Jodoh Istikharah

Jodoh Istikharah
JI 2 - Gengsi


__ADS_3

"Selamat belajar, Nak! Mama pulang dulu, ya? Nanti Mama jemput," kata Arini saat ia telah sampai di sekolah Jasmine.


"Iya, Ma. Dahh..." Jasmine lalu masuk ke dalam kelasnya setelah bersalaman dengan Arini.


"Arini!"


Merasa ada yang memanggil, Arini menoleh. Ternyata sang pemilik suara adalah Sinta. Orang yang tidak disukai Jasmine.


"Eh, Bunda Sinta. Baru datang?" Arini berbasa-basi ala kadarnya. Walaupun ia tidak suka dengan Sinta, tapi dirinya tak ingin memperlihatkan secara kentara.


"Iya. Panggil Sinta saja! Biar lebih akrab." Sinta berujar sambil menepuk pelan pundak Arini. Sok kenal sok dekat sekali.


"Baiklah, Sinta. Saya mau pulang. Ada urusan," ucap Arini sambil tersenyum ramah. Ia lalu bergegas menuju mobilnya.


Samar-samar Arini mendengar Sinta berujar. "Ibu tiri bisa baik juga ternyata. Eh, siapa tahu baiknya itu palsu. Ya, bisa jadi begitu."


Arini mengelus dadanya. Setelah duduk di dalam mobil, ia tidak langsung jalan. Dirinya memilih menenangkan diri terlebih dahulu. Bisa gawat kalau dia menyetir dalam keadaan emosi.


Wajar saja jika Jasmine tidak suka dengan Sinta. Kelakuannya saja begitu. Tidak bisa dijadikan panutan sama sekali. Sepertinya Arini harus mempertimbangkan untuk memindahkan sekolah Jasmine.


Setelah dirinya cukup tenang, barulah Arini melajukan mobilnya. Setelah ini, dia dan Mutiara akan pergi ke salon.


***


Setelah selesai dari salon, Mutiara mengajak Arini makan di restoran Korea. Mereka pergi bertiga. Yusuf sang cucu kesayangan diajak serta oleh Mutiara.


Tadi di salon, Mutiara melakukan perawatan kuku dan rambut. Gaul sekali ibu mertua Arini ini.


"Mama suka makannya Korea. Sehat-sehat. Tidak banyak minyak seperti makannya kita," kata Mutiara saat pelayan datang mengantarkan pesanan mereka.


"Kalau Rini suka semua makanan, Ma. Yang berminyak malah lebih mantap," ujar Arini sambil terkekeh.


"Yusuf mau yang mana?" Mutiara menawarkan ke cucunya.


Yusuf menggeleng. "Nyang," ujarnya sambil menunjuk perut.


Tadi sebelum berangkat, Yusuf memang sudah makan. Jadi wajar jika sekarang bayi itu masih kenyang.


***


Leon sedang memeriksa keuangan cafe. Laporan keuangan bulan ini hasilnya memuaskan. Cafe mangalami keuntungan yang sangat signifikan.

__ADS_1


"Syukurlah cafe lancar." Leon bermonolog sambil mematikan komputernya.


Dirinya akan menuju cafe untuk melihat keadaan di lapangan. Dia ingin tahu sendiri seperti apa kondisi karyawan dan customer-nya. Saat ini Leon sedang berada di kantornya. Dia lalu bergegas menuju parkiran. Kemudian menuju cafe.


Sekarang ini Leon masih belum bisa mengelus dada, memang sih berkas permohonan mereka sudah ditangani oleh pihak yang berwajib. Pihak berwajib juga sudah melakukan mediasi, namun Reza mangkir.


Berdasarkan hasil penerawangan Leon, Reza tidak akan mengembalikan uang perusahaan. Ya, meskipun nantinya Reza akan di penjara, tetap saja itu tidak membuat keadaan menjadi lebih baik.


Setelah berkendara lebih kurang dua puluh menit, akhirnya Leon telah sampai di cafe.


"Bagaimana keadaan cafe?" Leon bertanya pada seorang laki-laki yang menjabat sebagai manajer di sini.


"Baik, Pak. Penjualan meningkat." Wahyu-- sang manajer menjawab.


Keduanya sedang berada di ruang manajer. Leon duduk di depan meja kerja Wahyu. Ia mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Syukurlah kalau begitu. Soal karyawan bagaimana? Ada sesuatu?" Leon bertanya lagi.


"Baik-baik saja, Pak. Semuanya kondusif." Wahyu menjawab apa adanya. Memang keadaan cafe sangat kondusif. Tidak ada sesuatu hal yang mengkhawatirkan.


Leon mengangguk puas. Sekarang ia bisa lega. Satu cafe baik. Satu cafe lainnya semoga baik juga. Ia sudah pusing dengan masalah korupsi di perusahaan, jangan sampai datang lagi masalah baru.


Leon menuju dapur, ia mengecek semua alat-alat memasak di sana. Siapa tahu ada alat yang sudah tidak layak pakai. Setelah itu ia mengecek gudang dan seluruh ruangan. Setelah semuanya baik-baik saja, dirinya pun pergi menuju cafe satunya lagi.


***


"Wulan, kamu sadar tidak? Oma Tiara sepertinya tidak suka dengan Nona Jasmine." Ani berbicara pada Wulan yang sedang menyetrika pakaian.


"Itu hanya perasaan Bude saja," jawab Wulan santai.


"Tapi itu bukan hanya perasaanku, Lan. Aku dapat merasakan kalau Oma Tiara benar-benar tidak suka Nona Jasmine."


"Sstt... Bude, ah! Jangan gosip." Tiba-tiba saja Arini muncul dari belakang Ani. Dia memberikan sebuah pakaian kepada Wulan. "Tolong setrika, ya, Lan!" ujarnya lalu berlalu.


Ani hanya bisa diam sambil merutuki diri sendiri di dalam hati. Dirinya pernah ketahuan Leon sedang bergosip, dan sekarang ketahuan Arini. Tamatlah riwayat dirinya.


"Bude, kok malah bengong." Wulan menegur Ani yang terbengong.


Ani langsung menggelengkan kepalanya pelan. Ia lalu melanjutkan melipat pakaian.


"Tadi itu Bu Arini dengar tidak, ya?" Wulan berbicara sambil melihat belakang, takut Arini masih ada di sekitarnya.

__ADS_1


"Sepertinya dengar, Bude." Wulan menakut-nakuti Ani. Dan berhasil. Wajah Ani langsung berubah pucat. Wulan ingin sekali tertawa, namun kasihan.


Sepertinya Ani harus sering-sering mendapatkan pelajar seperti ini. Supaya dirinya taubat dan tidak bergosip lagi.


Sementara itu di lain tempat, Arini sedang duduk termenung di tepi ranjang. Dirinya tadi mendengar jelas apa yang dikatakan oleh Ani.


Kalau orang lain saja dapat merasakan perbedaan kasih sayang itu, lalu bagaimana dengan Jasmine sendiri? Pasti anak itu sangat terpukul.


Jasmine memang masih bocah, tapi dirinya sudah dapat mengerti apa yang terjadi di sekitarnya.


Tok tok


Pintu kamar Arini di ketuk dari luar.


"Masuk!" ucap Arini dari dalam kamar.


Setelah pintu di buka, muncul sosok Jasmine sambil membawa buku gambar. "Mama, tadi Jasmine gambar ini di sekolah." Jasmine memamerkan hasil gambarnya kepada Arini.


"Wah... Ini keren sekali, Nak!" Arini terpukau melihat hasil gambar anaknya.


Jasmine menggambar keluarga kecil mereka. Terdiri dari Leon, Arini, Jasmine dan Yusuf.


"Aunty Wulan yang mengajari," kata Jasmine sambil duduk di sisi Arini.


"Aunty Wulan memang hebat, tapi Jasmine tak kalah hebatnya," puji Arini sambil mencium pipi gempal Jasmine.


Arini tidak ragu lagi, bakat Jasmine ini harus di kembangkan. Supaya kelak dia bisa menjadi pelukis profesional.


"Kalau Jasmine Mama masukkan ke les melukis, mau tidak?" Arini bertanya sambil menatap wajah Jasmine lekat-lekat.


Tanpa berpikir panjang, Jasmine langsung mengangguk. "Mau, Ma." Jasmine menjawab dengan sangat antusias.


Arini lega mendengarnya. Nanti malam jika Leon sudah pulang, ia akan langsung menceritakan ini pada suaminya.


"Yusuf sedang di bacakan dongeng sama Oma Tiara. Kenapa ya, Ma, Oma Tiara tidak suka Jasmine?" Jasmine bertanya dengan polosnya.


Mendengar itu Arini tidak tahan lagi. Ia langsung memeluk Jasmine dan membesarkan hatinya. "Sebenarnya Oma Tiara itu sayang juga dengan Jasmine. Tapi Oma gengsi mau ngomongnya."


"Gitu ya, Ma?"


"Iya."

__ADS_1


__ADS_2