Jodoh Istikharah

Jodoh Istikharah
JI 2 - CCTV


__ADS_3

Sesampainya di sekolah, Leon dan Arini langsung bergegas menuju ruang guru. Kebetulan sekali, Leon dan Arini langsung di sambut oleh Sinta.


Sinta adalah wali kelas Jasmine sekaligus menantu dari pemilik sekolah.


Leon dan Arini duduk berhadapan dengan Sinta. Langsung saja keduanya mengutarakan maksud dan tujuan mereka datang kemari.


"Begini, Bu Sinta. Saya dan istri saya datang karena ada perlu dengan pihak sekolah." Leon langsung to the point saja. "Kemarin, Jasmine putri kami di bully fisik oleh teman-temannya."


Sinta hanya diam saja. Dia menatap datar ke arah sepasang suami istri yang duduk di depannya.


"Jasmine di bully karena katanya saya bangkrut, lalu Jasmine tidak layak lagi sekolah di sini. Sebenarnya ini sekolah apa, Bu? Harus orang kaya saja yang berhak sekolah di sini?" Leon mulai emosi. Nada suaranya sudah agak meninggi.


"Tenang, Leon," bisik Arini sambil menggenggam tangan Leon yang ada di pahanya. Leon tidak boleh emosi di sini.


"Dan perlu saya tegaskan, saya tidak bangkrut, Bu Sinta. Saya dan keluarga pindah ke rumah yang lebih besar dan mewah," ujar Leon setelah amarahnya agak reda.


"Maaf, Mas Leon. Ini memang kelalaian saya sebagai guru. Saya berjanji tidak akan ada lagi pembulian seperti kemarin. Saya akan menasehati anak-anak untuk tidak berbuat anarkis," ujar Sinta dengan nada rendah.


Kalau dari suaranya sih, terdengar seperti menyesal. Tapi kalau hatinya? Entahlah. Leon dan Arini tidak memiliki indra keenam untuk membaca hati orang.


"Sebenarnya pembulian ini sudah berlangsung sejak lama. Awalnya secara verbal, tapi lama-lama main fisik. Coba saja Bu Sinta bayangkan, bagaimana jika yang di bully itu anak ibu? Apa sebagai orang tua ibu tidak sedih?" Kini Arini mulai mengambil suara.


Leon menatap tajam pada Sinta. "Anak-anak tahu Jasmine bukan anak kandung Arini dari mana, Bu? Terus soal istri saya banyak juga anak-anak tahu dari mana? Dan yang terkahir, kabar burung kalau saya bangkrut itu siapa yang menyebarkan?" tanya Leon sambil tersenyum sinis.


Sinta mengepalkan tinjunya di bawah meja. Ia tidak terima dipermalukan seperti ini. Tapi mau bagaimana lagi? Toh memang dia juga yang salah. Dia yang sudah mengompori anak-anak.


"Maaf, itu kelalaian kami sebagai guru," kata Sinta pelan.


Oh, ayolah! Kami atau saya, Sinta? Yang menyebar berita itu kan kamu seorang, kenapa jadi kami? Malu mengakui fakta atau bagaimana? Ujar Leon dalam hati.


"Kalau sampai pembulian masih terjadi di sekolah ini, kamu tidak akan tinggal diam. Kami akan lapor pihak berwajib," ujar Leon serius.


"Saya pastikan tidak ada lagi pembulian di sini," jawab Sinta yakin.


Setelah puas mengeluarkan uneg-unegnya pada Sinta, Leon dan Arini pamit pulang.


Tapi keduanya tidak langsung pulang. Mereka mampir ke toko elektronik untuk membeli CCTV canggih.


Leon memutuskan untuk memasang beberapa CCTV di  badan Jasmine. Agar jika gadis ciliknya itu mengalami pembulian lagi, mereka memiliki bukti yang akurat.


"Kamu yakin bakal memasang alat ini di badan Jasmine? Ini tidak ada efek sampingnya kalau di pasang di badan?" tanya Arini sambil memandangi dua CCTV ajaib.


"Tidak, Sayang. Ini aman, kok. Tuh ada bacaannya di kotak. Ini memang di desain khusus untuk di pakai di badan," terang Leon.

__ADS_1


Arini menganggukkan kepalanya.


"Kita harus tahu, Sinta benar menepati janjinya atau tidak," kata Leon sambil fokus menyetir.


"Ya. Jangan sampai dia bohong pada kita."


"Kamu lihat tidak, wajah dia tadi sudah merasa sekali. Mirip kepiting rebus," kata Leon sambil terkekeh.


"Mungkin dia malu aksinya ketahuan kita. Eh, tapi ngomong-ngomong kenapa tadi kamu sombong amat. Pakai ngaku-ngaku pindah ke rumah yang lebih luas segala."


"Kan memang kita pindah ke rumah yang lebih luas, Sayang. Salahnya di mana?" tanya Leon dengan polosnya.


"Iya sih, memang. Tapi kan itu rumah Mama Papa, Leon! Bukan rumah kita," protes Arini.


"Yang penting kita pindah ke sana," sahut Leon tak mau kalah.


"Iya, deh, iya. Kamu benar," kata Arini pada akhirnya.


Daripada berdebat tak tentu ujungnya, lebih baik Arini mengalah saja.


***


Hari ini Jasmine kembali masuk sekolah. Dia dipasangi dua CCTV oleh ayah dan ibunya. Satu sebagai gelang dan satu lagi sebagai cincin.


Kedua alat tersebut sangat kecil sekali, tapi mampu menangkap objek dengan sangat akurat. Gambar dan suara dapat terekam dengan jelas. Karena bentuknya yang sangat kecil, maka tidak ada yang sadar jika itu adalah CCTV. Orang awam akan berpikir kalau itu adalah permata. Bukan CCTV.


Jasmine sudah diberitahu oleh Arini dan Leon. Cara kerjanya mudah, jika ada yang melakukan pembulian pada dirinya, dia hanya cukup mengarahkan kamera pada mereka yang melakukan kejahatan tersebut.


Beruntunglah hari ini tidak terjadi pembulian lagi. Sinta benar-benar menepati janjinya. Walaupun semua anak masih belum ramah pada Jasmine, tapi setidaknya mereka hanya cuek saja pada anak Leon dan Arini itu. Mereka tidak lagi melakukan pembulian.


"Bagaimana hasilnya, Nak?" tanya Leon saat ia dan Jasmine sudah berada di dalam mobil. Ya, hari ini Leon menjemput Jasmine ke sekolah, karena Arini sedang bekerja.


"Aman, Pa. Mereka tidak nakal lagi," ujar Jasmine sambil tersenyum ceria.


"Syukurlah." Leon menghembuskan nafasnya lega. "Tapi kamu harus tetap pakai alat itu, Nak. Untuk jaga-jaga saja. Kalau misalnya mereka nakal lagi, kamu harus segera arahkan kamera ke arah mereka," kata Leon.


Jasmine mengangguk paham. "Siap, Pa."


"Mau beli makan siang di luar atau makan di rumah saja?" tanya Leon sambil fokus melajukan mobilnya.


"Di rumah masak apa, Pa?"


"Hehe... Papa tidak tahu."

__ADS_1


"Mau burger boleh, Pa?" tanya Jasmine sambil menatap ke arah Leon.


"Boleh. Sekarang kita otw beli burger."


"Asiikk!" Jasmine meninju udara saking girangnya.


Bagaimana tidak girang, Jasmine suka sekali dengan makanan satu itu. Ya, walaupun sebenarnya ia suka semua makanan. Tapi burger yang paling ia sukai.


***


Selepas menjemput Jasmine dari sekolah, kini Leon kembali lagi berkutat dengan pekerjaannya.


Pikiran laki-laki tersebut kusut. Pasalnya keadaan perusahaan tidak kunjung membaik.


Penjualan mereka memang stabil, tapi untung dari jualan tidak serta merta mampu menutupi uang yang di korupsi Reza.


Ponsel Leon bergetar. Ada pesan masuk dari Arini.


Arini


Bagaimana keadaan Jasmine, Leon?


Apakah dia masih di bully?


Leon


Tidak, Sayang.


Sinta menepati janjinya.


Arini


Syukurlah.


Aku bisa kerja dengan tenang.


Leon


Good luck, Sayang.


I love you.


Arini

__ADS_1


I love you too.


__ADS_2