Jodoh Istikharah

Jodoh Istikharah
JI 2 - Boneka


__ADS_3

Kemarin, Leon dan keluarganya sudah jalan-jalan di taman safari. Reaksi dari Yusuf dan Jasmine sangat bagus. Kedua anaknya itu merasa bahagia sekali saat bisa melihat hewan-hewan yang selama ini belum pernah mereka lihat.


Mereka juga mengunjungi bayi singa dan harimau. Yusuf suka sekali dengan bayi harimau. Malahan ia sampai menangis tantrum saat diajak meninggalkan kandang bayi harimau itu.


Kata Yusuf, ia ingin mengajak bayi harimau itu pulang ke rumah. Tapi berkat bujukan Arini, akhirnya Yusuf dapat ditaklukkan juga. Arini berjanji akan memberikan boneka harimau, dan untungnya Yusuf setuju.


Arini masih beristirahat di rumah. Dan hari ini, istri Leon itu tidak memiliki jadwal terbang. Tadi pagi,l Arini sudah minta izin ingin ke mall, dan Leon mengizinkannya.


Saat ini Leon dan David sedang meninjau perusahaannya. Ia sudah rindu sekali dengan suasana kantor.


"Kita ke rumah potong hewan, Vid," ajak Leon.


"Siap, Kapten!" sahut David sambil mendorong kursi roda Leon menuju tempat potong hewan. Ia sendiri sudah tahu dimana letak rumah potong hewan, karena ia sudah pernah keliling di perusahaan ini.


Tadi malam sekretaris Leon mengabari kalau penjualan perusahaan sangat bagus. Dan juga mereka telah mempunyai suplayer sapi tambahan.


"Mas, saya kok ngeri ya liat sapi di sayat-sayat," bisik David saat mereka sudah sampai di tempat tujuan.


"Terus kamu mau makan sapi utuh, gitu?" tanya Leon sambil tersenyum dan mengangguk untuk menanggapi sapaan karyawannya.


"Hehe... Bukan gitu maksudnya, Mas." David terus mendorong Leon. Hingga akhirnya mereka berhenti di sebuah tempat khusus jeroan. "Jeroan, Mas?"


"Iya. Kamu suka?" tanya Leon.


"Saya tidak suka jeroan. Tapi saya suka kulit sapi," ujar David. "Apalagi di masak cabai hijau. Beuh! Enak banget."


"Kalau saya justru suka jeroan," ujar Leon. "Apalagi dibuat sate."


***


Arini, Yusuf dan Wulan sedang jalan-jalan di mall. Mereka bukan sedang ingin cuci mata. Melainkan Arini sedang ingin menepati janjinya kepada Yusuf.


Mereka bertiga jalan di rak boneka. Banyak sekali boneka beraneka macam dan ukuran. Dan semua boneka itu menggemaskan.


"Yusuf mau yang mana, Nak?" tanya Arini sambil menunduk menatap Yusuf yang ada di sebelahnya.


"Limau, Ma!" Yusuf menunjuk sebuah boneka harimau berukuran cukup besar.


Dengan sigap, Wulan lalu mengambil boneka yang ditunjuk Yusuf.

__ADS_1


"Untuk Kak Jasmine apa, ya?" Arini terlihat berbicara sendiri sambil memandang satu persatu boneka dengan serius.


"Tlobeli, Ma!" Yusuf menunjuk sebuah boneka strawberry.


"Lucu," gumam Arini sambil mengambil boneka strawberry yang ditunjuk Yusuf.


Setelah mendapatkan apa yang dicari, mereka lalu segera membayar kedua boneka tersebut di kasir.


Mereka harus cepat, karena ingin segera sampai di sekolah Jasmine. Sebentar lagi waktunya Jasmine pulang sekolah.


Untung saja sekolah Jasmine tidak jauh dari mall ini, sehingga mereka tidak perlu takut terlambat karena terjebak macet.


***


Ani berada sendirian di rumah. Leon dan David ke kantor. Jasmine sekolah. Arini, Wulan dan Yusuf sedang ke mall.


"Rumah kok sebesar ini. Sendirian di rumah serem banget," gumam Ani sambil menatap sekeliling dengan seksama.


Saat ini ia sedang duduk di ruang tamu menunggu kepulangan siapa saja. Ia takut sendirian di rumah sebesar ini.


Semua pekerjaan rumah telah selesai. Arini dan Leon memberikan kebebasan ART-nya untuk melakukan apa saja asalkan pekerjaan mereka telah beres.


Klenteng!


Dari arah dapur terdengar bunyi gelas jatuh. Dengan langkah pelan dan takut-takut, Ani berjalan menuju dapur.


Ia adalah orang yang paling takut dengan hal-hal mistis. Ya, walaupun seumur hidupnya belum pernah melihat hantu secara langsung, tapi ternyata saja, ia merasa takut jika ada sesuatu yang mengarah pada hal gaib seperti ini.


"Apa iya hantu mau muncul siang-siang, seperti ini?" gumam Ani sambil terus berjalan.


Sesampainya di dapur, Ani mengerutkan keningnya dalam-dalam. Sebuah gelas terjatuh di lantai dalam keadaan pecah.


Ani berjongkok memungut beling tersebut. Matanya melihat kesana-kemari. "Apa jangan-jangan ini maling, ya?"


Ia membatalkan niat untuk memberishkan beling tersebut. Dengan hati-hati, ia mengecek keadaan pintu depan jendela.


Tak lupa di tangan kanannya terdapat sebotol bubuk cabai yang siap ia lemparkan pada wajah orang jahat yang jika nanti ia temui. Spontan saja ia mengambil bubuk cabai sebagai senjata.


Setelah mengecek semuanya, ternyata semua keadaan aman. Tidak ada tanda-tanda ada pencuri masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


Ani lalu kembali lagi ke dapur. Dengan sigap ia membersihkan beling tadi. Karena sedikit terburu-buru, tak sengaja tangan kanannya terkena beling.


Ia lalu menuju kotak P3K yang berada tak jauh dari dapur. Saat ia sedang membersihkan lukanya menggunakan alkohol, sebuah suara mengagetkannya.


"Ngapain, Bude?"


Ani berbalik badan lalu melompat. Setelah tahu itu adalah Wulan dan Arini, ia menghembuskan nafasnya lega.


"Kaget," ujar Ani sambil mengelus dadanya.


"Tangan Bude kenapa?" tanya Wulan.


"Kena beling. Tadi gelas di dapur tiba-tiba pecah dan jatuh ke lantai. Tapi setelah Bude periksa, tidak ada tanda-tanda maling di rumah ini. Apa jangan-jangan itu perbuatan setan, ya?"


Wulan tertawa kecil. "Bude, ah. Ada-ada aja. Masa setan. Biar Wulan periksa lagi," ujar Wulan lalu bergegas menuju dapur.


"Bude tidak apa-apa?" tanya Arini sambil mendekati Ani. Ia hendak membantu Ani memakai plaster.


"Tidak apa-apa, Bu," jawab Ani sambil memasang plasternya sendiri.


Belum sempat Arini membantu, Ani sudah memasangnya sendiri.


Setelah selesai memasang plaster, Arini dan Ani lalu menuju dapur.


"Posisi gelasnya di mana, Bude?" tanya Wulan.


Ani menunjuk dispenser. "Di sini, Lan," terang Ani sambil menunjuk bagian atas dispenser.


Arini lalu mencoba gelas lain dan ditaruh di sana. Dan gelas tersebut jatuh kemudian pecah. "Ini licin, Bude. Tidak ada unsur mistisnya sama sekali," ujarnya.


Ani menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia kemudian membersihkan pecahan gelas dibantu dengan Wulan.


Ani tadi memang menaruh gelas di atas sana. Ani memang cukup sering teledor. Untung saja bos dirinya itu baik. Kalau tidak, mungkin dia sudah di pecat sejak lama.


Sementara itu, Arini menemui Jasmine dan Yusuf yang masih duduk di ruang tamu sambil memainkan boneka baru mereka.


"Suka?" tanya Arini sambil duduk di sebelah Jasmine.


Kedua anaknya itu kompak menjawab, "suka."

__ADS_1


Arini tersenyum bahagia melihat mereka berdua. Rasanya lega sekali ketika melihat buah hatinya bahagia seperti ini.


__ADS_2