
"Mama... Papa..." Jasmine melambai-lambaikan tangannya minta dihampiri.
David lantas dengan sigap berlari membantu Arini untuk mendudukkan Leon di kursi roda. Setelah itu, ia mendorong kursi roda Leon mendekati Jasmine, Yusuf dan yang lainnya.
Mereka sedang berkumpul melihat kastil Yusuf yang luar biasa indahnya. Yusuf membuat kastil jauh dari pantai, jadi pada saat tadi ada ombak datang, kastil Yusuf aman. Tidak tersapu ombak seperti istana ayahnya.
"Waw!" Leon berdecak kagum melihat hasil buatan anaknya. Sangat berbanding terbalik sekali dengan buatannya yang tidak jelas tadi.
Arini lalu memfoto kastil buatan Yusuf. Tak lupa Yusuf juga masuk dalam foto. Arini sampai melongo karena terpesonanya.
"Ayo! Semuanya mendekat! Saya mau memfoto kalian," ujar Arini sambil menyuruh yang lainnya mendekat ke kastil Yusuf.
Semuanya lalu mendekat. Arini lalu megambil beberapa foto mereka.
"Gantian, Mbak. Biar saya yang fotoin," ujar David sambil meminta alih kamera Arini.
Arini lalu memberikan kameranya pada David. Mereka lalu foto bersama. Semua orang tampak ceria di dalam foto itu.
"Ini dibantu kakek atau kamu buat sendiri?" tanya Leon saat sesi foto telah selesai. Ia bertanya sambil mengusap puncak kepala anak laki-laki itu.
"Wat cendili," jawab Yusuf jujur. Ia memang membuatnya sendiri. Tidak ada bantuan Hamdani sama sekali.
"Papa hanya melihat saja. Semua ini murni buatan Yusuf," ujar Hamdani sambil menepuk punggung cucunya dengan bangga.
Arini dan menganggukkan kepalanya sambil tersenyum bangga.
"Ada yang tidak kalah bagus loh dari kastil ini," ujar Wulan sambil senyum-senyum menatap Jasmine.
Sontak Jasmine langsung menjadi pusat perhatian semua yang ada di sana. Semua orang memandang penuh harap. Mereka ingin segera melihat hasil lukisan Jasmine.
Tak terkecuali David, Ani dan Wulan. Walaupun mereka sudah melihatnya tadi, tetap saja mereka ingin melihat lagi. Lukisan Jasmine sangat bagus, membuat mereka tak bosan memandangnya.
Dengan malu-malu, Jasmine memperlihatkan hasil lukisannya. Ia membuka penutup yang sedari tadi menutupi kanvasnya.
"Waw! Bagus sekali." Hamdani terkesima takjub. Ia sampai bengong beberapa detik. "Opa beli, boleh tidak?" tanyanya.
"Jasmine tidak jual, Opa," jawab Jasmine sambil menggeleng polos.
__ADS_1
"Yaahh... Padahal Opa suka. Pingin Opa pajang di kamar," ujar Hamdani dengan raut kecewanya. Ia memang sangat suka dengan alam. Baik pantai maupun gunung, semuanya ia suka.
"Kalau Opa suka, ini buat Opa saja. Tidak usah beli." Jasmine menyodorkan hasil lukisannya dengan malu-malu.
Hamdani mengedipkan matanya tak percaya. "Buat Opa? Gratis?" tanyanya.
Jasmine mengangguk.
"Terimakasih, cucu yang sangat cantik." Hamdani mengambil hasil lukisan Jasmine dan memandanginya takjub.
"Sama-sama, Opa," jawab Jasmine masih dengan senyum malu-malunya.
Tadi Hamdani sudah memfoto kastil Yusuf banyak sekali. Hamdani pikir, ia tak akan mendapatkan kejutan selain kastil Yusuf yang indah. Ternyata ia salah, lukisan Jasmine tak kalah indah dari kastil Yusuf. Memang dua anak Arini dan Leon ini memiliki bakat yang luar biasa sekali.
Leon dan Arini merasa menyesal karena tidak melihat proses karya anak-anaknya. Terlebih lagi Leon, karena ia tadi yang mengajak Arini untuk pacaran.
"Papa menyesal tidak melihat proses pembuatan karya kalian," gumam Leon yang masih duduk di atas kursi roda. Dibelakangnya ada David yang selalu siap sedia mendorong kemana saja.
"Kalian kan jarang punya waktu berdua saja. Jadi menurut Papa, keputusan kalian tadi sudah tepat. Memang seharusnya disini kalian pacaran saja. Ketika sudah memiliki anak, terkadang kita tidak memiliki banyak waktu untuk pasangan." Hamdani yang sadar bicaranya terlalu dalam, langsung mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Apalagi ada Yusuf dan Jasmine yang melihatnya dengan kerutan kening.
Arini dan Leon mengangguk bersama.
Hamdani menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia menjadi salah tingkah sendiri. Apalagi sekarang ia tak tahu harus menjawab bagaimana.
Karena semua orang diam, akhirnya David yang menjawab. "Pacar itu seperti ini." David mengangkat tangan Wulan dan menunjukkan jari Wulan yang berwarna merah merona.
Wulan kaget karena tangannya tiba-tiba saja di tarik, tapi ia tak protes.
Yusuf melihat jari Wulan dengan kerutan kening.
"Yang merah ini namanya pacar. Pacar kuku," beritahu David dan di-angguki oleh Yusuf. Sebenarnya Yusuf tidak paham, tapi ia tetap mengangguk saja.
"Kalian lapar, tidak?" tanya Hamdani pada semua orang. Ia kembali bersuara setelah lama diam.
Serentak semuanya mengangguk kompak.
"Kita makan di sana, yuk!" ajak Hamdani sambil menunjuk warung tenda menu seafood. "Opa yang akan traktir," lanjutnya.
__ADS_1
"Asiikk...." David menyahuti dengan antusias sekali sehingga semua mata menatapnya dengan takjub. Semua orang sudah mulai paham, kalau ternyata David suka sekali makan.
Memang semua orang suka makan, tapi maksudnya, David ini suka sekali hunting kuliner. Apalagi Leon yang lebih sering bersama dengan David, lebih paham lagi soal kesukaan anak muda itu. David pernah merekomendasikan Leon dan Arini dinner di restoran mewah. Juga pernah mengajak Leon makan tidak bayar. Semua hal yang ada di pikiran David, tak pernah jauh dari makanan.
"Tunggu apa lagi? Ayo kita ke sana! Let's go!" sahut Arini tak kalah antusiasnya dari David.
Mereka lalu beramai-ramai menuju warung yang ditunjuk Hamdani tadi. Setelah sampai, mereka lalu memesan menu sesuai selera masing-masing.
Karena meja di sini hanya muat untuk empat orang, maka mereka duduk terpisah-pisah. Arini, Leon dan dua anaknya duduk di satu meja. Sedangkan Hamdani, David, Ani dan Wulan di meja yang lainnya.
Arini dan Leon memesan udang bakar madu, sedangkan Yusuf dan Jasmine memesan sate kerang dengan bumbu kuah kacang.
Setelah makanan mereka datang, mereka menikami makanan mereka masing-masing.
Arini menatap Yusuf yang sedikit kesusahan. "Mau Mama suapi, Nak?" tanyanya dengan suara lembut.
Yusuf menggelar kuat-kuat. "Sup isa kok, Ma," jawab Yusuf dengan suara cadelnya.
Arini mengangguk dan mengusap puncak kepala anaknya dengan sayang. Anak-anaknya memang seperti itu, suka makan sendiri. Dan selalu menolak jika ingin di suapi.
"Aw!" Jasmine menjerit tertahan.
"Ada apa, Nak?"
"Ada apa, Sayang?"
Leon dan Arini panik.
"Lidah Jasmine kegigit," lirih Jasmine sambil menahan sakit.
"Sini Mama lihat!" Arini mendekat ke arah Jasmine yang duduknya persis di sebelah Leon.
Jasmine menjulurkan lidahnya. Arini menghembuskan nafasnya lega saat tidak menemukan luka pada lidah Jasmine.
"Sudah tidak sakit kok, Ma," ujar Jasmine dengan ekspresi polosnya.
"Ya sudah. Lanjutkan lagi makannya. Hati-hati, ya?!" ujar Arini.
__ADS_1
Jasmine mengangguk patuh.
Mereka lalu kembali melanjutkan makan dengan lahap. Hari sudah semakin sore. Matahari sudah hampir tenggelam. Sepertinya mereka tidak bisa sampai rumah sebelum magrib. Mungkin nanti mereka akan shalat magrib di jalan saja.