Jodoh Istikharah

Jodoh Istikharah
Dingin


__ADS_3

Leon dan Becca baru saja pulang dari honey moon. Keduanya sedang berada di dalam taksi menuju rumah Becca.


Tak lama mereka pun sampai di tujuan. Belum sempat untuk merenggangkan otot tubuh, Leon sudah berpamitan pada Becca hendak menemui Arini.


"Honey, aku mau ke apartemen Arini," kata Leon sambil mengambil kunci mobil dari dalam laci nakas.


"Tapi kamu baru saja sampai, Mas. Istirahat dulu, lah. Besok kan masih ada waktu," kata Becca menyentuh pundak Leon.


Bukannya mendengarkan Becca, Leon malah langsung pergi begitu saja. "Honey, aku pergi, oke!" Leon mencium pipi Becca sekilas, lalu ia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


Sepeninggal Leon, Becca terduduk lemas di sisi tempat tidur. Hatinya terasa nyeri. Ia tidak rela Leon menemui Arini.


"Pasti ini yang di rasakan Mbak Arini. Patah hati. Tidak rela suaminya pergi ke perempuan lain. Meskipun perempuan lain itu istrinya sendiri," lirih Becca sambil terisak.


Becca membenamkan wajahnya di dalam bantal. Air matanya terus mengalir deras. Dadanya naik turun karena tangisnya.


Sementara itu di lain tempat, Leon telah sampai di apartemen Arini. Arini sedang bersiap-siap hendak terbang.


"Kamu mau berangkat kerja?" tanya Leon begitu melihat Arini menyiapkan berbagai macam kebutuhan di dalam koper.


"Iya," jawab Arini dingin dan datar.


Semenjak kedatangan Leon beberapa menit yang lalu, wajah Arini selalu datar dan dingin.


Leon sampai tidak yakin kalau wanita yang sedang berada di depannya adalah istrinya. Pasalnya, dulu Arini adalah sosok yang periang dan ceria.


"Kenapa chat-ku tidak pernah kamu balas, sayang? Aku selalu menunggu balasan darimu," kata Leon penuh hati-hati. Takut akan membuat Arini tersinggung. Pasalnya Arini yang sekarang sulit untuk di selami. Sangat misterius.


"Aku sibuk," balas Arini. Jangan lupakan ekspresi datanya.


Leon memejamkan matanya sambil menarik nafas berat. "Meskipun aku menikah lagi, aku tetap sayang kamu, Arini," lirih Leon. Ia merengkuh tubuh Arini, lalu memeluknya.


Kaku.


Tidak seperti dulu lagi. Sekarang tubuh istrinya itu sangat kaku. Rasa Leon sedang memeluk kayu balok.


Leon lalu melepaskan pelukannya, ia membiarkan Arini kembali berkemas. Laki-laki itu duduk di sisi tempat tidur sambil memperhatikan Arini berkemas.


"Waktu di pesawat, aku hendak mengejarmu tapi tidak bisa. Ada Becca yang sedang tidur di pelukanku," kata Leon.


Hening.

__ADS_1


Arini membisu dan tidak menanggapi apapun.


"Soal gosip artis Caca Calina, dia itu teman SMA-ku. Aku tidak bisa mengejarmu karena takut tidak sopan meninggalkan Calina sendirian," kata Leon lagi.


Lagi-lagi Arini hanya diam saja. Ia fokus berkemas.


Leon memijit pelipisnya yang berdenyut. Ia tahu, pasti saat ini Arini sedang marah dan kecewa padanya.


"Rini...," panggil Leon.


"Hmm."


"Aku minta maaf," lirih Leon.


Hening.


Tidak ada jawaban. Arini masih setia menutup mulutnya.


"Bicaralah, Rin. Apa saja. Aku ingin mendengar suaramu. Jangan diam seperti ini. Diammu itu menyiksaku," kata Leon frustrasi. Hampir saja air matanya mengalir. Ia sudah merasakan panas pada matanya.


Hening.


"Arrgghh!" Leon mengacak rambutnya frustrasi.


Tapi lagi-lagi, Arini tidak peduli. Ia malah memilih untuk turun ke lantai bawah untuk makan sore. Karena sebentar lagi ia akan berangkat ke bandara.


Dengan sabar, Leon mengikuti langkah kaki Arini.


Di meja makan sudah ada nasi goreng dan salad.


Tanpa di tawari oleh Arini, Leon langsung menyantap nasi goreng. Karena perutnya memang sudah sangat lapar.


Sepanjang makan, suasana sangat hening. Hanya ada suara piring dan sendok yang sedang beradu.


Selesai menyantap nasi goreng, mereka menyantap salad.


"Seperti biasa. Masakan kamu enak. Cita rasanya tidak berubah. Kamu perempuan hebat, bisa kerja di rumah, bisa juga cari uang di luar rumah. Aku salut sama kamu," kata Leon, ia lalu kembali menyantap saladnya yang tadi sempat terjeda akibat banyak bicara.


Arini menuju wastafel lalu mencuci piring bekas makannya. Kemudian ia mendi dan bersiap-siap untuk ke bandara.


"Aku pergi," kata Arini. Ia langsung meninggalkan Leon yang sedang duduk di ruang tamu.

__ADS_1


Sepeninggal Arini, hati Leon mencelos. Ia tidak suka Arininya mengatakan "aku pergi".


Kata-kata itu terkesan Arini akan meninggalkannya selamanya.


Satu lagi, biasanya sebelum berangkat kerja, Arini akan berpamitan dengan manis. Istrinya itu akan mencium punggung tangannya. Bukan seperti tadi.


Ah sudahlah, toh semua kejadian ini penyebabnya adalah Leon sendiri. Ia yang memulainya. Wajar jika Arini kecewa lalu berubah menjadi dingin.


Karena tubuhnya sangat letih, akhirnya Leon memutuskan untuk ke kamar, lalu tidur.


Ia tidak langsung pulang ke rumah Becca. Karena kondisi tubuhnya yang sangat tidak bersahabat.


Besok pagi baru ia berniat untuk pulang ke rumah Becca. Toh ia tetap di apartemen Arini juga percuma. Karena istrinya itu sedang bekerja di udara.


Pukul lima pagi Leon sudah sampai di rumah Becca. Sengaja ia pulang pagi-pagi buta karena hari ini keduanya sudah mulai masuk kerja. Kebetulan sekali Leon dan Becca satu kantor, jadi mereka bisa pergi secara bersama-sama.


"Kok sudah ke sini lagi, Mas? Mbak Arini kenapa?" tanya Becca. Dalam hati ia berharap, Arini marah lalu mengusir Leon.


"Kerja," jawab Leon.


Jawaban yang tidak di inginkan Becca.


Harusnya Mbak Arini marah. Bukan kerja. Batin Becca.


"Oh. Gitu. Kirain Mbak Arini ngusir kamu, Mas," kata Becca. Keduanya sedang bersiap di dalam kamar. Becca mematut dirinya di depan cermin, sedangkan Leon merapikan kemeja dan dasinya.


"Tidak mungkin. Arini istri yang baik. Ia tidak akan mengusir suaminya. Meskipun suaminya ini telah mengecewakannya," kata Leon dengan santainya.


Satu yang Leon tidak tahu, Becca tidak suka saat Leon memuji perempuan lain di depannya. Baginya itu sangatlah menyakitkan.


Becca melirik Leon dari kaca riasnya. Dasar laki-laki tidak memiliki kepekaan diri. Bisa-bisanya dia memuji perempuan lain di depanku. Memangnya dia pikir, hatiku ini terbuat dari batu. Menyebalkan. Kata Becca dalam hati.


"Masih lama, Honey? Aku turun duluan, ya!" kata Leon hendak mengambil tasnya.


"Tunggu. Kita turun bersama." Becca lalu buru-buru merapikan make up-nya. Tinggal blush on dan lipstik saja.


Leon mengurungkan niatnya untuk turun duluan. Dengan sabar ia menunggu Becca berdandan. Ia duduk di sisi tempat tidur sambil memperhatikan Becca menghias diri.


Selera make up Becca dan Arini sangat berbeda. Kalau Arini lebih natural dan sering menggunakan warna peach. Sedangkan Becca senang menggunakan warna yang berani. Seperti saat ini. Lipstiknya saja berwarna merah darah.


Memang cocok sih, dengan kulitnya yang putih. Tapi dengan warna seberani itu, Leon jadi salah fokus ke bibir Becca.

__ADS_1


__ADS_2