
Leon duduk sendirian di depan pemakaman Becca yang tanahnya masih basah. Sedari tadi memang ia tak mengeluarkan air mata. Namun jauh di dalam lubuk hatinya ia sangat bersedih.
Semua orang sudah pergi satu persatu meninggalkan makam Becca. Begitupun Arini, ia segera pulang setelah merasakan kepalanya pusing bukan main.
Calina juga hanya datang sebentar karena ia memiliki jadwal manggung hari ini. Ia tidak memungkinkan membatalkan acara begitu saja, oleh karena itu ia harus profesional dan datang meskipun hanya 15 menit.
"Aku minta maaf tidak bisa menjadi suami yang baik buat kamu." Leon bicara di depan batu nisan Becca. "Kamu yang tenang, ya, di sana. Aku akan selalu mengirimkan do'a untukmu."
***
Genap satu Minggu kepergian Becca. Semuanya berjalan seperti pesan Becca. Retno tetap menjadi pengasuh Jasmine.
Dan sekarang Arini kembali pindah ke rumah Becca. Rumah Becca lebih luas dari apartemen miliknya. Kalau ia membawa Retno ke apartemennya, takut membuat Retno tidak nyaman.
Arini sendiri sebenarnya tidak nyaman tinggal berlama-lama di rumah Becca, takut dibilang memanfaatkan kesempatan. Oleh karena itu ia berencana membeli sebuah rumah yang cukup luas. Dan apartemennya akan ia jual. Jadi menjelang ia dapat rumah baru, ia akan menumpang dulu di rumah Becca.
"Apa itu?" tanya Arini saat Leon mengambil sebuah map dari dalam lemari pakaian Becca.
"Tidak tahu," jawab Leon. Ia pun lalu membuka map tersebut. Dan isinya membuat Leon dan Arini terkejut.
"Surat warisan atas nama Jasmine," lirih Arini. "Sebelum Becca sakit, dia pernah datang menemuiku dan berpesan, kalau nanti dia sudah tidak ada, dia mau supaya aku membesarkan Jasmine seperti anakku sendiri," tutur Arini.
Leon langsung duduk di sisi ranjang, ia menepuk tempat di sebelahnya tanda meminta Arini untuk duduk di sampingnya. "Becca bilang begitu?" tanya Leon tak percaya. Karena dengan dirinya Becca tak menitipkan pesan apa-apa.
"Iya. Sama Bude Retno juga. Becca berpesan supaya Bude Retno tetap menjadi pengasuh Jasmine saat dia sudah tidak ada," tutur Arini. "Dengan kamu sendiri bagaimana? Apakah ada pesan juga?" tanya Arini. Ia menatap Leon lekat-lekat.
Leon menggeleng pelan. "Tidak ada," lirihnya.
Arini tidak menjawab apa-apa, ia hanya diam saja. Tapi dalam hatinya ia berpikir, mengapa Becca tidak menitipkan pesan apa-apa kepada suaminya? Padahal kepada Arini dan Retno ia menitipkan pesan.
Sementara itu Leon sedang hanyut dalam pikirannya sendiri. Mengapa Becca menitipkan pesan kepada semua orang, tetapi pada dirinya tidak. Apakah sebegitu buruknya Leon di mata Becca?
"Leon..." Arini memanggil Leon yang sedang melamun.
__ADS_1
Leon menoleh dan menatap Arini seolah bertanya "ada apa?".
"Kamu kenapa?"
Leon hanya menggeleng saja.
Sebenarnya Arini ingin mengutarakan niatnya untuk membeli rumah baru, tapi hal itu ia urungkan saat melihat wajah Leon yang sedih seperti ini.
Masih ada hari esok, ia akan memberitahu besok saat kondisi Leon sudah membaik. Sekarang bukan waktu yang tepat untuk membahas rumah.
***
"Ca..." Via memanggil Calina yang sedang asik bermain ponsel.
"Hmmm..."
"Besok kosong. Aku izin, ya?"
Calina langsung menoleh ke arah Via. "Kemana? Tumben?" Ia menatap curiga ke arah Via.
"Pasti ada yang kamu sembunyikan. Ya, kan? Hayo ngaku? Firasatku sih, pasti pacaran."
"Yee... sok tau." Via mengerucutkan bibirnya. "Aku mau jalan-jalan. Refreshing."
Calina yang tidak percaya hanya bisa pura-pura percaya saja. Mau bagaimanapun dipaksa mengaku, kalau Via sedang tidak ingin mengaku, maka dia tidak akan mengatakan apapun.
"Oh, iya. Istri keduanya Leon itu siapa namanya?" tanya Via sambil mengunyah kacang atom. Ia sedang main ke apartemen Calina karena suntuk hanya sendirian saja di apartemennya. Adiknya sedang kuliah.
"Becca. Kalau nama lengkapnya sih aku tidak tahu. Ada apa memangnya?" Calina kembali melontarkan pertanyaan pada Via.
"Tidak apa-apa. Kasihan saja anaknya. Masih bayi sudah ditinggal ibunya. Terus sekarang Leon bagaimana? Dia setres tidak ditinggal dua orang istri dalam waktu yang relatif singkat?"
"Jelas sedihlah. Setiap ke sini pasti bermuram durja."
__ADS_1
Via menatap langit-langit kamar seolah sedang berfikir keras. "Ini amit-amit jabang bayi, sih. Tapi kamu pernah berpikir tidak? Kalau seandainya kamu yang tidak ada, kira-kira bagaimana ya ekspresinya saat ini?"
Sontak saja wajah Via langsung mendapat hantaman bantal dari Calina. Ini sih sama saja Via nyumpahin Calina tidak ada.
"Hehe... Bercanda, sayangku." Via mengangkat jari tengah dan telunjuknya. Peace!
"Lama-lama ngobrol sama kamu bisa buat aku darah tinggi. Lebih baik kamu duduk manis sambil ngunyah saja, deh. Tidak usah ngomong apapun." Calina merebahkan badannya di kasur sambil terus memainkan ponselnya. Ia sedang bermain game cacing.
"Iya iya. Aku janji akan diam." Via kembali mengunyah sambil mendengarkan lagu melalui earphone.
Calina hanya melirik Via sekilas, kemudian ia fokus bermain.
***
Keinginan Arini untuk membeli rumah baru tidak bisa terwujud dalam waktu dekat ini. Karena Leon tidak setuju.
Mereka baru saja selesai makan siang bersama. Keduanya bahkan masih duduk di meja makan. Dan bernegosiasi di meja makan pula.
"Sebentar lagi kamu akan melahirkan, Sayang. Lebih baik uangnya untuk keperluan persalinan atau berjaga-jaga jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Soal rumah, sabar, ya? Nanti aku belikan. Tapi tidak sekarang." Leon mencoba memperingatkan Arini bahwa masih ada prioritas yang lebih penting dari sebuah rumah. Ia tahu Arini merasa tidak nyaman tinggal di rumah Becca karena takut digosipkan yang tidak-tidak. Tapi mau bagaimana lagi. Sebentar lagi Arini akan melahirkan. Mereka harus mempunyai uang banyak untuk berjaga-jaga. Jika tabungan Leon ditambah tabungan Arini kan akan menjadi lebih baik.
"Aku tidak meminta kamu yang membelikan, Leon. Aku punya tabungan. " Arini terus saja mengotot.
Demi rumah impian. Semangat Arini. Kata Arini dalam hati.
"Tidak, Sayangku. Aku tidak akan memberi izin," kata Leon tegas dan tak terbantahkan.
Kalau sudah begini Arini hanya bisa pasrah saja. Padahal uang tabungan miliknya lumayan banyak. Maklumlah, Arini sudah bekerja sejak lama sekali. Dan ia termasuk orang yang tidak boros.
Tapi jika Leon tidak memberi izin, mau bagaimana lagi. Ia sebagai istri tidak mungkin melakukan tindakan yang tidak direstui oleh suami. Ia tidak mau durhaka.
"Ya sudah, deh. Aku pasrah," ujar Arini pelan.
"Bagus, Istriku." Leon mengusap puncak kepala Arini sebentar, kemudian ia pergi ke ruang tengah untuk menemui Jasmine yang sedang bermain dengan Retno.
__ADS_1
Arini yang masih merasa lapar pun akhirnya memutuskan untuk membuat salad buah. Ia memang baru saja selesai makan siang, tapi kalau perut masih lapar tidak ada larangan untuk makan lagi, kan?