak rambutnya frustasi. Ia bingung sekali. Mau berhutang di bank tidak mungkin. Mau pakai apa ia membayarnya nanti?
Sementara itu ia juga masih memiliki tanggungan di bank. Ya, rumah baru yang sekarang ia dan keluarganya tempati separo uangnya ia dapatkan dari berhutang di bank.
Kalau ia harus berhutang lagi untuk membayar gaji karyawan, ia takut tidak dapat membayarnya nanti. Apalagi bisnisnya sedang kembang kempis seperti ini.
Semenjak Reza melakukan korupsi, keuangan perusahaan menjadi tidak sehat.
"Aku harus bagaimana?" Leon teriak tertahan sambil menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. Ia pusing sekali memikirkan ini.
Leon juga bimbang, apakah Arini harus tahu hal ini sekarang? Tapi dalam hati kecil Leon tidak ingin membebani Arini dengan pikiran apapun. Sudah cukup dulu ia menyakiti Arini, sekarang ia tidak mau lagi membuat Arini banyak pikiran.
__ADS_1
***
"Bu Arini, mau tidak ikut arisan komplek?" tanya Yuna. Saat ini Yuna sedang bertandang ke rumah Arini. Keduanya duduk di kursi teras rumah Arini. "Acaranya sebulan sekali. Setiap hari Minggu. Bulan depan sudah mulai undian dari awal lagi," lanjutnya.
Arini tampak berpikir sejenak. Jadwal kerjanya tidak sama seperti orang lain. "Saya pikir-pikir dulu, ya, Bu Yuna. Soalnya Minggu pun saya sering kerja. Tapi ngomong-ngomong jangan panggil saya Bu. Panggil Arini saja," kata Arini sambil tertawa kecil.
Yuna menepuk paha Arini pelan. "Kalau begitu panggil saya Yuna saja. Jangan Bu. Toh kita ini kan seumuran. Lagian kita juga belum tua, kan?" kata Yuna sambil tertawa kecil juga.
"Baiklah kalau begitu. Yuna."
"Arini."
Keduanya lalu tertawa bersama. Entah apa yang mereka tertawakan. Tidak jelas.
"Ngomong-ngomong Mas Leon-nya kemana?" tanya Yuna sambil menatap Arini. Dalam hati Yuna, ini adalah kesempatan untuk dirinya mendapat informasi yang akurat. Ia masih penasaran tentang pekerjaan Leon.
"Sedang di jalan," jawab Arini.
"Mau ke mana?" tanya Yuna kepo. Siapa tahu Leon sedang di jalan untuk mencari istri muda. Itu bisa jadi bahan gosipnya nanti.
"Ke rumah. Dari pulang kerja," jawab Arini ramah. Ia sama sekali tidak sadar kalau Yuna sedang mengorek informasi dari dirinya.
"Mas Leon itu kerja apa, Rin? Em... Maksud aku, siapa tahu kerjaannya sejenis dengan suamiku, jadi bisa partner gitu." Yuna memang pandai sekali mengeles. Tahu dirinya salah bicara, ia langsung mencari alasan supaya tidak terlihat salah.
"Ternak sapi," jawab Arini singkat.
"O..." Yuna mengangguk beberapa kali. Dalam hati Yuna berpikir, peternakan semacam apa itu? Kok bisa cukup untuk membiayai banyak istri.
"Mama... Jess ngambil mainan Rara! Ngambilnya maksa. Tangan Rara sampai lecet." Anak Yuna berteriak dari depan rumahnya sambil menangis tersedu-sedu. Kedua bocah tersebut kakak adik, hanya beda sebelas bulan saja. Jess adalah kakak, sedangkan Rara adalah adiknya.
"Aku pulang dulu, ya, Rin. Nanti kalau mau gabung, kabari aku," kata Yuna sebelum ia pulang.
"Iya. Nanti aku kabari kamu," jawab Arini.
Setelah Yuna pulang ke rumahnya, Arini langsung masuk ke dalam rumah.
__ADS_1