
Arini memutuskan untuk menyewa jasa perawat untuk merawat Leon. Pasalnya Arini tak tega membayangkan suaminya merangsang di ubin kamar mandi yang dingin.
Arini tidak bisa selalu di samping Leon. Dia harus bekerja. Maka, saat dia tak ada di sisi Leon, harus ada seorang perawat yang bisa merawat suaminya itu.
Setelah menghubungi sebuah yayasan penyalur tenaga kerja, akhirnya Arini menemukan seorang pemuda laki-laki bernama David.
David sendiri adalah seorang anak yatim-piatu yang hanya memiliki ijazah SMP. Untuk bisa bertahan hidup, pemuda berusia dua puluh tahun itu harus bekerja apa saja.
David anak tunggal. Ayahnya meninggal saat ia berusia delapan tahun. Sementara ibunya meninggal satu tahun yang lalu.
Orang tua David bukanlah orang berada. Sehingga tidak ada harta yang ditinggalkan untuk David. Barang rumah pun tidak ada.
Karena tidak memiliki rumah, jadi sekarang ini David membawa semua harta bendanya ke rumah Arini. Tapi jangan salah paham dulu. Harta benda yang dimaksud di sini hanya pakaian saja. Tidak ada barang mewah seperti emas ataupun permata.
Sebelumnya David bekerja sebagai buruh di sebuah perusahaan swasta dan tinggal di mes perusahaan.
Sekarang ini David sedang berada di dalam kamar Leon dan Arini. Ia baru saja sampai di rumah ini.
"Oke David, selamat datang di rumah kami. Saya Arini, ini Leon--- suami saya. Dan ini anak-anak kami. Jasmine dan Yusuf." Arini memperkenalkan David dengan anggota keluarganya.
David mengangguk paham sambil tersenyum.
"Kamu boleh panggil kami Mbak dan Mas saja," terang Arini lagi. "Sudah tahu kan tugas kamu? Merawat Bapak, terutama saat saya sedang kerja," lanjutnya.
Lagi-lagi David hanya mengangguk paham sambil tersenyum.
Dan soal pekerjaan dirinya nanti, ia sudah membacanya baik-baik. Karena deskripsi pekerjaan tersebut sudah ada di kontrak perjanjian kerja sama. David sendiri di kontrak selama satu tahun.
"Mari saya antar ke kamar kamu." Arini mengantarkan David ke kamar di lantai dasar.
Bukan apa-apa, Arini hanya ingin menghindari hal-hal yang tidak diinginkan saja. Kamar Ani dan Wulan ada di lantai dua. Sedangkan kamar Leon, Arini dan anak-anaknya ada di lantai tiga.
Wulan dan David masih sama-sama muda. Oleh karena itu, untuk mengindari hal-hal yang tidak diinginkan, Arini memisahkan kamar David dari yang lainnya.
Dan sekarang di sinilah David. Kamar di lantai bawah. Kamar tersebut cukup luas, dengan kamar mandi ada di dalamnya.
Sebenarnya itu adalah kamar tamu. Tapi tidak apa-apalah jika digunakan untuk kamar perawat.
Karena jarak kamar Leon dan David sangat jauh, oleh karena itu jika keduanya ingin berkomunikasi, mereka bisa menggunakan walkie talki atau telepon kabel yang terpasang di masing-masing kamar.
__ADS_1
"Saya tinggal ke atas dulu, ya?!" kata Arini. "Kalau butuh apa-apa, bilang saja sama Bude Ani atau Wulan," lanjutnya.
David kembali mengangguk paham. Kalau dengan Ani dan Wulan, ia sudah berkenalan. Tadi saat pertama kali datang, ia di sambut oleh dua orang itu.
***
Mendadak Arini harus keluar rumah. Hamdani meriang setelah pulang dari mendaki. Perempuan tersebut membawa dua anaknya beserta Ani ke rumah Hamdani.
Tinggallah Wulan, David dan Leon saja di rumah tersebut.
David hendak membawa Leon untuk jalan-jalan keliling komplek menggunakan kursi roda. Sebelum pergi, ia berpamitan dulu pada Wulan.
"Aku sama Mas Leon mau jalan-jalan dulu, Lan," ujarnya.
Wulan yang sedang menyiram bunga di taman, mengangguk. "Iya," sahutnya.
Setelah berpamitan pada Wulan, David mendorong kursi roda Leon menuju jalan komplek.
"Mas Leon mau sesuatu yang seru, tidak?" tanya David.
"Terserah kamu saja," jawab Leon tidak semangat sama sekali.
Kursi roda tersebut meluncur di turunan yang lumayan terjal. Pemuda itu sendiri ikut nangkring di kursi roda tersebut.
"Ahahaha... Bagaimana rasanya, Mas? Seru, tidak?" teriak David sambil menikmati aksinya itu.
Leon yang tadinya tidak semangat, memejamkan matanya karena takut. "Kamu gila, David!" umpat Leon. Tapi umpatan tersebut bukan berarti marah, karena Leon mengiringinya dengan tertawa.
"Seru kan, Mas?" tanya David saat mereka sudah sampai di bawah. Laki-laki itu lalu mendorong kursi roda Leon untuk naik sedikit tanjakan.
"Seru sih seru. Tapi bagaimana jika ada mobil atau motor dari arah berlawanan? Kita tidak punya rem, David!" Tanpa sadar Leon berbicara seperti pada saat dulu dirinya masih sehat. Suaranya tidak terdengar lemas sama sekali.
"Mas Leon tenang saja. Saya ini punya ilmu Gatot Kaca. Kursi roda ini bisa mengerem mendadak saat saya mau," kekeh David sambil terus mendorong Leon.
"Ya ya ya. Kamu memang titisan Gatot Kaca. Mendorong kursi roda di tanjakan bukannya mudah, tapi kamu melakukannya dengan sangat mudah," sahut Leon takjub.
Keduanya lalu berhenti di taman komplek. Kebetulan sekali taman tersebut kosong. Sehingga mereka bisa puas menikmati semua yang ada di sana.
"Mas Leon mau naik ayunan, tidak?" tanya David sambil menunjuk sebuah ayunan.
__ADS_1
"Ha?!" Leon terbengong tak percaya.
"Mau, ya?!"
"Oke. Tapi kamu gendong saya," ujar Leon.
Belum dapat bibir Leon mingkem, David langsung menggendong Leon dan mendudukkan majikannya tersebut ke atas ayunan.
Setelah itu, David mendorong ayunan dengan pelan.
"Kamu benar-benar titisan Gatot Kaca. Saya tidak menyangka kamu kuat gendong saya," ujar Leon sambil berpegangan pada tali ayunan. Tapi berhubung tangannya tidak berfungsi dengan baik, maka ia hanya berpegang ala kadarnya saja. Toh David tidak mendorongnya dengan kencang, jadi ia tak perlu takut jatuh.
"Kan tadi saya sudah bilang, Mas," kekeh David masih terus mengayun sang majikan.
"Oh iya, usia kamu berapa, Vid?"
"Dua puluh, Mas."
"Sudah pulang pacar?"
"Hah?!"
"Sudah punya pacar?" tanya Leon sekali lagi.
"Ada, Mas. Dia laki-laki. Saya gay soalnya."
"Serius?" tanya Leon tak percaya. Saking kagetnya Leon, tanpa sadar ia nyaris seperti berteriak.
David menghentikan kegiatan mendorong ayunannya. Ia lalu berjongkok di hadapan Leon seraya melihat dengan jelas ekspresi sang majikan.
Ekspresi Leon lucu sekali. Leon kaget dan tak percaya. Ia melompong dengan mata terbuka lebar.
Karena tak tahan melihat ekspresi lucu sang majikan, akhirnya David tertawa terbahak-bahak. "Mas Leon lucu." David menepuk-nepuk pahanya sendiri. "Saya bercanda, Mas."
"Saya kira beneran. Kalau memang iya benar, saya pingin ikut komunitas kalian," ujar Leon serius.
Sekarang giliran David yang melompong bak sapi ompong.
Melihat wajah lucu David, Leon lantas tertawa terbahak-bahak. "Kamu lucu, David. Saya cuma bercanda."
__ADS_1
David mengangguk kepalanya yang tidak gatal.