Jodoh Istikharah

Jodoh Istikharah
Becca Hamil


__ADS_3

"Aku setuju. Setiap manusia memang memiliki hak untuk bertaubat dan memperbaiki diri. Kalau kita bertaubat dengan sungguh-sungguh, pasti Tuhan akan mengampuni kita," kata Leon sambil mengangguk pelan. Mulutnya berkata seperti itu, tapi hatinya berkata lain. Ia takut Tuhan akan melaknatnya karena terlalu sering mempermainkan wanita.


"Aku mau pernikahan kita nanti dilangsungkan secara diam-diam. Jangan sampai ketahuan siapapun. Bila perlu istri tuamu tidak usah tahu. Kau juga tidak usah sering-sering menemuiku karena kamu pasti punya kesibukan dan urusan lain. Aku tidak akan menuntutmu macam-macam," kata Calina dan diangguki oleh Leon.


"Mengapa begitu? Apa kau malu memiliki suami sepertiku?" tanya Leon sambil menatap Calina lekat-lekat.


"Ah, bukan begitu. Aku hanya tidak ingin keluar berita aneh-aneh tentangku. Aku ingin hidup tenang seperti manusia pada umumnya," kata Calina membela diri.


"Baiklah. Bagaimana dengan mas kawin? Apa yang akan kau minta Calina?" tanya Leon.


"Seperangkat alat sholat saja. Aku tidak mau membebanimu dengan mas kawin yang aneh-aneh. Menikah itu kalau bisa dipermudah, mengapa harus dipersulit?" kata Calina. Ia menikah dengan Leon bukan untuk menguras harta laki-laki itu. Toh ia tahu, Leon hanya seorang karyawan dan memiliki dua istri. Otomatis uangnya tidak cukup banyak. Karena kebutuhan hidup itu tidak murah, bukan?


"Baiklah. Apakah kita mempunyai perjanjian pra nikah?" tanya Leon.


"Tidak ada," jawab Calina dengan cepat. "Seperti yang kubilang tadi saja, kau tidak perlu sering-sering menemuiku. Takut istri tuamu tidak nyaman," kata Calina.


"Baiklah, aku setuju."


Mereka harus berpisah karena Calina ada pekerjaan. Ia akan menghadiri talk show di sebuah stasiun swasta.


Sepeninggal Calina, Leon pun langsung pulang ke rumah Becca. Ia tidak pulang ke apartemen Arini, karena menurutnya percuma saja berada di sana. Arini tidak peduli padanya.


***


Tiga minggu kemudian Becca mengabari Leon bahwa sekarang ia sedang hamil. Leon yang saat itu tengah makan di sebuah restoran bersama Diana, tanpa sadar meninju udara karena saking bahagianya.


"Ada apa?" tanya Diana sambil mengernyitkan dahinya.


Leon langsung gugup. Bagaimana jika Diana maksa merampas ponselnya? Ah, gawat.


"Ti... Tidak apa-apa," jawab Leon dengan gugup. Ia langsung menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku celana.


"Kalau tidak ada apa-apa, lantas mengapa kau sangat girang seperti habis menang lotre?" tanya Diana sewot. Ia paling tidak suka Leon chattingan dengan istri-istrinya saat mereka sedang bersama. "Jangan bilang itu dari istrimu!" kata Diana dengan tatapan horornya.


"Bukan, Diana. Percayalah padaku. Aku tidak berbalas pesan dengan siapapun saat sedang bersamamu," kata Leon.


Syukurlah Diana tidak membahas hal itu lagi. Mereka lalu menyesaikan makan dengan sesekali diselingi obrolan kecil.


"Leon..."

__ADS_1


"Hmm," gumam Leon karena ia sedang mengunyah.


"Apa istrimu kurang memuaskan?"


Leon diam sejenak. Baru kemudian menjawab Diana. "Tentu saja memuaskan," jawab Leon. Biarpun ia playboy, tapi Leon paling anti menjelekkan pasangannya pada orang lain.


Diana menaikkan alisnya satu, namun tidak menjawab apa-apa. Ia kembali melanjutkan makannya.


Setelah selesai makan malam berdua dengan Diana, Leon langsung meluncur ke rumah Becca.


Sepanjang perjalanan, Leon tak henti-hentinya bersenandung karena ia sangat girang.


Bagaimana tidak girang? Becca hamil dan sebentar lagi ia akan menjadi seorang ayah.


Rencananya malam ini ia akan menginap di rumah Arini. Tetapi setelah mendapat chat dari Becca, ia memutuskan untuk pulang ke rumah Becca saja. Ia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Becca dan bayi yang ada di dalam kandungnya.


Diperjalan, ponsel Leon berdering. Menandakan ada pesan masuk. Leon membacanya saat berada di lampu merah.


Calina


Besok Minggu di Masjid At-taqwa kita menikah, Leon.


Kamu tinggal datang saja.


Acara pukul sembilan pagi.


Terserah kamu mau berangkat jam berapa, yang penting tidak terlambat.


Leon


Oke.


Leon menghembuskan nafasnya berat. Ia tidak tahu keputusan ini salah atau benar. Tapi mau bagaimana lagi, semuanya sudah disiapkan, ia tidak mungkin mengingkari janjinya. Takut menyakiti Calina.


Tiba-tiba Leon teringat orang tuanya. Beberapa hari yang lalu mamanya video call dari Korea Selatan. Mengingatkan agar Leon tidak main-main lagi dengan perempuan. Cukup dengan memiliki dua istri saja. Jangan ditambah lagi.


"Leon, jangan suka mempermainkan perasaan perempuan, nak. Sudah cukup kamu main-main dengan perempuan. Jangan tambah lagi daftar istri ataupun pacarmu. Kasihan istrimu."


"Iya,Ma," jawab Leon dengan ekspresi santai.

__ADS_1


Karena asik melamun, tak sadar Leon sudah sampai di rumah Becca. Ibu mertuanya yang membukakan pintu, katanya Becca ada di dalam kamarnya.


Sesampainya di dalam kamar, Leon melihat Becca sedang tertidur pulas dengan sebuah taspack di tangan kirinya.


Leon tersenyum sambil mengambil alat tes tersebut dan meletakkannya di atas nakas. Setelah itu, ia mengelus permukaan perut Becca yang masih rata. "Halo sayang, calon anak Papa. Baik-baik di dalam perut Mama, ya. Jangan nakal," lirih Leon. Ia lalu mencium permukaan perut Becca.


Mendapatkan sentuhan di tubuhnya, sontak membuat Becca terjaga dari tidurnya. Becca mengedipkan matanya beberapa kali. Guna menyesuaikan cahaya yang masuk ke matanya.


"Loh, kok Mas di sini. Kan hari ini jadwalnya Mbk Arini," kata Becca sambil mengernyit heran.


"Aku sudah izin Arini, Kok. Dan dia mengizinkan. Sengaja aku pulang ke sini. Mau ketemu calon anak kita," kata Leon. Ia lalu mencium pipi Becca dengan gemas.


"Yakin Mbak Arini tidak marah?" tanya Becca.


"Yakin, dong. Masa aku bohong," kata Leon.


Becca menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. Dalam hati ia iri akan kelegaan hati Arini. Perempuan itu rela di madu dan sering ditinggal. Nyaris seperti tidak memiliki suami saja.


Dalam hati Becca bertekad akan menemui Arini dan berbicara tentang seputar rumah tangga dan apa saja. Ya, ia harus kenal Arini lebih dekat dan belajar dari perjalanan hidup sang pilot cantik tersebut.


Sudah cantik, shaliha pula.


Paket lengkap.


"Mas."


"Hm."


"Aku mau ketemu Mbak Arini. Kirim nomornya, dong!" pinta Becca sambil tersenyum lebar.


Minta nomor Arini? Buat apa? Jangan bilang mau berantem. Pikir Leon.


"Buat apa, Honey?" tanya Leon pura-pura tenang. Tangannya membelai rambut Becca yang halus.


"Mau sharing. Aku mau belajar banyak hal dari Mbak Arini," kata Becca masih dengan senyum lebarnya.


Leon menarik nafas lega. Dia kira Becca akan melabrak Arini kemudian mereka berkelahi. Ternyata tidak.


"Baiklah. Nanti akan kukirim. Sekarang tidur, yuk. Sudah larut malam. Kamu jangan kecapekan. Kasian yang di sini," kata Leon sambil menunjuk perut Becca.

__ADS_1


Becca mengangguk patuh. Mereka lalu tidur bersama. Karena memang sekarang sudah lumayan larut malam.


__ADS_2