
"Mama..." Arini berteriak kaget saat melihat Mutiara sedang memasak di dapur. "Ini benar, Mama? Rini tidak salah lihat, kan?" Arini berkata dengan heboh. Arini sudah tidak memiliki ibu. Oleh karena itu, ia sangat senang begitu bisa bersama dengan Mutiara seperti sekarang ini.
Mutiara yang sedang mengiris bawang bombai, menoleh ke arah Arini. "Kamu sudah pulang?" tanyanya.
Arini mengangguk. Ia mendekati Mutiara dan menyalaminya. "Mama pulang tidak bilang-bilang Rini." Arini memanyunkan bibirnya seperti anak kecil.
"Sengaja. Biar surprise," kata Mutiara sambil melanjutkan kegiatannya. "Mama mau buat daging kecap untuk makan malam kita." Tanpa di tanya Mutiara menjelaskan sendiri.
"Terus, Papa mana?" Arini bertanya.
"Papa tidak ikut pulang. Banyak kerjaan. Jadi Mama pulang sendiri," jawab Mutiara sambil melanjutkan kegiatan memasaknya.
Arini mengangguk saja. Tapi dalam hati dia bertanya-tanya. Ada gerangan apa ibu mertuanya pulang sendirian? Pasalnya selama ini ibu mertuanya selalu pulang bersama suaminya. Tidak pernah sendirian seperti ini.
Ah, pasti cuma kangen cucunya. Kata Arini dalam hati.
Toh jika ada sesuatu hal yang genting, pasti Arini akan diberitahu. Kalau diam-diam seperti ini pasti hanya kangen cucu saja.
"Kamu mandi, gih! Bau asem," ujar Mutiara sambil mengerutkan hidungnya.
Arini mencium dirinya sendiri. Dia tadi sudah mandi di pesawat. Masa sih masih asam. "Ya sudah, Rini ke atas dulu. Sekalian mau lihat anak-anak," kata Arini dan di-iyakan oleh Mutiara.
"Jasmine, Yusuf." Arini membuka pintu kamar anaknya. Ternyata kedua bocah tersebut sedang tertidur pulas. Kalau Arini atau Leon sedang bekerja, Yusuf dan Jasmine tidur di kamar anak. Sedangkan kalau ada Arini atau Leon, barulah mereka tidur di kamar utama.
Karena kalau tidak ada Leon dan Arini, yang menjaga tidur mereka adalah baby sitter. Sang baby sitter tidak enak keluar masuk kamar majikan kalau tidak sedang membersihkan ruangan.
"Baru saja tidur, Bu," ucap Ani sambil merapikan buku-buku yang tadi dia dongengkan untuk Jasmine dan Yusuf.
"Ya sudah. Bude boleh keluar. Biar saya yang jaga." Arini berbicara pelan agar tidur mengganggu anak-anaknya yang sedang tertidur pulas.
Ani mengangguk. Dirinya lalu keluar dari kamar tersebut setelah merapikan buku-buku di rak.
Sepeninggal Ani, Arini masuk ke kamarnya untuk membersihkan diri. Setelah dirinya segar, dia lalu kembali lagi ke kamar anak dan tidur di sana. Sekarang baru jam tiga sore. Masih ada waktu untuk tidur.
Tubuhnya lelah sekali setelah perjalanan jauh. Tidur sebentar pasti akan mengembalikan kesegaran tubuhnya.
***
__ADS_1
"Mama, kok Papa belum pulang, ya?" Jasmine bertanya saat ayahnya belum juga pulang. Padahal saat ini sudah larut malam sekali. Jasmine bahkan sudah dua kali bangun untuk buang air kecil. Tapi ayahnya belum juga pulang.
"Papa sedang banyak pekerjaan, Nak. Jasmine bobo, ya? Tuh lihat, Yusuf saja sudah bobo." Arini menunjuk Yusuf yang tidur di sebelahnya. Mereka tidur bertiga. Yusuf di tengah, sedangkan Arini dan Jasmine di samping kanan kiri.
Jasmine mengangguk. Tak lupa dia membaca do'a sebelum tidur. Dan tak lama kemudian, Jasmine sudah terlelap. Dapat ditandai dengan nafasnya yang teratur.
Sementara itu, Arini tidak bisa tidur. Ia kepikiran Leon. Memang sih, tadi Leon sudah mengirimkan pesan akan pulang larut malam. Tapi ini sudah pukul dua dini hari, Leon belum juga pulang. Jangan-jangan Leon mengalami suatu masalah.
Jasmine saja sudah terbangun dua kali. Masa iya Leon belum pulang juga? Sebenarnya apa yang terjadi? Seberapa banyak pekerjaannya? Pasalnya akhir-akhir ini Leon selalu pulang larut malam dengan wajah yang kuyu sekali.
Arini berjingkat bangun dan mengambil ponselnya dari atas nakas. Ia mengirimkan pesan kepada Leon. Ia harus tahu, bagaimana keadaan Leon saat ini. Supaya dirinya bisa tidur dengan nyenyak.
Arini
Kamu sedang apa? Kok belum pulang?
Aku khawatir.
Dan ternyata pesan tersebut langsung di balas orang Leon. Sepertinya Leon sedang memegang ponsel. Pasalnya tak sampai satu menit pesan tersebut langsung di balas.
Leon
Kamu jangan khawatir. Aku baik-baik saja.
Arini
Oke.
Lekas pulang.
Leon
Siap.
Arini menaruh kembali ponselnya di atas nakas. Dia bisa sedikit tenang setelah mengetahui Leon baik-baik saja.
Semenjak Becca meninggal, Leon jadi memiliki tanggung jawab lebih. Selain mengurusi perusahaannya, dia juga mengurusi cafe Becca yang ada dua cabang.
__ADS_1
Namun uang dari cafe tersebut tidak sepeserpun diambil oleh Leon dan Arini. Itu adalah uang Jasmine, karena Jasmine adalah ahli waris dari cafe tersebut. Toh Becca dan ibunya dulu membangun cafe tersebut tanpa uang dari Leon sepeserpun. Jadi uang dari cafe tersebut memang murni milik Jasmine. Mereka menabungnya untuk Jasmine gunakan ketika sudah besar nanti.
"Apa aku bantu ngurus cafe, ya? Kasihan Leon. Sepertinya dia kecapekan terlalu banyak pekerjaan." Arini bermonolog sambil duduk di atas kasur dengan posisi memeluk lutut.
"Oke, besok aku akan bicarakan ini dengan Leon." Arini masih bermonolog.
***
"Rin, kamu libur, kan?" Mutiara bertanya saat melihat Arini dan Jasmani menuruni anak tangga.
"Iya, Ma. Ada apa?" tanya Arini.
"Temani Mama ke salon, ya? Sudah lama Mama tidak ke salon."
"Siap, Ma! Nanti setelah Rini pulang dari mengantar Jasmine, kita langsung berangkat," ujar Arini. "Jasmine, salam dulu dengan Oma, Nak!" Arini menyuruh Jasmani untuk bersalaman dengan neneknya.
Jasmine menurut saja. Walaupun ia takut dengan Mutiara, tapi ia tetap menyalaminya.
"Yusuf sama Oma dulu, ya? Mama mau mengantar Kak Jasmine sekolah." Arini berbicara pada Yusuf yang ada di gendongan Mutiara.
Yusuf mengangguk patuh. "Iya, Ma," jawabnya.
Arini dan Jasmine kemudian lekas berangkat ke sekolah.
"Mama..." Jasmine memanggil Arini saat keduanya sudah berada di dalam mobil.
"Iya? Ada apa, Nak?" Arini menjawab tanpa menoleh, karena ia sedang konsentrasi menyetir.
"Menurut Jasmine, Oma Tiara sama dengan Bunda Sinta. Jasmine jadi takut." Jasmine bergidik membayangkan wajah horor keduanya.
"Sstt... Jasmine jangan bicara seperti itu. Oma Tiara itu baik, Jasmine jangan takut, ya?" Arini mengelus puncak kepala Jasmine sambil terus menyetir.
Jasmine mengangguk ragu-ragu. "Iya, Ma," jawabnya.
Mutiara tidak pernah menganggap Jasmine ada. Ibu dari Leon itu tidak pernah sama sekali memperlakukan Jasmine sebagai cucunya. Sedangkan dengan Yusuf, Mutiara sangat sayang sekaligus. Yusuf selalu di ajak main dan di gendongnya. Dan Jasmine merasakan perbedaan itu.
Arini melihat wajah murung Jasmine. Dia sendiri bingung harus bagaimana. Sampai sekarang mertuanya itu tidak pernah menyukai Jasmine. Ya, meskipun mereka tidak pernah kasar dan memukul Jasmine, tetapi sikap mereka terhadap Jasmine dan Yusuf sangat berbeda sekali.
__ADS_1
"Jasmine kenapa, Sayang? Mengapa wajahnya kusut seperti itu?" Arini menegur Jasmine yang berwajah masam.
Jasmine menggeleng. "Tidak apa-apa, kok, Ma," jawab Jasmine.