Jodoh Istikharah

Jodoh Istikharah
JI 2 - Pesta Bintang


__ADS_3

Pukul delapan malam Leon dan keluarganya sampai di rumah. Perjalanan dari pantai cukup memakan waktu lama karena jalanan yang macet.


Dan sekarang sudah pukul sebelas malam. Baik Arini dan Leon sama-sama belum bisa tidur. Keduanya sedang duduk-duduk di teras kamar sambil menikmati pemandangan malam.


"Bintangnya banyak. Bagaimana kalau kita pesta bintang sampai pagi?" tanya Leon sambil menatap Arini yang duduk di sebelahnya.


"Sampai pagi?" tanya Arini dan di-angguki oleh Leon. "No! Jangan sampai pagi, please! Aku tidak sanggup," lanjutnya.


"Ya sudah. Sampai kamu ngantuk saja. Bagaimana? Deal?"


"Oke. Deal!"


"Coba lihat itu!" Leon menunjuk sebuah bintang yang paling terang.


"Yang mana?" tanya Arini bingung. Pasalnya bintang di langit sangat banyak. Lagipula tidak jelas mana yang ditunjuk oleh Leon.


"Yang paling terang, Sayang," ujar Leon masih sambil menunjuk.


"Oh, iya. Aku lihat. Kenapa memangnya?"


"Tidak apa-apa. Aku hanya menyuruhmu melihat saja," ujar Leon sambil terkekeh.


Karena kesal, Arini meninju pelan pundak suaminya itu. "Aku kira mau gombal atau bagaimana gitu."


"Kamu mau aku gombalin?" tanya Leon.


Dengan spontan, Arini menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Ia mana bisa digombali oleh Leon, bisa-bisa nanti pipinya akan merah lagi.


"Kamu mau kopi atau minuman hangat lainnya?" tanya Arini sambil menatap ke arah suaminya.


Leon menggeleng pelan. Sebenarnya bukan ia tidak mau, tapi dapur jauh. Letak dapur di lantai dasar, sedangkan sekarang mereka ada di lantai tiga.


Kalau Leon tidak sakit, pasti ia menerima tawaran Arini itu. Karena kalau ia sehat, ia bisa menemani istrinya ke dapur.


"Kok dingin, ya?" lirih Leon.


Arini menatap Leon sambil geleng-geleng kepala. Jelas saja dingin. La wong dia hanya menggunakan baju tidur lengan pendek. Untung celananya panjang, jadi bagian kaki tidak terlalu dingin.


"Pakai ini!" ujar Arini sambil memakaiakan selimut kepada suaminya. Tadi sebelum ke sini, Arini sempat membawa sebuah selimut tebal.

__ADS_1


Arini sendiri tidak terlalu kedinginan karena ia memakai baju tidur tebal lengan panjang.


"Kita pakai berdua," ujar Leon sambil membagi selimutnya dengan sang istri.


Arini tidak menolak. Setelah mereka memakai selimut, Arini menyandarkan kepalanya pada bahu Leon.


Terkadang dalam sebuah rumah tangga yang sudah berjalan cukup lama, kebersamaan kecil seperti sekarang ini sangatlah bermakna. Meskipun hanya duduk berdua sambil menikmati bintang. Tapi ini adalah hal kecil yang bisa membuat satu sama lain menjadi lebih dekat.


Apalagi mereka sudah dikaruniai dua orang anak, sehingga waktu untuk mereka berdua menjadi sangat berkurang. Dan curi-curi waktu pada malam hari seperti ini adalah hal yang paling mungkin untuk mereka bisa duduk berdua.


Leon mengusap kepala istrinya yang dilapisi hijab instan lebar. Leon memejamkan matanya ketika wajahnya disapu oleh angin malam.


"Kamu sudah ngantuk?" bisik Leon.


"Belum," jawab Arini pelan.


Mempunyai istri seperti Arini adalah anugrah terindah bagi hidup Leon. Jika bukan dengan Arini, mungkin sudah lama ia ditinggalkan.


Apalagi sekarang ini ia sedang lumpuh. Kakinya masih saja kesemutan. Saat ini ia seperti laki-laki yang tidak bisa diharapkan.


Leon juga tidak pernah lupa, saat dulu dirinya bermain perempuan, Arini tetap dengan sabar dan ikhlas menerimanya. Jika itu perempuan lain dan bukan Arini, sudah pasti saat ini ia menjadi duda yang menyedihkan.


"Hhmm." Arini menyahuti dengan gumaman saja.


"Kamu sudah ngantuk?" tanya Leon dengan nada rendah. Ia meraba pipi istrinya yang masih berada di pundaknya.


"Belum," jawab Arini sambil menegakkan kepalanya. "Dari tadi aku nunggu bintang jatuh, kok tidak muncul-muncul, ya?" lanjutnya.


"Memangnya, kalau ada bintang jatuh mau kamu apakan?" tanya Leon sambil menatap langit malam.


"Tidak ada. Mau lihat saja."


"Aku kita kamu mau minta permohonan," kekeh Leon sambil geleng-geleng kepala.


Arini menempelkan tangannya di pipi Leon. "Aku tidak percaya dengan itu," ujarnya tegas.


Leon mengambil tangan Arini dan menggenggamnya. "Iya. Aku tahu itu," ujarnya sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Arini.


Nafas halus Leon menyapu pipi Arini. Namun tiba-tiba saja sebuah suara mengangetkan mereka.

__ADS_1


"Mama sama Papa tidak tidur?" tanya Jasmine yang baru saja berdiri di belakang ayah dan ibunya.


Spontan Leon dan Arini menoleh ke belakang. Keduanya tersenyum kikuk.


"Kamu bangun, Nak?" tanya Arini sambil menyuruh Jasmine mendekat. Setelah dekat, ia memangku Jasmine dan memeluknya.


"Iya. Pas Jasmine bangun, Mama sama Papa tidak ada. Ternyata Mama Papa di sini," ujar Jasmine sambil menatap Leon.


"Kamu bangun mau pipis atau bagaimana, Nak?" tanya Leon.


Jasmine menggeleng. "Tiba-tiba bangun saja. Papa Mama sedang apa di sini?" tanyanya ingin tahu.


"Pesta bintang. Langit malam ini sedang cerah. Bintangnya banyak sekali," ujar Arini sambil memandang ke langit.


Beberapa detik ketiganya hanya diam saja. Yang terdengar hanya deru nafas mereka dan binatang malam saja.


Mereka sama-sama menikmati pemandangan langit malam. Apalagi Jasmine yang suka melukis pemandangan. Ia memandang langit malam ini dengan seksama. Besok ia akan melukis langit malam ini di kanvasnya.


"Yusuf masih pulas, ya?" tanya Leon sambil menatap putrinya itu. Suara Leon memecah keheningan diantara mereka.


Jasmine mengangguk. "Tadi selimutnya merosot, tapi sudah Jasmine benahi, kok," beritahunya.


Arini membelai rambut Jasmine yang halus. Tangan lembut ibunya membuat Jasmine jadi mengantuk. Gadis cilik itu terpejam dan melek beberapa kali.


Lagi-lagi ketiganya menjadi diam. Sebenarnya Leon ingin berbicara romantis pada Arini, tapi karena di sini ada anak-anak, dia menahan kata-katanya itu.


Daripada berbicara topik dewasa, mereka lebih memilih diam saja. Diam lebih baik daripada nantinya otak polos Jasmine akan terkontaminasi dengan kata-kata orang dewasa.


Tanpa sepengetahuan Arini, Jasmine sudah terlelap di pangkuannya. Arini pikir Jasmine masih terjaga, karena sejak tadi Jasmine tidak bergerak sama sekali. Jadi tidak mencurigakan. Kalau Arini tahu Jasmine sudah tertidur, ia pasti akan membawa anaknya itu kembali ke kamar. Supaya anaknya bisa tidur dengan nyenyak.


"Jasmine..." panggil Leon saat tak mendengar suara celoteh anak perempuannya itu.


Arini menunduk untuk mengecek Jasmine. "Dia tidur ternyata," gumam Arini. "Kamu tunggu di sini dulu, ya?! Aku mau bawa Jasmine ke kamar."


Setelah mengatakan itu, Arini lalu menggendong Jasmine menuju kamar. Setelah sampai, ia lalu menidurkan anaknya di atas ranjang.


Kemudian Arini kembali lagi ke teras, ia lalu membantu Leon berjalan. Leon sendiri berjalan menempel dinding sambil di papah Arini.


Untuk siapapun pasti pernah merasakan kesemutan. Orang yang kesemutan tidak bisa berjalan sama sekali. Ketika mereka memaksa untuk berdiri, biasanya akan jatuh. Nah, begitulah yang dirasakan Leon saat ini.

__ADS_1


__ADS_2