
Leon sedang berkutat dengan pekerjaannya. Ia duduk serius di depan meja kerja dengan jari-jari yang menari lincah di atas keyboard.
Kaki Leon sudah sembuh total, sehingga ia bisa melakukan aktivitas seperti dulu. Ia sudah tidak lagi merasakan kesemutan yang sangat menyiksa itu.
Rasanya lega sekali begitu dirinya terbebas dari penyakit aneh yang merongrong tubuhnya. Kesemutan berbulan-bulan membuat dirinya nyaris frustasi, tapi untunglah sekarang sudah sembuh.
Tanpa sepengetahuan Leon, Arini sudah berdiri di depan pintu ruangan kerja Leon. Ia hendak memberikan kabar gembira untuk suaminya itu.
Dengan perasaan yang sangat bahagia, Arini mengetuk pintu ruang kerja suaminya itu.
Tik tok tok
"Masuk!" seru Leon dari dalam sana.
Dengan senyum sumringah, Arini membuka pintu itu. "Hai, siang," sapanya ceria.
"Siang, Sayang. Kamu sendirian?" tanya Leon.
Arini mengangguk. Ia lalu duduk di depan suaminya itu. "Aku punya kabar gembira. Coba tebak, kabar apa yang aku bawa?"
Leon tampak berfikir sejenak. Tapi kemudian ia menggeleng pelan. "Tidak tahu. Aku menyerah." Ia mengangkat kedua tangannya.
Arini lalu mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Kemudian ia memberikan benda kecil panjang kepada Leon.
"Kam-kamu... Hamil?" tanya Leon tak percaya. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali.
Arini mengangguk sambil tersenyum lebar. Ini sudah tiga bulan sejak mereka liburan ke puncak waktu itu. Tapi Arini belum tahu berapa usia kehamilannya ini, karena ia belum memeriksakannya ke dokter kandungan.
Spontan Leon langsung berdiri dan memeluk Arini erat. Rasanya ia tak ingin melepaskan pelukan ini. Dirinya terlampau bahagia mendapat kabar bahagia ini.
"Terimakasih. Terimakasih kamu selalu membuat aku bahagia," ujar Leon sambil mencium kening istrinya. Ia menangis haru.
Arini menghapus air mata Leon menggunakan tangannya. "Aku belum cek kehamilan, nanti temani aku ke dokter, ya?!" ujarnya.
Leon langsung mengangguk antusias. "Pasti. Pasti, Sayang," ujarnya sambil mengajak Arini untuk duduk di sofa panjang.
Keduanya larut dalam perasaan yang mengharu biru. Beberapa detik keduanya hanya diam saja.
__ADS_1
"Mama Papa sudah tahu, belum?" tanya Leon.
Arini menggeleng. "Belum. Kamu orang pertama yang aku kasih tahu," ujar Arini sambil menatap suaminya.
"Kalau begitu, aku mau memberitahu Mama Papa," ujarnya sambil berdiri untuk mengambil ponsel yang ada di laci meja kerja.
Leon memfoto tes pack yang ada di atas meja. Setelah itu, ia mengirim gambar dua garis biru itu kepada ayah dan ibunya.
"Kamu kabari Papa Dani, gih!" ujar Leon.
Arini mengangguk patuh. Dirinya lalu mengabari ayahnya tentang kehamilan ini. Ia mengabarinya via aplikasi pesan singkat.
Hari ini Leon ingin pulang cepat. Ia pun mulai membereskan pekerjaannya. Dan sisa pekerjaan lainnya, akan ia serahkan pada sekretarisnya.
Ia ingin pulang cepat karena ingin ke dokter kandungan memeriksa keadaan istri dan calon anaknya. Leon sudah tidak bisa sabar lagi untuk menunggu besok. Pokoknya ia inginnya sekarang.
***
Semenjak Leon tahu Arini hamil, ia sangat overprotektif sekali. Meskipun ini bukan anak pertamanya, tapi ia tetap antusias menunggu kelahiran buah hatinya itu.
Arini dilarang naik turun tangga. Dan sekarang mereka sudah pindah tidur di kamar lantai bawah.
Arini juga dilarang melakukan perjalanan rumah. Dan untuk pekerjaan bersih-bersih rumah, mereka menggunakan jasa pembersih daring.
Rumah ini sangat luas. Ani tidak akan sanggup menghendel sendirian. Ditambah lagi, ia harus membantu mengurusi dua bocah cilik. Kalau masih harus mengurusi rumah, Ani bisa kelelahan.
Kemarin sore Leon dan Arini sudah periksa ke dokter kehamilan. Kata dokter, usia kehamilan Arini baru dua minggu. Keadaan ibu dan janinnya sehat. Keduanya sama-sama sehat.
Saat ini keluarga Leon sedang makan malam bersama. Leon menyingkirkan piring bekas makan istrinya begitu tahu Arini sudah selesai. Ia juga mengambilkan lap tangan untuk Arini.
Jasmine yang melihat pemandangan itu, mengerutkan keningnya samar. Pasalnya sebelum ini sang ayah tidak pernah melakukan itu. Ia tahu sang ayah sangat menyayangi ibunya, tapi biasanya tidak sampai begini.
Sementara itu, Yusuf yang belum mengerti apa-apa, hanya diam saja sambil menikmati sisa makanannya yang masih banyak.
"Mama sakit, ya?" tanya Jasmine dengan polosnya. Biasanya, hanya orang sakit yang akan diperlukan istimewa seperti itu.
Arini menggeleng kuat-kuat. "Tidak, Nak. Mama baik-baik saja," ujarnya.
__ADS_1
"Tapi kok Papa sangat perhatian?" tanyanya lagi.
Leon menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia lalu duduk di sebelah Jasmine sambil kembali melanjutkan makannya yang belum habis.
"Kok Papa diam saja?" tanya Jasmine lagi.
"Oh, eh. Anu... Papa sedang bahagia, makanya Papa memperlakukan Mama seperti ratu," jawab Leon asal.
Syukurlah Jasmine percaya. Gadis cilik itu tidak bertanya lagi. Ia kembali melanjutkan makannya yang masih tersisa banyak.
Semenjak hamil ini, makan Arini sangat sedikit sekali. Hanya seperempat dari porsi biasanya. Akan tetapi, ia bisa makan satu hari beberapa kali. Tergantung suasana perutnya. Bisa sehari empat sampai enam kali. Tapi dengan porsi yang sangat sedikit tentunya.
***
Tugas David sekarang adalah mengantar jemput Jasmine dan Yusuf. Selain itu, ia juga memiliki tugas lain seperti membersihkan taman dan kolam renang. Dan kalau malam, ia melakukan sekolah untuk kejar ijazah paket.
Sepulang mengantar Yusuf dan Jasmine, David pulang ke rumah. Begitu sampai di rumah, ia disambut dengan heboh oleh Ani.
"Kok kamu tidak bilang-bilang Bude sih kalau Ibu hamil," ujar Ani sambil mengikuti David menuju dapur.
"Yang penting kan sekarang Bude sudah tahu," ujar Leon seraya membuka lemari pendingin dan mengambil sebuah apel dari sana.
David lalu duduk di meja minibar sambil menikmati apel kesukaannya. Ralat: David menyukai semua jenis buah. Jadi, buah apapun itu, asalkan tidak beracun, pasti ia makan.
"Ini pun Bude bisa tahu karena tidak sengaja mendengar obrolan Ibu dan Bapak sebelum berangkat kerja tadi. Kalau Bude tidak sengaja dengar, pasti sampai sekarang Bude masih tidak tahu sama sekali."
"Memangnya Bude mau apa kalau tahu Mbak Arini hamil?" tanya David sambil tersenyum misterius. Pasalnya, tepat dibelakang Ani ada Arini.
"Bude mau buat puding terlezat di dunia untuk merayakan kebahagiaan ini," ujar Ani serius.
"Wahh... Terimakasih kasih loh Bude sudah memiliki niat yang sangat baik," ujar Arini sambil membuka lemari pendingin dan mengambil beberapa strawberry dari dalam sana.
"Eh, ada Bu Arini." Ani menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia memang tahu kalau ada Arini di rumah, tapi ia tak menyangka kalau pembicaraannya didengar oleh sang tuan rumah.
"Ya sudah, kalian lanjutkan saja obrolannya. Saya mau ke kamar dulu," ujarnya dan di-angguki oleh David dan Ani.
Sesampainya di kamar, Arini membaca artikel tentang kehamilan sambil mengunyah strawberry.
__ADS_1
...S E L E S A I...