
Keesokan harinya Hamdani sudah boleh pulang. Dan Arini menepati janjinya membawa Jasmine ke rumah ayahnya itu.
Suasana rumah Hamdani masih sama seperti dulu. Tidak berubah sejak terkahir kali Arini keluar dari sana dan memilih tinggal bersama suaminya di apartemen.
"Suami kamu tidak ikut?" tanya Hamdani saat melihat Arini datang sendirian saja. Pasalnya kemarin mereka janji akan datang bertiga. Tapi mengapa sekarang hanya berdua saja?
"Dia ada meeting penting katanya. Nanti jam 11 dia akan menyusul," jawab Arini. "Papa mau bubur? Rini masakin, ya?" Ciri khas Arini kalau ayahnya sakit pasti ditawari bubur, padahal Hamdani sendiri tidak suka bubur.
Hamdani menggeleng pelan. "Papa mau salad Turki."
"Oke siap!" Arini lalu berlalu sambil menggendong Jasmine. Sesampainya di dapur ia menitipkan Jasmine pada asisten rumah tangga ayahnya. Arini memang sengaja tidak mengajak Retno, karena Retno sedang migren.
Dengan cekatan Arini membuat salad khas Turki. Sebenarnya ia tidak tahu resepnya, namun jaman sekarang ini semakin canggih, bukan? Oleh karena itu kita dapat mengetahui segala informasi dari internet. Ya, sekarang ini Arini sedang meracik makanan dengan dibantu oleh tutor di YouTube.
Tak lama salad yang ia buat telah jadi. "Silahkan di cicip, Pa! Komentar kurang apa." Arini menyuguhkan semangkuk salad di hadapan ayahnya.
Hamdani lalu menyicipi salad buatan Arini. Ia mengecap sebentar sebelum memberikan penilaian. "Enak. Mirip yang ada di restoran," pujinya sungguh-sungguh.
Sontak saja pujian dari ayahnya membuat hidung Arini kembang kempis. Siapa yang tidak bahagia kalau makanan yang kita buat di puji oleh orang lain?
***
Calina menatap Arjuna dengan panik. Arjuna sendiri baru dua hari ini bersamanya setelah berminggu-minggu bersama nenek dan kakeknya.
Sekarang kondisi tubuh bayi tersebut sangat panas. Calina yang mengalami kejadian ini untuk pertama kalinya merasa sangat panik.
Ia takut terjadi sesuatu hal buruk pada Arjuna. Ditambah lagi ia mengetahui kabar kalau Becca meninggal karena demam tinggi. Calina tambah panik.
"Bagaimana kondisi anak saya, dok?" tanya Calina dengan cemas. Ia tidak siap untuk kemungkinan terburuk pada Arjuna. Kalau boleh memilih, lebih baik ia saja yang sakit, Arjuna jangan.
"Anak Ibu demam tinggi. Kami sudah memberinya obat penurun panas. Semoga saja dalam waktu dekat panasnya akan menurun," kata sang dokter laki-laki berusia kepala tiga.
"Terimakasih, dok," jawab Calina.
__ADS_1
"Sama-sama." Dokter laki-laki tersebut lalu keluar dari ruangan Arjuna.
"Telepon Leon tidak, ya?" Calina menimbang-nimbang ponselnya. Ia bimbang, kabari Leon atau tidak.
Bagaimana jika Leon sedang sibuk? Bagaimana jika Leon sudah ada janji dengan orang lain?
Cukup lama Calina merenung dan berpikir keras. Akhirnya ia memutuskan untuk mengabari Leon. Toh Leon adalah ayahnya. Jadi Leon harus tahu. Kalau Calina tidak mengabari, bisa jadi Leon malah akan marah padanya.
"Halo, Ca." Terdengar suara Leon di seberang sana.
"Kamu di mana? Sibuk, tidak?" tanya Calina dengan suara yang bergetar karena panik.
"Baru saja selesai meeting dengan client. Ada apa? Dari nada bicara kamu, seperti ada masalah. Ada apa sebenarnya?" Rupanya Leon menyadari suara Calina yang sedang cemas.
"Juna demam tinggi, sekarang di Rumah Sakit Mawar."
"Aku ke sana sekarang." Tanpa bicara lagi, Leon langsung memutuskan sambungan telepon.
Sementara itu, Leon yang sudah memiliki janji dengan Arini, terpaksa membatalkan janji tersebut. Ia baru saja mengabari Arini kalau dirinya tidak bisa datang karena Arjuna demam tinggi.
Arini sendiri sangat trauma dengan demam tinggi. Takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan seperti kejadian Becca. Bukannya ia mendo'akan nasib Arjuna sama seperti Becca. Ia hanya cemas yang berlebihan. Itu saja.
Dan Hamdani yang mulai memahami kondisi rumah tangga putrinya, tidak mempermasalahkan hal itu. Ia memaklumi Leon yang tidak jadi datang karena anaknya sakit. Semua orang tua pasti akan cemas jika anaknya sakit.
***
Setelah satu hari di rawat, keadaan Arjuna sudah membaik. Bahkan bayi tersebut sudah bisa tertawa riang. Suhu tubuhnya juga sudah normal. Sudah mau minum ASI lagi. Dan sekarang sudah boleh pulang.
"Syukurlah Juna sudah sembuh." Leon menghembuskan nafasnya lega.
Leon hanya berdua saja dengan Calina, sedangkan Arini di rumah karena kasihan Jasmine kalau di ajak lama-lama di rumah sakit. Kemarin pun ia hanya beberapa jam saja di sana, karena Leon terus memaksa ia dan Jasmine untuk pulang.
Bukan apa-apa, Leon hanya khawatir. Bayi mudah sekali untuk tertular penyakit, bukan? Dan di rumah sakit banyak sekali orang yang sakit. Dan kita tidak pernah tahu orang di dekat kita akan menularkan penyakitnya atau tidak. Oleh karena itu ia menyuruh Arini dan Jasmine pulang. Ia hanya tidak ingin terjadi hal-hal yang tidak diinginkan pada Jasmine.
__ADS_1
"Leon, terimakasih ya sudah menyayangi Arjuna dengan luar biasa," ujar Calina sambil menatap Leon sungguh-sungguh.
"Kamu ini ngomong apa, sih. Aku ini bapaknya. Sudah seharusnya menyayangi anak sendiri."
Calina mengangguk. Ia kembali merapikan isi tasnya. "Sudah selesai. Ayo pulang!"
"Oke. Let's go, Juna! Ayo kita pulang!" Leon menggendong Arjuna menggunakan kain gendongan. Dan di tangan kirinya menenteng tas yang berisi perlengkapan Arjuna selama di rumah sakit.
Keduanya jalan bersisian menuju parkiran rumah sakit.
Dan setelah cukup lama di dalam kendaraan, akhirnya mereka sampai juga di apartemen Calina.
Calina sudah pindah apartemen lagi. Dan saat ditanya oleh Leon, ia menjawab ingin ganti suasana saja. Dan Leon percaya-percaya saja. Ia tidak mempermasalahkan sama sekali. Juga tidak menginterogasinya lebih dalam.
Calina sendiri bingung, entah Leon itu terlalu tidak perduli pada dirinya atau malah sedang memberikan kebebasan kepada dirinya sebagai istri yang mandiri.
"Sini, Juna sama aku dulu. Waktunya dia minum ASI." Calina lalu mengambil alih Arjuna dari gendongan Leon.
"Sudah lama pisah sama kamu masih mau minum ASI kamu?" tanya Leon tak percaya. Pasalnya kebanyakan bayi yang sudah terbiasa dengan dot tidak akan mau minum ASI ibunya lagi.
"Mau. Juna ini kasus langka," kata Calina sambil terkekeh.
Dan benar saja, Arjuna mau meminum ASI langsung dari ibunya. Memang benar-benar kasus langka. Leon sampai tak percaya melihat itu.
"Benar-benar kasus langka." Leon berdecak kagum sekaligus tak percaya.
"Anaknya siapa dulu?"
"Papa Leon."
"Mama Calina," sahut Calina tak mau kalah.
"Oh, iya. Saat Juna sakit, kok aku tidak melihat Via. Kemana dia?" tanya Leon.
__ADS_1
"Pacaran di Bali," jawab Calina dan di sahuti Leon dengan ber-oohh panjang.