
Semangat hidup Leon sangat tinggi. Ia sangat optimis kalau dirinya bisa sembuh total. Ya, walaupun untuk saat ini kondisi kakinya masih sama saja, tapi setidaknya untuk tangan sudah semakin membaik.
Leon selalu rajin kontrol ke dokter dan meminum semua obat yang diberikan oleh dokter. Ia tidak pernah menyerah dalam proses penyembuhannya.
Pagi ini Leon dan Arini berencana pergi ke kantor bersama-sama. Sebenarnya Leon sudah meminta Arini untuk tetap tinggal di rumah saja, tapi Arini menolak. Istri Leon itu sangat tidak bisa jika hanya disuruh berdiam diri di rumah saja.
Sebelum mereka ke kantor, mereka mengantar Jasmine ke sekolah terlebih dahulu. Dan karena hari ini tidak terlalu banyak pekerjaan di kantor, Arini dan Leon memutuskan mengajak Yusuf untuk ikut serta.
Kasihan Yusuf selalu ditinggal dengan ART saja. Nanti lama-lama anak itu lupa siapa orang tuanya.
"Selamat sekolah, Nak! Jangan nakal, dan kalau ada apa-apa, kasih tau Mama dan Papa," ujar Leon sambil mencium pipi Jasmine.
"Jangan lupa berdo'a juga," timpal Arini sambil mengusap puncak kepala anak perempuannya itu dengan sayang.
Jasmine mengangguk patuh. Ia lalu keluar dari mobil dan menuju kelasnya. Jasmine memang paling tidak mau jika diantar sampai ke kelas. Dan orang tuanya sudah tahu itu. Jadi baik Arini dan Leon tidak akan memaksa apa yang tidak disukai oleh Jasmine.
"Langsung ke kantor ya, Mas, Mbak?" tanya David sambil melihat kedua tuannya dari spion tengah.
Leon mengangguk. "Iya, Vid," jawabnya.
Setelah Jasmine hilang dari pandangan, David lalu melajukan mobilnya menuju kantor.
***
David sedang jalan-jalan sendiri menyusuri setiap sudut kantor, tanpa sengaja matanya menangkap seseorang perempuan. Perempuan itu berpakaian office girl.
David menajamkan penglihatannya. Ia memastikan kalau perempuan yang ia lihat itu adalah orang yang ia kenal. Lebih tepatnya masa lalu yang dulu pernah meninggalkannya demi pria lain yang lebih kaya.
David mengikuti perempuan itu menuju pantry. Dari jarak yang cukup jauh, David kembali mengintai perempuan itu. Dan ternyata benar. Perempuan itu adalah Devi, mantan pacar David.
Devi mengepel area pantry sambil mendengarkan musik dari earphone. Bagi Devi, mendengarkan musik adalah mood booster-nya.
David menghampiri Devi yang sedang mengepel. "Hai! Sudah lama kita tidak bertemu," sapa David sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
__ADS_1
Devi yang tadinya sedang menunduk, mengangkat kepalanya untuk melihat siapa gerangan yang menyapanya.
Begitu ia tahu kalau itu adalah David, Devi langsung menjatuhkan kain pelnya. Ia terbengong beberapa detik. Dirinya tidak menyangka akan bertemu dengan David disini.
"Apa kabar?" tanya David sambil tersenyum ramah. Ia sudah move on dari Devi. Sehingga saat mereka bertemu kembali seperti sekarang ini, tidak ada masalah sama sekali bagi David.
Devi mencabut earphone dari kedua telinganya dan mengantongi earphone tersebut kedalam saku celana. "Ba-baik," jawab Devi sambil mengambil sapu yang tadi jatuh.
Devi malu pada David. Karena dulu dirinya telah meninggalkan cinta pertamanya itu hanya untuk laki-laki brengsek yang sekarang menorehkan luka dalam di hidupnya.
"Sejak kapan kamu kerja di sini?" tanya David sambil bergeser karena lantai yang ia pijaki sedang di pel oleh Devi.
"Enam bulan yang lalu," jawab Devi sambil menunduk. Sumpah demi apa, ia malu sekali untuk bertatap muka dengan David.
"Pacar kamu kan kaya. Lalu mengapa kamu bekerja sebagai OG di sini?"
"Itu kisah lama. Jangan dibahas lagi," sahut Devi pelan.
Setelah selesai mengepel dapur, Devi lantas mencuci alat pel di dalam kamar mandi. Dan tak lama setelah itu, ia keluar sambil duduk di sebelah David.
"Kamu kerja di sini juga?" tanya Devi setelah ia berhasil mengontrol perasaan malunya.
"Tidak. Aku sekarang jadi perawat Mas Leon."
Devi mengangguk paham.
"Sekarang kamu tinggal dimana? Sama siapa?" tanya David dengan nada rendah dan bersahabat. Ia menanyakan itu bukan karena ingin melanjutkan kisah lama yang sempat usai, tapi semata-mata karena ia ingin menjalin silaturahmi saja.
"Tidak jauh dari sini. Sama Ibu dan Azriel," jawab Devi sambil menunduk.
Devi adalah anak tunggal yang sudah tidak memiliki ayah. Ayahnya sudah meninggal sejak Devi masih didalam kandungan. Dan David sudah tahu fakta itu. Tapi Azriel? Siapa Azriel?
"Azriel?"
__ADS_1
"Anak aku."
David terdiam beberapa detik. Ia baru tahu kalau ternyata Devi telah memiliki anak. Hal yang membuat David kaget adalah, usia Devi belumlah dewasa. Perempuan itu baru sembilan belas tahun. Apa yang membuat perempuan itu mau menikah muda?
"Kamu pasti mau tertawa dengan kondisiku yang menyedihkan ini, kan?" Devi tertawa kecil. "Hadi kabur setelah tahu aku hamil. Bahkan dia tidak menikahi aku. Dan sekarang, kondisinya Azriel tidak punya ayah. Terpaksa, untuk menghidupi Azriel, aku harus kerja. Kerja sebagai apapun itu akan tetap aku lakukan, asalkan halal."
Hadi adalah mantan pacar Devi. Dia juga adalah orang yang membuat David tersingkir dari hati Devi.
David dan Devi berpacaran selama satu tahun. Mereka adalah tetangga satu kampung. Pendidikan keduanya hanya sama-sama sampai SMP.
Keduanya adalah pasangan yang sangat romantis. Meskipun mereka masih sama-sama remaja, tapi mereka cukup dewasa dalam menyikapi banyak hal.
Hingga Hadi datang dalam kehidupan Devi. Dan laki-laki itu membuat semuanya kacau.
"Aku bukan Devi yang dulu lagi. Aku sudah sangat hancur. Akupun malu pada diriku sendiri," lirih Devi sambil menunduk.
David menepuk pundak Devi. "Jalani saja masa depan. Jangan pernah terbebani dengan masa lalu. Jadikan ia pelajaran agar kamu menjadi semakin kuat kedepannya," ujar David lembut.
"Terimakasih," sahut Devi lirih.
Keduanya terdiam beberapa saat. Hanya ada suara detak jarum jam yang terdengar. Rasanya sedikit canggung. Setelah cukup lama mereka tidak bertemu, akhirnya sekarang bertemu kembali.
David sengaja berlama-lama disini. Karena tadi saat ia tinggalkan, Arini Leon dan Yusuf sedang mengobrol seru dan sepertinya agak intim. Oleh karena itu, ia meminta izin untuk jalan-jalan saja.
David sangat tidak nyaman jika harus mendengarkan pembicaraan privasi orang lain.
"Aku masih ada banyak kerjaan. Aku duluan, ya?!" ujar Devi sambil berlalu dengan membawa sebuah kain lap dan pembersih kaca.
David mengangguk saja.
Di perusahaan ini ada dua office boy dan satu office girl. Saat pagi seperti ini, mereka semuanya sibuk dengan pekerjaan masing-masing.
Karena tidak ada siapa-siapa yang bisa diajak bicara, akhirnya David memutuskan untuk kembali jalan ke ruangan Arini dan Leon. Sudah cukup lama juga dirinya pergi, takutnya sang majikan mencari keberadaan dirinya.
__ADS_1