
Leon dan Arini menghentikan mobil mereka di sebuah kawasan perumahan yang cukup elit. Ya, mereka telah sampai di tempat tujuan. Rumah orang tua Leon.
Dari rumah tadi mereka mengendarai mobil sendiri-sendiri. Arini bersama ART dan anak-anaknya, sedangkan Leon sendirian saja.
Mereka sampai di sana pukul lima sore.
"Ayo masuk!" ajak Leon saat ia telah membuka pintu rumah tersebut.
Mereka semua lalu masuk ke dalam rumah tersebut. Saat ini mereka hanya membawa pakaian saja. Barang-barang yang lain belum mereka bawa.
"Kisan kisan." Yusuf menunjuk sebuah lukisan besar bertema pemandangan laut. Lukisan tersebut berada tepat di ruang tamu.
"Waahh... Bagus," puji Jasmine terkagum-kagum. Dirinya mendekat ke samping sang adik. Dia memang sangat menyukai seni lukis dan gambar.
Jasmine menoleh ke arah Wulan yang sedang menaruh tas besar di samping sofa. "Aunty Wulan, sini!" Dia melambaikan tangannya menyuruh Wulan mendekat.
"Ada apa, Nona Jasmine yang cantik seperti permaisurinya Aladin?" Wulan mendekati Jasmine sambil menjawil pipi gadis cilik itu. Sejak tahu kalau mereka memiliki hobi yang sama, Wulan dan Jasmine menjadi sangat akrab.
"Mama... Au pispis," ujar Yusuf sambil berlari mendekati Arini yang baru saja masuk sambil menenteng tas jinjing kecil.
"Yusuf mau pipis? Ayo Mama antar!" Arini langsung menggandeng Yusuf menuju toilet yang ada di lantai dasar.
"Lihat Aunty!" ujar jasmine sambil menunjuk lukisan yang terpampang di depan mereka. "Aunty bisa melukis seperti itu?" tanya Jasmine sambil menatap ke arah Wulan.
"Bisa." Wulan menjawab dengan sangat yakin. Dirinya memang bisa melukis yang mirip seperti itu. Namun tentunya belum sebagus pelukis yang melukis pemandangan indah itu.
"Serius?" tanya Jasmine tak percaya. "Boleh ajarin Jasmine melukis seperti itu?"
"Tentu," jawab Wulan yakin.
"Yes!" Jasmine meninju udara saking bahagianya.
"Jasmine, Papa naik duluan, ya!" ucap Leon dan di-iyakan oleh Jasmine.
"Ada apa ini? Kok sepertinya sangat senang sekali?" tanya Ani yang baru saja masuk. Dirinya tadi lama di luar rumah karena mengangkat telepon dari sang anak.
"Aunty Wulan mau ngajarin Jasmine melukis pemandangan, Bude," beritahu Jasmine dengan antusias.
"Wahh... Hebat! Nanti di pajang di kamar Bude, boleh tidak?" tanya Ani sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Jangan! Di pajang di ruang keluarga saja," ucap Jasmine.
__ADS_1
"Ada apa ini? Sepertinya seru," ucap Arini saat dia dan Yusuf sudah kembali dari toilet.
"Aunty Wulan mau ngajarin Jasmine melukis seperti ini, Ma," ucap Jasmine sambil menunjuk lukisan yang ada di depannya.
"Oh, ya? Kamu bisa melukis pemandangan juga, Lan?" tanya Arini tak percaya. Dia kira Wulan hanya jago menggambar manga. Ternyata tidak.
Wulan mengangguk sambil tersenyum malu-malu. "Sedikit, Bu. Tapi ya belum sebagus ini," ucap Wulan sambil menunjuk lukisan tadi.
"Tidak apa-apa, namanya juga belajar. Nanti akan bagus setelah banyak jam terbang," ucap Arini sambil menggendong Yusuf karena batita tersebut rewel minta di gendong. "Besok Mama belikan kanvas dan cat-nya," ucap Arini lagi.
"Asyik!" Jasmine kegirangan sekali.
Melihat anaknya dapat bahagia dengan cara sederhana, Arini menjadi sangat senang sekali.
"Oh, iya. Papa mana?" tanya Arini saat tak melihat Leon si sana.
"Ke kamar, Ma," jawab Jasmine.
"Ayo kita ke kamar juga!" Ucap Arini. Kemudian dirinya menatap Wulan dan Ani bergantian. "Saya tunjukkan kamar untuk Bude dan Wulan," ujar Arini sambil menuju lantai atas.
Sesampainya di lantai dua, Arini langsung menunjukkan kamar untuk keduanya tempati. Kamar tersebut sama besarnya dengan kamar lama mereka. Memang Arini paling jago soal memanusiaan manusia.
Arini menghampiri Leon di ruang perpustakaan orang tuanya. Perempuan itu membawa segelas kopi panas dan sebungkus keripik kentang.
"Buat, kamu," ucap Arini sambil menaruh minuman dan makanan yang ia bawa di atas meja.
"Terimakasih," jawab Leon sambil tersenyum lebar. Saat ini dia sedang pusing memikirkan perusahaan, tiba-tiba saja Arini datang memberikan perhatian kecil. Jiwa pantang menyerahnya langsung saja muncul.
Kedua anak mereka sudah tertidur pulas. Karena saat ini sudah pukul sebelas malam.
"Kamu masih ngerjain tugas kantor di rumah?" tanya Arini sambil menyenderkan punggungnya di tembok.
Perpustakaan mini ini tempat duduknya lesehan dan di lapisi karpet bulu halus. Membuat nyaman orang yang datang ke sini.
"Iya, jawab Leon sambil sedikit menutup laptopnya. Dia menyeruput kopi buatan istrinya tersebut.
"Hati-hati masih, Pan..." Belum selesai Arini berbicara, Leon sudah menyeruputnya.
"Panas!" Leon menjulurkan lidahnya yang terbakar.
Melihat kelakuan suaminya, Arini hanya bisa geleng-geleng kepala saja. Sudah tahu asap dari minuman tersebut masih mengepul, tapi kok malah nekat diminum.
__ADS_1
"Panas, Sayang," rengek Leon seperti bocah yang meminta cokelat pada orang tuanya.
"Itu hasil dari perbuatan kamu. Tanggung jawab sendiri," sahut Arini sambil merebahkan tubuhnya di karpet bulu halus.
Leon mencembikkan bibirnya saat diabaikan Arini. Tega sekali Arini ini, kan niatnya ia ingin bermanja-manja sejenak. Eh, malah di cuekin.
Arini meraba karpet bulu halus tersebut. Karpet itu sangat nyaman. Membuat ia ingin memejamkan matanya.
"Jangan tidur di sini, Sayang." Leon mendekati Arini kemudian membelai rambut hitam panjang istrinya.
Arini menatap Leon dengan kening berkerut. Sejak kapan suaminya ini romantis? Mau membelai kepala segala.
"Kasihan anak-anak di kamar," ujar Leon. Dia sedikit memijit kepala Arini.
Arini memejamkan matanya. Dia semakin ngantuk saja ketika mendapat perlakuan seperti itu dari suaminya.
"Pindah ke kamar, ya? Atau kalau tidak mau jalan sendiri, biar aku gendong saja," ucap Leon dengan sedikit ekspresi genitnya.
"Kayak kamu masih kuat aja. Paling-paling juga nanti ngeluh encok," ejek Arini dengan mata terpejam.
Tanpa berkata apapun, Leon langsung menggendong Arini dengan cara bridal style.
Arini sempat kaget namun sedetik kemudian dirinya pasrah saja dan malah berpura-pura tidur.
Ternyata di gendong suami rasanya enak juga, ucap Arini dalam hati.
"Kamu malah pura-pura tidur." Leon bicara dengan nafas yang sedikit terputus-putus. Namun itu bukan berarti Arini berat. Hanya memang dirinya saja yang sedang kelelahan karena sibuk mengerjakan pekerjaan kantor.
"Berat?" tanya Arini masih dengan mata yang terpejam.
"Tidak," jawab Leon dengan nafasnya yang semakin putus-putus.
Perpustakaan ada di lantai dua, sementara kamar mereka ada di lantai tiga.
Menaiki anak tangga sambil menggendong seorang dewasa cukup membuat nafas kembang kempis.
"Tolong buka pintu, Sayang!" ucap Leon saat mereka sudah sampai di depan kamar mereka.
Arini menurut, dia membuka pintu kamar tersebut. Setelah sampai di dalam kamar, Leon langsung menidurkan Arini di atas kasur.
Arini tertawa kecil saat melihat Leon ngos-ngosan duduk di lantai sambil bersandar pada dinding.
__ADS_1