Jodoh Istikharah

Jodoh Istikharah
JI 2 - Pengacara Veronica


__ADS_3

Beberapa hari telah berlalu. Sudah tidak ada lagi pembulian di sekolah Jasmine. Ya, walaupun tetap saja Jasmine tidak memiliki teman, tapi setidaknya mereka tidak main fisik ataupun verbal.


Jasmine sendiri tidak masalah dengan hal itu. Hampir satu tahun lamanya dia sudah terbiasa sendiri di sekolah itu. Dia sudah mulai nyaman dengan kesendirian di dalam keramaian.


"Mama... Yusuf....," teriak Jasmine saat melihat ibu dan adiknya menjemput dia ke sekolah.


"Hai... Bagaimana hari ini?" tanya Arini seraya menggandeng dua buah hatinya menuju mobil.


"Baik, Ma," jawab Jasmine santai.


Jasmine dan Yusuf duduk di kursi belakang. Yusuf di dudukkan khusus di kursi bayi. Sementara Jasmine yang sudah besar, duduk manis di sebelah Yusuf sambil menjaga adiknya itu.


"Bunda Sinta sudah tidak mengajar di sekolah lagi, Ma," beritahu Jasmine saat Arini sudah melajukan mobilnya.


"Oh, ya?" tanya Arini tak percaya. "Sejak kapan, Nak?" Dia melihat Jasmine melalui spion tengah.


"Hari ini. Bunda Sinta di keluarkan dari sekolah. Kabar Mama sama Papa protes ke sekolah di dengar sampai ke pemilik sekolah. Jadi Bunda Sinta di keluarkan karena dianggap tidak kompeten sebagai guru."


Arini tersenyum sambil geleng-geleng kepala. Ada-ada saja Si Sinta itu. Tapi baguslah, kalau tidak ada lagi Sinta di sana, semoga saja pendidikan di sekolah itu semakin baik.


Tidak adanya guru tukang gibah setidaknya sedikit mampu menyelamatkan mental calon generasi muda.


"Lapel, Ma," rengek Yusuf.


Arini melihat kedua anaknya dari spion tengah. "Lapar, ya? Anak-anak Mama mau makan apa?" tanya Arini penuh kasih sayang.


"Ayam oyeng," sahut Yusuf semangat.


"Kalau Jasmine?" tanya Arini.


"Ayam goreng juga, deh," jawab Jasmine tanpa berpikir lama.


"Oke. Sekarang kita ke restoran ayam goreng, ya?!" kata Arini sambil fokus menyetir mobil.


"Asiikk....," teriak Jasmine dan Yusuf bersamaan.


Sebenarnya ini belum jamnya makan siang. Tapi nafsu makan anak-anak Arini berbeda dengan anak-anak lainnya.

__ADS_1


Yusuf dan Jasmine sering merasa lapar kapan saja. Dan dua bocah cilik tersebut tidak pernah makan diatur jadwal. Misalnya harus jam sekian atau harus sehari tiga kali.


Pokoknya kalau mereka lapar, ya mereka makan.


***


Arini, Yusuf dan Jasmine sedang makan di sebuah restoran ayam terkenal. Tanpa sengaja Arini melihat Leon dengan seorang perempuan cantik duduk berdua di salah satu meja yang ada di sudut ruangan.


Untung saja Jasmine dan Yusuf sedang asyik makan. Jadi mereka berdua tidak melihat apa yang Arini lihat.


Arini mengerutkan keningnya dalam-dalam sambil melirik ke arah suaminya. Arini berpikir positif saja. Pasti itu adalah client, atau kalau bukan, itu adalah pengacaranya.


Arini memang tahu pengacara yang menangani kasus korupsi Reza. Tapi kan ada satu pengacara lagi yang di siapkan oleh Malvin. Nah, kalau yang di siapkan oleh Malvin ini Arini tidak kenal.


Tak lama, muncul lagi seorang bapak-bapak menghampiri meja Leon dan perempuan itu.


Nah, kan benar. Itu pasti rekan kerja, batin Arini.


Pasalnya laki-laki yang menghampiri Leon dan perempuan itu adalah pengacara yang sudah Arini kenal. Pasti mereka sedang meeting untuk membahas pekerjaan.


Tak berapa lama, mereka bertiga keluar dari restoran tersebut. Sepertinya Leon tidak menyadari adanya istri dan anak-anaknya. Pasalnya laki-laki tersebut langsung keluar restoran begitu saja.


Tampaknya Leon sangat sibuk sekali. Sampai tidak tahu keadaan sekitar.


"Mama kenapa melamun?" tanya Jasmine sambil memegang ayam goreng di tangan kanannya.


Arini menggeleng pelan. "Tidak apa-apa. Ayamnya enak, ya?" tanya Arini dan di-angguki oleh kedua anaknya.


"Papa..," ujar Yusuf sambil menunjuk Leon yang ada di parkiran. Mereka bertiga duduk di sebelah jendela besar, jadi bisa melihat dengan jelas keadaan di luar. Utamanya di parkiran.


Arini dan Jasmine melihat ke arah telunjuk Yusuf. Memang benar ada Leon di sana.


Leon bersama perempuan cantik tersebut masuk ke dalam mobil Leon. Sedangkan pengacara yang Arini kenal masuk ke dalam mobil sendiri.


"Papa sama siapa, Ma?" tanya Jasmine sambil menarik gelas minum ke dekatnya.


"Sama rekan kerja," jawab Arini sambil tersenyum lebar.

__ADS_1


Jasmine dan Yusuf lantas menganggukkan kepalanya secara serentak. Padahal sebenarnya mereka berdua juga tidak tahu apa itu rekan kerja. Tapi mengangguk-angguk saja.


***


"Tadi aku liat kamu di restoran ayam. Anak-anak juga lihat," kata Arini sambil duduk di depan cermin meja rias. Dia menyisir rambutnya, itu adalah kebiasaan Arini sebelum tidur.


"Oh, ya? Kenapa kamu tidak memanggil aku?" tanya Leon sambil merebahkan dirinya di sebelah Yusuf.


"Takut ganggu. Sepertinya kamu sibuk sekali," sahut Arini sambil merebahkan dirinya di sebelah Jasmine.


Malam ini mereka tidur ber-empat. Walaupun Jasmine sudah punya kamar sendiri, tapi Arini dan Leon belum memperbolehkan gadis cilik itu tidur malam sendiri. Kalau siang sih tidak apa-apa.


"Itu tadi Pengacara Veronica," beritahu Leon. Dia takut Arini akan salah paham. Jadi sebelum Arini bertanya, ia memberitahu terlebih dahulu. "Pengacara yang di pilih Papa untuk menangani kasus korupsi Om Reza," lanjutnya.


"Aku juga sudah menduga begitu. Soalnya aku juga lihat pengacara kamu yang bapak-bapak. Pak siapa namanya? Aku lupa."


"Pak Ridwan."


"Iya, Pak Ridwan."


"Kalau aku tahu ada kalian di restoran itu, pasti aku akan mendatangi meja kalian. Penatku bisa langsung hilang kalau melihat kalian bertiga."


"Maaf, habisnya aku takut menganggu," ujar Arini dengan rasa bersalahnya. Kalau ia tahu Leon suka disamperin oleh istri dan anaknya, pasti Arini akan melakukan itu.


"Ya sudahlah. Tidak apa-apa. Namanya juga nasi sudah menjadi bubur. Tapi lain kali kalau kalian melihat aku di luar rumah, langsung panggil saja," kata Leon.


"Oke. Siap, bos," sahut Arini.


Jasmine yang sudah terlelap sampai ke alam mimpi, menggeliat untuk mencari posisi tidur yang nyaman. Arini membernarkan bantal Jasmine saat posisi kepala dan bantal anak itu tidak sesuai.


Jasmine, Jasmine, kalau leher kamu tengeng bagaimana? Batin Arini. Pasalnya anak perempuan Arini ini kalau tidur memang sedikit lasak.


"Bagaimana kasusnya?" tanya Arini saat melihat posisi tidur Jasmine sudah pas.


"Sedang berjalan," jawab Leon sambil memeluk Yusuf. "Do'akan saja semoga Om Reza lekas mengembalikan uang itu," kata Leon dengan suara pelan. Ia mulai mengantuk.


"Ya. Aku selalu berdo'a untuk itu," sahut Arini sambil memejamkan matanya. Rasa kantuk sudah menyerangnya.

__ADS_1


Tak lama mereka sudah tertidur. Hanya dengkuran nafas halus yang terdengar. Tidak ada pembicaraan lagi.


__ADS_2