
Arini duduk menatap Leon dengan pandangan tajam. Ia masih kesal sekali pada suaminya itu. Perkara hutang yang suaminya sembunyikan membuat ia kesal bukan main.
"Kenapa? Kenapa tidak bilang sama aku kalau perusahaan sudah tidak bayar hutang selama tiga bulan?" tanya Arini dengan nada rendah. Meskipun ia kesal, tapi ia tak mau berbicara dengan nada tinggi.
"Maaf," ucap Leon dengan rasa bersalahnya. "Aku hanya tidak tahu harus memberitahumu dari mana," lanjutnya.
Arini menghembuskan nafasnya pelan. Ia memejamkan matanya sejenak, baru kemudian ia berkata, "hutangnya sudah aku bayar. Pakai uang pribadiku. Karena prinsip bisnis itu harus memisahkan uang pribadi dan perusahaan, maka aku minta izin untuk jual aset perusahaan yang fungsinya tidak terlalu diperlukan."
"Wahh... Kenapa aku tidak terpikir sejak awal, ya?" komentar Leon antusias. "Harusnya dari awal aku jual saja tv di ruanganku itu. Toh aku juga tidak pernah menontonnya."
"Jadi kamu izinkan aku untuk jual aset perusahaan?" tanya Arini.
"Tentu saja," jawab Leon yakin. Toh banyak sekali aset di perusahaannya yang fungsinya tidak diperlukan. Contohnya tv di ruang kerja Leon. Kulkas di pantry. Mobil minibus perusahaan, karena mereka sudah memiliki satu mobil boks untuk mobilitas kerja mengantar produk.
Arini duduk di depan meja rias sambil menyisir rambutnya. Seperti biasa, kebiasaan Arini sebelum tidur malam memang begini.
Jasmine dan Yusuf sudah tertidur pulas di atas ranjang. Sedangkan Leon, duduk menyandar pada sandaran tempat tidur, dengan sebuah laptop di pangkuannya.
"Tidur! Sudah malam," ujar Arini sambil berjalan menuju ranjangnya.
Leon menurut, ia lalu menyimpan laptopnya di dalam laci nakas. Setelah itu, mereka tidur.
***
Semakin hari keadaan perusahaan semakin cukup stabil. Itu semua karena Arini dan Leon tak pantang menyerah.
Arini di bantu team marketing gencar memasarkan produk mereka. Dan sekarang ini mereka sudah memiliki lumayan banyak client.
Selain itu, saat ini team produksi sedang sibuk mencari suplayer sapi tambahan. Pasalnya sapi milik Leon di kampung sudah tidak bisa lagi mencukupi permintaan pasar.
__ADS_1
Sebenarnya Arini ingin datang ke peternakan yang ada di kampung dan melihat langsung keadaan di sana, akan tetapi Leon tidak mengizinkannya bepergian jauh. Takut nantinya Arini akan kelelahan.
Peternakan tersebut sudah terbentuk sejak empat tahun yang lalu, namun belum pernah sekalipun Arini datang melihat ke sana.
Leon sendiripun jarang datang ke sana, paling-paling satu tahun empat kali. Dan itu tidak pernah menginap.
Leon percaya dengan partner kerjanya itu. Pasalnya hasil dari penjualan selalu baik dan tak jarang mengalami peningkatan secara signifikan. Leon hanya cukup memantau laporan keuangan yang dikirim melalui E-mail saja.
Awal dari terbentuknya peternakan tersebut adalah pada saat teman kuliah Leon memutuskan untuk pindah ke kampung halaman istrinya dan menjadi peternak sapi di sana. Kebetulan juga teman Leon itu adalah sarjana peternakan.
Lalu Leon menanamkan modal di peternakan tersebut. Sehingga sampailah seperti sekarang ini.
Dan saat ini, baru saja Arini selesai menjual aset-aset perusahaan. Ia telah menjual satu unit tv, satu kulkas, dan satu mobil minibus yang masih baru.
Arini tak tahu apa motivasi Leon membeli minibus, pasalnya perusahaan sudah memiliki sebuah mobil boks untuk mengantar daging dari perusahaan ke tempat client.
Uang dari penjualan tersebut Arini ambil untuk mengganti angsuran hutang dan sisanya ia masukkan ke dalam kas perusahaan.
Leon yang tahu istrinya bisa menyelesaikan masalah perusahaan dengan sangat baik, merasa bangga sekali pada istrinya itu. Ia saja yang sudah bertahun-tahun bergelut di dunia bisnis, masih kesusahan membawa perusahaannya bangkit lagi.
Tapi Arini, belum lama istri Leon itu terjun ke dunia bisnis, sudah langsung bisa membawa perubahan menuju titik terang.
Memang Leon harus mengakui, manajemen keuangan perempuan sungguh luar biasa bagusnya.
***
Tadi, Leon mengajak David untuk mengunjungi Arini di kantor. Dan sekarang di sinilah mereka. duduk berdua di ruang kerja perusahaan.
Sedangkan David, laki-laki tersebut langsung meminta izin untuk jalan-jalan di sekeliling perusahaan.
__ADS_1
Sebenarnya David tidak sedang ingin jalan-jalan, ia hanya ingin memberikan waktu berdua untuk majikannya itu. Sepertinya memang ada yang ingin mereka bicarakan berdua. Oleh karena itu, David memilih untuk jalan-jalan saja.
"Aku baru sadar, kalau ternyata selama ini manajemen keuanganku buruk sekali. Bisa-bisanya aku beli barang-barang yang akhirnya tidak digunakan," ujar Leon yang duduk di sofa panjang.
Arini yang duduk di sebelah Leon berkata, "sudahlah. Jadikan semua ini pelajaran."
Leon mengangguk setuju. Kalau tidak ditangani Arini, entah jadi apa perusahaannya ini beberapa bulan lagi. Mungkin gulung tikar.
"Hari ini kalian sudah melakukan apa saja?" tanya Arini. Ia sudah tahu tingkah absurd David. Leon sendiri yang memberitahunya. "Hal ekstrem yang tak terduga, misalnya?"
Leon menggeleng sambil tertawa. "Tidak ada. Tadi memang David mau mengajari aku makan di restoran tapi tidak bayar. Tapi aku tidak mau. Takut dosa," ujar Leon santai.
"Makan di restoran tidak bayar? Wahh... Harusnya kamu ikut saja apa kata David. Aku sendiri jadi penasaran? Bagaimana caranya, ya?" Arini terlihat seperti sedang berbicara sendiri. "Apa dengan cuci piring? Atau bagaimana?" lanjutnya.
"Ya ampun. Kenapa aku tidak berfikir sejauh itu, ya? Aku hanya mikir satu-satunya cara makan tidak bayar adalah kabur pada saat sudah kenyang. Ternyata bisa cuci piring juga, ya?" Leon terkekeh sambil geleng-geleng kepala.
Arini senang sekali melihat Leon yang sekarang ini. Leon sekarang ini sudah terlihat lebih hidup. Pandangan matanya sudah tidak kosong lagi. Ia juga jadi sering tertawa. Dan yang paling penting, Leon sudah memiliki nafsu makan lagi. Tidak hanya minum susu dan jus saja.
Semua perubahan baik Leon ini datangnya dari David. Arini sungguh berterima kasih sekali pada David. Walaupun pria itu baru berusia dua puluh tahun, tapi sikapnya memperlakukan Leon sangat kreatif sekali. Sehingga Leon tidak merasa seperti orang yang sedang sakit keras.
"Sudah saatnya makan siang. Kamu mau makan apa?" tanya Arini seraya mengambil ponselnya yang berada di atas meja kerja.
"Nasi goreng kambing," ujar Leon tanpa berfikir panjang.
"Kalau David, apa ya?" Arini seperti bertanya pada dirinya sendiri.
"Dia suka steak," ujar Leon. Leon sudah tahu kesukaan David. Karena setiap mereka ingin pergi makan ke restoran, David selalu merekomendasikan restoran steak.
"Oke, aku order dua nasi goreng kambing dan satu steak," ujar Arini dengan jari yang lincah menari-nari di atas layar ponsel. Perempuan itu sedang memesan makanan secara online.
__ADS_1