Jodoh Istikharah

Jodoh Istikharah
JI 2 - Bully


__ADS_3

"Jasmine anak tiri... Jasmine anak tiri..."


"Haha. Anak tiri."


"Papanya Jasmine banyak istri. Wuuu..."


Teman-teman Jasmine kompak mem-bully Jasmine. Mereka bahkan seperti sedang menyanyikan sebuah yel-yel.


Mereka tau fakta tersebut dari Sinta-- guru mereka. Saat itu Sinta sedang mengajarkan tentang nama-nama keluarga yang terdiri dari Ayah, Ibu, Kakek, Nenek dan lain-lain. Namun pembahasan Sinta malah melebar sampai ke Ibu Tiri. Dan Sinta juga mencontohkan Jasmine sebagai anak tiri dari ibunya. Tidak sampai di situ, Sinta juga menceritakan kalau Ayah Jasmine memiliki banyak istri.


Awalnya anak-anak tidak tahu apa itu ibu tiri, tapi Sinta menjelaskannya dengan detail.


Setelah mendengar materi dari Sinta, tentu saja Jasmine jadi kepikiran. Ia bingung, sebenarnya ia ini anak siapa? Oleh karena itu, ia pun menanyakan pada Arini apa itu ibu tiri. Karena Jasmine tidak ingin langsung bertanya secara to the point, jadi ia berpura-pura tidak tahu tentang ibu tiri. Padahal sebenarnya ia sudah tahu.


"Hei anak tiri!"


"Anak tiri jangan nangis, dong!"


Suara-suara itu masih saja bersahut-sahutan. Memekakkan telinga Jasmine.


"Stop! Kalian jahat!" Jasmine berteriak membalas suara teman-temannya yang seperti tawon bersahut-sahutan.


"Anak tiri, weekk." Seorang bocah laki-laki berbadan gempal mengejek sambil memeletkkan lidahnya. Ingin sekali Jasmine menarik lidah tersebut supaya tidak dapat lagi berbicara.


Sinta yang mendengar ribut-ribut dari dalam kelas, segera masuk ke kelas tersebut. "Ada apa ini? Kalian ribut sekali!" Sinta bicara tidak ada manis-manisnya sama sekali.


"Kami sedang menyadarkan Jasmine, kalau dia itu anak tiri. Papanya banyak istri," ujar seorang bocah perempuan yang duduk di pojok belakang.


"Sstt... Sudah sudah. Biarkan saja. Itu hak-nya Papa Jasmine. Toh banyak istri tidak salah." Bukannya menenangkan dengan bahasa yang baik, Sinta malah seolah-olah mengompori anak didiknya.


Jasmine yang mendengar itu hanya bisa terdiam. Sementara itu teman-temannya sibuk menertawakan dirinya.


"Mari sekarang kita mulai pelajaran. Tapi sebelum itu kita harus berdo'a dulu. Ayo Huda! Pimpin do'a-nya!" ucap Sinta.

__ADS_1


Huda pun mulai memimpikan do'a. Lalu pelajaran di lakukan seperti biasanya.


Selama pelajaran berlangsung, Jasmine tidak bisa fokus sama sekali. Ia kesal dengan teman-temannya. Juga kesal dengan Sinta yang terlihat seperti memprovokasi.


***


Pulang sekolah ini Jasmine di jemput oleh Anis menggunakannya ojek online. Arini sedang bertugas, sedangkan Leon ada meeting dengan client penting.


"Loh, Nona Jasmine mengapa wajahnya kusut?" tanya Ani sambil berjalan menggandeng Jasmine menuju pinggir jalan, supaya mudah bertemu dengan tukang ojek yang akan menjemput mereka.


"Tapi Bude janji jangan bilang Mama atau Papa, ya?"


"Iya. Ada apa sebenarnya?" tanya Ani penasaran.


"Kata Bunda Sinta, Jasmine anak tiri Mama Arini. Katanya lagi, istri Papa banyak. Terus teman-teman satu kelas semuanya ngejek-ngejek Jasmine anak tiri," ucap Jasmine sambil mengelap air matanya menggunakan punggung tangan. Tanpa sadar gadis cilik tersebut menangis.


Ani langkah memeluk Jasmine dengan erat. Dalam hati ia merutuki Sinta si bedebah. Bisa-bisanya perempuan Dajjal itu menjadi guru TK. Merusak moral anak bangsa saja.


"Nona Jasmine, anak tiri atau bukan itu tidak masalah. Yang penting Mama Arini menyayangi Nona Jasmine dengan setulus hati. Nona Jasmine sayang juga kan dengan Mama Arini?" tanya Ani. Ia berjongkok untuk mensejajarkan tingginya dengan Jasmine.


"Jadi Nona Jasmine harus bersyukur. Banyak Mama Mama di luar sana yang tidak sayang pada anaknya. Bahkan anak kandung mereka sendiri di buang." Setelah mengatakan itu Ani merutuki dirinya sendiri. Bisa-bisanya ia keceplosan bicara seperti ini pada balita.


"Di buang?"


Anis mengangguk ragu-ragu. Ia menyesal telah meracuni otak anak kecil dengan informasi sadis seperti ini.


"Kalau soal Papa banyak istri, itu tidak apa-apa. Selama Papa bisa adil pada semuanya, Papa tidak berdosa. Lagian sekarang Papa sudah tidak seperti itu. Jadi intinya, Nona Jasmine jangan mendengarkan orang-orang itu. Kalau mereka masih terus mem-bully, abaikan saja! Karena kalau Nona Jasmine ladeni, mereka akan senang." Ani berkata panjang lebar.


Sepertinya Jasmine paham apa yang dikatakan oleh Ani. Raut wajahnya sudah tidak sekusut tadi.


"Baik, Bude. Jasmine tidak akan meladeni mereka lagi."


Tepat saat Jasmine selesai mengatakan janjinya, ojek online yang di pesan Ani datang. Mereka pun lalu pulang ke rumah menggunakan ojek online.

__ADS_1


Biasanya Ani akan bepergian menggunakan motor milik Leon, akan tetapi motor tersebut sedang di servis. Yang ada di rumah hanya mobil Arini. Anis tidak seperti Retno, ia tidak bisa menyetir mobil. Oleh karena itu ia memutuskan untuk menaiki ojek online saja.


***


"Cari siapa, Mbak?" Leon menegur Arini yang sedang celingak-celinguk mencari seseorang.


Begitu mengetahui kehadiran Leon, Arini langsung meninjau lengan Leon pelan. Dirinya sedang mencari Leon. Karena pulang kerja kali ini Leon mengatakan akan menjemputnya di bandara.


Tanpa berkata apa-apa lagi Arini langsung menarik tangan Leon menuju parkiran. Setelah sampai di mobil, Arini mengajak Leon untuk membeli cemilan kaki lima.


"Beli cilor, cimol sama cilok, dong!" ujar Arini sambil memasang sabuk pengaman.


"Siap, Nona. Kita cari di pinggir jalan saja, ya! Kamu lihat kiri, aku lihat kanan," saran Leon.


"Oke, siap!"


Setelah berjalan satu kilometer, mereka menemukan penjual yang mereka cari. Beruntunglah pedagang tersebut menjual semua menu yang di sebutkan Arini tadi. Jadi mereka tidak perlu mencari banyak pedagang untuk membeli tiga menu tersebut.


Satu jam kemudian mereka telah sampai di rumah. Begitu menginjakkan kaki di dalam rumah, keduanya langsung di sambut dengan Yusuf dan Jasmine. Ternyata kedua anaknya itu belum tidur meskipun sudah malam. Saat ini sudah jam seputar malam.


"Kalian mau jajanan, tidak?" tanya Arini sambil menenteng plastik berisi makanan yang tadi ia beli.


"Mau..." teriak Jasmine dan Yusuf kompak.


"Wulan, tolong di wadahin piring, ya?" ujar Arini sambil memberikan bungkusan tersebut kepada Wulan.


"Baik, Bu." Wulan langsung mengambil bungkusan tersebut dan membawanya ke dapur. Tak lama ia sudah kembali lagi ke ruang tengah.


"Ayo di makan!" Arini menawarkan pada anak-anak dan juga ART-nya. Mereka bertiga yang memang sudah mengenal sifat Arini, langsung memakan jajanan tersebut. Namun mereka masih tahu diri, mereka tidak makan banyak. Hanya mencicip saja. Karena kalau mereka tidak lekas makan, maka Arini tidak akan berhenti menawarkan.


"Aaa..." Yusuf menyodorkan cimol yang di tusuk kepada Arini. Ia ingin menyuapi ibunya.


"Duh duh duh... Anak pintar. Sini sini." Arini berjongkok dan mensejajarkan tingginya dengan Yusuf. Ia lalu menerima suapan dari anaknya itu.

__ADS_1


"Buat Papa mana?" protes Leon.


"Ini." Giliran Jasmine yang menyuapi ayahnya.


__ADS_2