Jodoh Istikharah

Jodoh Istikharah
JI 2 - Sekolah Rumah Pohon


__ADS_3

Arini sudah kembali sehat buagr. Sekarang ia sedang melakukan penerbangan ke luar negeri. Ketika sudah bisa kembali melakukan aktivitas dengan normal, barulah ia merasakan hidup yang sesungguhnya.


Mungkin bagi sebagian orang, di rumah saja adalah hal yang menyenangkan. Tapi itu tidak berlaku bagi Arini. Satu minggu di rumah saja, ia sudah mulai setres.


Saat ini sudah pukul dua siang. Leon dan David baru saja selesai makan siang di perusahaan. Semenjak sakit, Leon tidak pernah full time berada di kantor. Paling-paling hanya tujuh jam saja. Dari pagi sampai siang.


Dan sekarang, David dan Leon sedang di dalam mobil. Mereka memutuskan untuk pulang ke rumah.


"Mas Leon mau saya ajak ke suatu tempat, tidak?" tanya David sambil menoleh ke arah Leon. Mereka sedang berhenti di lampu merah.


"Kemana?" tanya Leon.


"Ada, deh. Rahasia."


"Saya tidak mau kalau rahasia. Kalau mau ajak saya, harus jelas ke mana tempatnya," sahut Leon tegas. Ia sudah agak trauma dengan David. Pasalnya, kelakuan laki-laki dua puluh tahun itu sering sekali diluar nalar.


"Ke kampung. Kita lihat anak-anak yang tidak mampu. Setuju, Mas?"


Leon tak langsung menjawab. Ia menatap David lurus.


"Mas Leon kan sultan. Alangkah lebih baik kalau sesekali jalan-jalannya di kampung," ujar David sambil sedikit tertawa.


"Saya bukan sultan. Orang tua saya bukan orang kaya raya. Saya juga sudah sering ke kampung. Memang, apa yang menariknya dari kampung yang kamu rekomendasikan itu?"


"Di sana ada sekolah rumah pohon. Pokoknya seru, Mas. Kita bisa lihat anak-anak belajar di rumah pohon. Biasanya mereka mulai belajar jam tiga sore," ujar David.


"Kalau begitu, alangkah lebih baik kalau kita ajak Yusuf dan Jasmine juga. Pasti mereka senang dapat teman baru di sana." ujar Leon.


"Jasmine kan les melukis, Mas," jawab David.


Leon menganggukkan kepalanya beberapa kali. "Oke. Ayo kita pergi ke sana. Kalau tempatnya bagus, lain kali baru ajak Yusuf dan Jasmine ke sana. Sekarang saya mau survei dulu," ujar Leon.


"Oke, siap, bos!" sahut David sambil memperlihatkan sikap tegap ala prajurit.


Hubungan Leon dan David tidak terlihat seperti tuan dan perawat. Malah terlihat seperti dua sahabat. Entah Leon yang terlalu santai, atau memang David yang mudah menyesuaikan diri. Pokoknya mereka terlihat cocok sekali sebagai sahabat.

__ADS_1


***


Pukul tiga sore, Leon dan David tiba disebuah kampung terpencil. Letak kampung ini cukup jauh dari pusat kota.


Jalan di kampung ini sangat kecil sekali, tidak dapat dilalui mobil. Dehingga mereka harus parkir di depan lorong. Dan berjalan kaki menuju tempat yang ingin mereka tuju. Yaitu sekolah rumah pohon.


Mereka tidak datang begitu saja. Dipangkuan Leon, terdapat beberapa buku dan krayon. Menurut informasi yang diberikan David, disekolah ini muridnya berusia dari lima sampai dua belas tahun.


Sekarang ini mereka baru saja sampai di sekolah rumah pohon. Kedatangan David langsung disambut oleh anak-anak yang ada di sana.


Mereka terlihat akrab sekali. Dan sepertinya mereka sudah lama tidak bertemu. Terlihat sekali dari pandangan mata mereka yang mengisyaratkan rindu.


"Adik-adik, perkenalkan. Ini Om Leon." David memperkenalkan Leon pada anak-anak itu.


Leon dengan ramah bersalaman satu persatu dengan mereka. Jumlah mereka hanya dua belas anak saja.


"Ini, Om bawa buku dan krayon," ujar Leon sambil menyerahkan plastik besar yang berisi buku dan krayon.


Anak-anak menerima pemberian Leon dengan gembira. Mereka lantas berlari naik ke atas rumah pohon untuk mencari buku yang mereka inginkan.


"Perkenalkan, Mas. Ini Pak Mukti. Guru sekaligus penggagas rumah pohon ini," ujar Davi sambil memindai pandang dari Leon ke Mukti.


Leon dan Mukti berjabat tangan dengan ramah.


"Leon."


"Saya Mukti, Mas."


"Bapak, guru di sini?" tanya Leon dan di-angguki oleh Mukti. "Setelah lulus dari sini, anak-anak tersebut dapat ijazah atau tidak, Pak?" tanya Leon.


"Dapat, Mas. Tapi ijazah paket. Karena ini kan sekolah darurat, tidak terdaftar di Dinas Pendidikan."


Leon menganggukkan kepalanya paham.


Terdengar suara ribut dari atas pohon. David lalu berpamitan pada Leon dan Mukti untuk melihat apa yang dilakukan anak-anak di atas sana.

__ADS_1


Dan sekarang tinggal Leon dan Mukti saja yang ada di bawah. Leon masih duduk di kursi roda, sedangkan Mukti duduk di kursi kayu panjang.


"David sering ke sini, ya, Pak?" tanya Leon sambil memandang Mukti.


"David itu aslinya orang sini, Mas. Tapi semenjak ibunya meninggal, ia merantau. Kerja-kerja serabutan," beritahu Mukti.


Leon memang sudah tahu sedikit banyak tentang David, tapi ia baru tahu kalau David aslinya orang sini. Tadi juga sepanjang perjalanan, David tidak ada memberitahu apa-apa.


"Saya senang kalau sekarang David sudah dapat pekerjaan yang bagus. Dia sering telepon saya, katanya dia betah kerja sama Mas Leon," ujar Mukti sambil tersenyum lebar.


Leon hanya membalas dengan senyuman saja.


"Sekolah ini sudah berdiri kurang lebih lima tahun yang lalu," ujar Mukti. Baru saja Leon akan bertanya kapan sekolah ini didirikan, Mukti sudah memberitahunya lebih dulu.


"Apa sekolah jauh dari sini, Pak? Sehingga anak-anak kesulitan untuk menuju sekolah."


Mukti menggeleng pelan. "Orang tua mereka tidak mampu, Mas Leon. Sebenarnya sekolah tidak jauh dari sini, hanya seratus meter saja dari sini. Tapi karena orang tua mereka tidak memiliki biaya, akhirnya anak-anak disini jarang ada yang sekolah. Akhirnya saya memutuskan untuk membuat sekolah ini."


"Jadi, anak-anak di sini jarang ada yang sekolah tinggi, Pak?" tanya Leon penasaran.


Mukti tersebut miris. "Rata-rata anak di sini hanya tamat SMP. Itupun mereka harus kerja sambil sekolah. Sekolah memang gratis, tapi orang tua mereka tidak mau mengeluarkan uang untuk transportasi, jajan atau bahkan iuran komite. Ya, terpaksa anak-anak harus kerja paruh waktu. Pagi sampai siang mereka ngamen, lalu sorenya baru mereka sekolah," tutur Mukti.


Leon menganggukkan kepalanya paham. "Jadi mereka sekolahnya sore?"


"Iya, Mas. Sekolahnya jadi satu sama SD. Kalau pagi sampai siang dipakai anak SD, sore baru dipakai anak SMP," terang Mukti.


Anak-anak dan David turun dari rumah pohon dengan wajah berbinar. Sepertinya mereka suka dengan hadiah yang dibawa Leon dan David.


"Lagi ngobrolin apa, Mas? Sepertinya seru," ujar David sambil duduk di sebelah Mukti.


"Biasalah, bapak-bapak," ujar Leon sambil terkekeh.


"Ah." David menjentikkan jarinya. "Pasti sahut-sahutan jooks receh, kan?" ujarnya.


Mukti dan Leon hanya tertawa kecil saja.

__ADS_1


__ADS_2