
Karena kerja terlalu di forsir, akhirnya tubuh Arini menjadi drop. Dan sekarang ia harus dirawat di rumah sakit karena kelelahan.
Leon duduk di kursi roda persis di sebelah tempat tidur Arini. Sedangkan di sofa panjang, ada Hamdani beserta Yusuf dan Jasmine. David baru saja keluar untuk membeli makan siang di kantin rumah sakit.
"Kalau aku tahu akhirnya akan menjadi seperti ini, aku tidak akan mengizinkanmu bekerja di kantor," ujar Leon sambil menatap Arini lurus.
Arini tertawa kecil. "Kamu jangan terlalu cemas. Aku cuma kelelahan aja. Istirahat satu hari aja bakalan sembuh," sahut Arini santai.
"No! Satu minggu."
"Tiga hari, ya?" tawar Arini dengan tampang memelasnya.
"Lima hari, tidak ada tawar menawar."
Akhirnya mau tak mau, dengan terpaksa Arini mengangguk juga. Bisa panjang nanti urusannya kalau ia terus mendebat Leon.
"Iya, Mama harus istirahat lama. Biar sembuh total," timpal Jasmine tak mau kalah.
"Iya, Nak," jawab Arini sambil tersenyum.
***
Setelah satu hari di rawat inap, akhirnya Arini pulang. Di rumah, kerjaannya hanya makan tidur dan bermain dengan anak-anaknya saja. Sungguh membosankan sekali.
Ia ingin melakukan aktivitas. Seperti bekerja atau lain sebagainya. Tapi apalah daya, Leon tidak mengizinkannya.
Dan sekarang di sinilah Arini, perpustakaan .
Ia duduk menghadap laptop sambil mempelajari bisnis. Ada Yusuf juga di sebelahnya. Anak laki-lakinya itu sedang duduk manis sambil mewarnai sebuah buku. Sedangkan Jasmine, gadis ciliknya itu masih sekolah.
Dan kalau Leon, sekarang dia sedang keluar dengan David. Mereka berdua sedang melakukan kontrol kesehatan di rumah sakit.
Kemarin saat Arini di rawat, sebenarnya Leon ingin langsung kontrol saja, karena kebetulan rumah sakit tempat dia kontrol dan Arini di rawat adalah rumah sakit yang sama. Tapi karena kemarin dokternya tidak ada, jadilah baru sekarang ia kontrolnya.
Tok tok tok
__ADS_1
Pintu perpustakaan di ketuk dari luar.
"Masuk!" ujar Arini dari dalam ruangan.
Dari luar, muncul Ani dengan dua gelas jus buah naga. "Ini jus-nya, Bu," ucap Ani sambil menaruh dua gelas jus di atas meja.
"Terimakasih, Bude," jawab Arini ramah.
"Sama-sama, Bu." Setelah tugasnya selesai, Ani lalu keluar dari perpustakaan tersebut.
"Yusuf mau jus, Nak?" tanya Arini sambil menatap anaknya itu.
Yusuf menggeleng pelan. "Anti, Ma."
"Nanti? Ya sudah. Tidak apa-apa. Kamu lanjutkan saja mewarnainya," ujar Arini sambil mengusap puncak kepala anaknya dengan sayang.
Ia kemudian melanjutkan belajarnya lagi. Tapi sesekali diselingi menyeruput jus buah naga tanpa es dan tanpa tambahan pemanis. Walaupun rasanya agak hambar, tapi Arini suka.
***
Mereka baru saja selesai kontrol kesehatan. Dan sekarang mau pulang ke rumah.
"Iya. Sekarang saya sudah bisa memegang benda kecil dengan satu tangan. Kalau kemarin kan harus dua tangan. Megang sendok harus pakai tangan kanan dan kiri. Sekarang sudah bisa pakai tangan kanan saja." Leon bicara dengan mata yang berbinar-binar karena bahagia.
Sekarang mereka sudah tiba di mobil. Leon sudah bisa naik ke dalam mobil sendiri tanpa harus digendong oleh David.
Setelah Leon naik, David menyimpan kursi roda majikannya di bagian belakang mobil. Kemudian setelah itu, barulah ia duduk di sebelah Leon. Mengemudikan mobil menuju ke rumah.
"Saran saya, Mbak Arini di ajak jalan-jalan, Mas. Biar tidak setres. Ah, maksud saya, biar otaknya refreshing. Di rumah saja suntuk loh, Mas," ujar David sambil menoleh sekilas ke arah Leon.
Leon tampak berfikir sejenak. Sejak kemarin memang ia berniat untuk mengajak Arini jalan-jalan. Tapi ke mana, ya? Ia bingung sekali.
"Menurut kamu, kami harus jalan-jalan ke mana?" tanya Leon meminta pendapat David.
"Taman hiburan saja, Mas. Naik rollercoaster," ujar David santai.
__ADS_1
"Rollercoaster?" tanya Leon tak percaya.
"Iya." David menjawab serius.
Leon menggoreng tegas. "Terkahir kali Arini naik itu, dia muntah-muntah. Yang lain, lah! Saran kamu ekstrem terus." Leon bohong. Arini tidak muntah. Yang muntah itu dia, karena mual bercampur takut.
David tampak berfikir sejenak. "Bagaimana kalau dinner di restoran mewah. Mas Leon banyak uang, kan?"
"Jangan restoran, lah. Restoran mah bukan refreshing. Itu nambah berat badan namanya."
"Kalau taman safari, bagaimana? Sekalian mengenalkan Yusuf dan Jasmine pada hewan-hewan yang mungkin belum pernah mereka lihat secara langsung."
Usul David kali ini Leon setujui. "Ini baru usul. Saya setuju," ujarnya tanpa ragu.
David tersenyum puas karena idenya disetujui sang majikan. Mungkin harusnya David ini menjadi penasehat pribadi saja. Bukan malah menjadi perawat.
Mereka berhenti di lampu merah. Ada banyak anak-anak yang mengamen di luar sana. David jadi ingat dirinya dulu. Dulu, ia pernah seperti mereka juga.
"Apa pendapat Mas Leon tentang anak-anak itu?" David menunjuk beberapa anak yang sedang mengamen.
"Memprihatinkan. Harusnya mereka tidak di sana. Mereka seharusnya belajar di sekolah, bukan malah mengamen di lampu merah."
Ada satu anak yang mengetuk kaca mobil mereka. David lalu mengeluarkan selembar uang lima ribu rupiah dan diberikan pada adik itu.
Cuma lima ribu? Ah, David bukan bermaksud pelit. Tapi saat ini ia memang tidak membawa uang cash banyak. Hanya ada dua puluh ribu saja di dalam dompetnya. Karena ia biasa membawa e-money jika pergi ke mana-mana. Lebih simpel dan praktis.
"Balik lagi soal anak tadi, Mas." David kembali melajukan mobilnya karena sudah lampu hijau. "Iya, seharusnya mereka tidak berada di sini. Tapi keadaan yang membuat mereka ada di sini. Mereka tidak punya pilihan lain. Mereka sebenarnya ingin sekolah, tapi tidak memiliki biaya untuk itu."
"Bukannya sekarang sekolah sudah gratis?"
"Tetap saja iuran-iuran tak terduga selalu ada, Mas. Seperti kas kelas, iuran untuk membayar guru honorer. Dan iuran-iuran lainnya. Mungkin itu pengeluaran yang wajar bagi orang yang mampu, tapi tidak bagi anak-anak tadi. Buat makan saja susah, apalagi buat bayar iuran-iuran tadi."
Leon tampak mengangguk paham. Ia memang bukan terkahir di keluarga yang kaya raya. Tapi kehidupan keluarganya bisa dibilang cukup. Jadi ia tak paham dengan keadaan anak-anak jalanan tadi. Tapi setelah sedikit banyak mendengarkan cerita David, ia menjadi paham sekarang.
Bagi orang yang mampu, iuran-iuran kecil seperti itu memang wajar adanya. Kalau bukan dari murid, lalu guru honorer mau makan apa? Kalau tidak ada kas kelas, lalu jika kelas ada keadaan darurat, mereka mau pakai uang apa?
__ADS_1
Tapi bagi orang yang benar-benar tidak mampu. Mereka butuh sekolah yang seratus persen gratis.