Jodoh Istikharah

Jodoh Istikharah
Meninggal Dunia


__ADS_3

"Anakku! Tidakkk...." Diana menjerit histeris karena boneka yang tadi ia gendong tak sengaja terjatuh dari lantai tiga.


Tanpa berpikir panjang Diana langsung lompat dari lantai tiga dan bertujuan menolong boneka yang ia anggap adalah anaknya. Suster jaga yang berada di ujung lantai langsung lari terbirit-birit. Namun sayang, usaha sang suster tersebut kalah cepat dari gerakan Diana. Akhirnya nyawa Diana tak tertolong.


Semua orang berteriak histeris. Darah segar bercucuran bagai air keran. Kepala Diana yang terbentur tunggul pohon mangga, pecah. Membuat siapa saja yang melihat menjadi lemas.


"Pak Satpam, tolong suruh mereka menjauh," kata seorang dokter laki-laki berkepala empat sambil menunjuk orang-orang yang berkerumun. Ia lalu mengambil ponselnya dan menelepon polisi. Sementara itu rekannya yang lain langsung membawa Diana ke rumah sakit.


***


Sudah tiga hari sejak kepergian Diana, Leon sering sekali melamun. Ia merasa bersalah pada istri-istrinya.


Harusnya sebagai seorang suami, Leon tidak memperlakukan Arini semena-mena. Harusnya ia bisa setia pada janji pernikahan mereka.


Harusnya sebagai seorang suami, Leon bisa lebih ekstra mengurus Becca supaya cepat pulih. Bagaimanapun, jika seseorang sedang sakit, obat yang paling ampuh dan mujarab adalah kasih sayang dari orang terdekatnya. Tapi ini Leon malah tidak bisa mengurus Becca dengan ekstra, karena saat ini waktunya terbagi dengan istrinya yang lain.


Harusnya sebagai suami, Leon tidak menganggap Calina sebagai hotel yang ia bisa check-in dan chek-out kapan saja. Harusnya ia memperlakukan Calina sebagai rumahnya. Bukan seperti sekarang ini, datang hanya saat ingat atau ada perlu saja. Kasihan Calina, selalu di anak tirikan.


Harusnya sebagai seorang suami, Leon bisa membimbing Diana ke jalan yang benar. Supaya hal-hal seperti sekarang ini tidak sampai terjadi. Seharusnya ia bisa bicara dari hati ke hati pada Diana, supaya penyakit Diana tidak bertambah parah dan bisa segera di sembuhkan.


Kalau sudah begini, ia hanya bisa menyesali semua kebodohannya di masa lalu.


Arini yang melihat Leon malam-malam begini duduk sendiri di teras rumah langsung menghampirinya. Arini duduk dengan pelan disebelah Leon. "Ada apa? Aku perhatikan, akhir-akhir ini kamu sering sekali melamun. Kamu sedang memikirkan apa?" Arini bertanya dengan sangat lembut dan perhatian.


Leon menoleh ke arah Arini sebentar sebelum akhirnya melihat lurus ke depan. "Tidak ada apa-apa. Aku tidak sedang memikirkan sesuatu," jawab Leon pelan. Saking pelannya, nyaris tidak terdengar sama sekali. Namun beruntung pendengaran Arini masih cukup baik. Sehingga ia bisa mendengar dengan jelas apa yang dikatakan oleh Leon.

__ADS_1


Arini tahu, sebenarnya Leon sedang memikirkan sesuatu. Hanya saja suaminya itu tampak tak ingin berbagi cerita dengannya. Sebagai istri yang pengertian, Arini tidak lagi memaksa Leon untuk bercerita apa masalahnya.


Arini tahu, Leon pasti memiliki alasan tidak mau berbagi kisah dengannya. Dan Arini menghargai privasi Leon.


"Ya sudah, kalau tidak ada apa-apa, ayo masuk rumah sekarang! Sudah malam, hampir jam sepuluh." Arini lalu bangkit dari kursi dan hendak masuk ke dalam rumah.


Tapi sebelum ia masuk, ia menepuk pundak Leon sambil berkata, "Aku tahu kamu sedang ada masalah tapi tidak mau bercerita denganku. Tidak apa-apa, aku tidak akan memaksa kamu berbagi cerita denganku."


Mana mungkin aku cerita sama kamu. Kalau yang saat ini ada di pikiranku adalah untaian penyesalan karena telah berbuat ceroboh dalam berpoligami. Pikir Leon.


"Kamu mau aku kasih tahu cara ampuh menenangkan hai yang sedang galau?" Arini yang masih berdiri di sebelah Leon berkata sambil mengelus pundak suaminya itu.


Leon menatap Arini seolah mengisyaratkan, apa? Apa caranya?


Arini yang paham akan makna dari tatapan Leon langsung memberikan tips-nya. "Caranya adalah... Sekarang kamu ambil wudhu lalu curhat sama Allah. Kamu belum shalat isya, kan?"


***


Siang ini Leon sengaja mengunjungi makam Diana. Ia menaburkan bunga pada makam yang tanahnya masih basah itu.


"Aku sudah memaafkan semua dosamu, Diana. Baik itu yang sengaja atau tak sengaja kau lakukan. Dan..." Leon tak kuasa melanjutkan kata-katanya. Air matanya menetes dari sudut mata. Ia lalu mengusapnya menggunakan punggung tangan.


"Dan aku tidak tahu bagaimana cara untuk meminta maaf padamu. Aku tahu, sebagai seorang suami, aku banyak salah padamu. Bahkan aku belum sempat meminta maaf. Hanya satu yang bisa kulakukan, mengunjungimu sesering mungkin dan selalu mengirimkan do'a untukmu."


Leon pernah mendengar kajian dari seorang ustadz, bahwasanya dosa antar sesama jika belum dimaafkan oleh orang yang bersangkutan secara langsung maka sampai kapanpun tidak akan gugur. Dan sekarang Diana sudah berbeda dimensi dengannya, lalu bagaimana ia bisa meminta maaf pada Diana?

__ADS_1


Leon menaburkan sisa bunga yang ia bawa. "Istirahatlah dengan tenang, Diana. Aku akan sering datang kemari."


Dengan langkah lunglai, Leon keluar dari area pemakaman. Namun sebelum ia keluar dari area pemakaman, Leon melihat ada pasukan pengiring jenazah yang datang.


"Dasar kamu! Perebut laki orang!" Seorang perempuan berusia kepala tiga sedang bertengkar dengan seorang perempuan muda.


"Loh, kok jadi saya? Suami situ yang ganjen. Atau mungkin situ kurang memuaskan, maka dari itu dia berpaling ke saya," balas perempuan muda tak mau kalah.


Keduanya berada di barisan paling belakang dan tertinggal cukup jauh dari rombongan.


"Beraninya kamu mengatai saya. Dasar, jalang. Harusnya kalian berdua mati sama-sama. Biar tahu rasa!"


Si ibu yang tampak kecewa pada suaminya terlihat malas mengantar suaminya tersebut ke peristirahatan terakhir. Kentara sekali dari raut wajahnya dan jalannya yang malas.


"Ranti!" Seorang perempuan berkepala tiga yang berada dalam rombongan memanggil si ibu tadi karena berjalan sangat lama dan malah sibuk berdebat dengan si perempuan muda.


Dengan langkah malas, perempuan yang dipanggil tersebut berjalan ke arah suaminya akan di makamkan. Rombongan sudah sampai pada tanah galian.


Leon langsung bergegas dari sana dan tak menguping lagi. Setelah sampai di dalam mobil, ia termenung agak lama.


Leon takut jika nanti ia meninggal akan mengalami nasib sama seperti laki-laki tersebut. Ia takut istrinya tidak akan sedih dan malah sibuk berkelahi.


Bagaimana jika salah satu dari istrinya menganggap yang lainnya adalah pelakor? Lalu mereka berkelahi dan saling menyalahkan?


"Shit! Harusnya dari awal aku tahu kalau poligami itu tidak seindah bayangan." Leon mengumpat sambil meninju kemudi dengan frustasi.

__ADS_1


"Kalau seperti ini terus aku bisa gila. Aku bisa menyusul Diana dengan cepat." Leon bergumam menatap kosong ke jalanan.


Agak lama ia diam saja di dalam mobil, sebelum akhirnya ia melajukan mobilnya ke kantor.


__ADS_2