Jodoh Istikharah

Jodoh Istikharah
JI 2 - Retno Resign


__ADS_3

Kabar duka datang dari Retno, ayahnya di kampung meninggal dunia. Sementara itu, ibunya yang sudah sepuh sakit-sakitan dan tidak ada yang merawat. Akhirnya Retno memutuskan untuk berhenti kerja dan mengurus ibunya saja.


Retno adalah anak tunggal, dirinya tidak memiliki saudara kandung. Sehingga satu-satunya orang yang harus merawat ibunya adalah dirinya sendiri. Dulu ibunya di rawat oleh sang ayah, namun setelah ayahnya meninggal, sang ibu sendirian.


"Hati-hati di jalan, Bude. Kalau sudah sampai rumah, telepon saya," kata Arini. Dia sedang mengantarkan Retno di terminal.


"Baik, Bu. Saya pamit, bus-nya sudah mau berangkat," kata Retno sambil menenteng tas jinjing cukup besar.


"Iya, Bude. Hati-hati," ujar Arini.


Retno lalu bergegas masuk ke dalam bus bersama penumpang lainnya. Awalnya Arini ingin membelikannya tiket pesawat, namun dia tidak mau, karena dia belum pernah naik pesawat sama sekali. Takut kesasar.


Karena naik pesawat itu prosedurnya pasti ribet, tidak seperti naik bus. Retno takut bingung nantinya.


Lima hari yang lalu saat ayahnya meninggal, Retno sudah pulang kampung. Dan sekarang dia ke kota lagi untuk berpamitan dan mengambil semua barang-barangnya.


Karena barang-barang Retno cukup banyak, Arini tidak memperbolehkan Retno membawa semuanya sendiri. Barang yang tersisa akan di kirim Arini menggunakan jasa ekspedisi.


Bus mulai melaju, Retno duduk di sebelah jendela. Dia melihat Arini yang masih berdiri di tempat semula.


Jujur saja Retno merasa berat sekali untuk berhenti kerja dari Arini. Pasalnya Arini adalah majikan terbaik sepanjang masa. Selama dirinya menjadi asisten rumah tangga, baru di tempat Arini dia diperlakukan sebagai manusia. Tidak tidur di ruangan pengap dan kecil. Makan tidak dibedakan dengan majikan.


Namun takdir berkata lain, dia harus pulang untuk mengurus ibunya yang sudah sepuh.


Sementara itu, setelah bus yang membawa Retno hilang dari pandangan, Arini langsung bergegas masuk ke dalam mobilnya. Tujuannya saat ini adalah mall. Ia akan belanja popok dan kebutuhan lain anak-anaknya.


Sesampainya di mall, Arini langsung menuju perlengkapan bayi. Namun saat melintasi kios buah, Arini menghentikan langkahnya.


"Papa." Arini memanggil Hamdani yang sedang menimbang buah mangga.

__ADS_1


Hamdani menoleh. Dia kaget karena tak menyangka akan bertemu anaknya di sini. "Papa lagi beli mangga. Aldi ngidam mangga," ujar Hamdani sambil menenteng seplastik mangga dan mendekati anaknya.


"Ngidam?" Arini terkekeh. "Papa ada-ada saja. Rini mau beli popok dan skincare anak-anak. Sekarang Jasmine sudah sekolah, jadi skincare-nya sedikit boros. Biasanya di pakai seminggu tiga kali atau kalau lagi ingat saja, sekarang di pakai setiap hari."


Hamdani hanya mengangguk saja. Bayi jaman sekarang canggih. Ada skincare-nya segala. Kalau dulu, waktu Arini kecil, boro-boro pakai skincare, buat makan saja susah.


"Memangnya Aldi kenapa, Pa? Demam?" tanya Arini sambil sedikit menepi karena ada orang yang lewat. Kebiasaan Aldi kalau demam memang begitu, selalu mengidamkan mangga.


"Meriang, habis pulang dari Bali," jawab Hamdani.


Aldi memang menyukai pantai, adik Arini itu pasti ke Bali untuk mendatangi pantai. Sedangkan Hamdani lebih menyukai gunung.


"Papa mau mampir ke rumah, tidak? Rini mau masak sup daging," ujar Arini.


"Papa langsung pulang saja, kasihan Aldi. Pasti liurnya sudah keluar karena ngidam mangga," kata Hamdani sambil terkekeh.


Sementara itu, Hamdani sendiri langsung menuju meja kasir dan membayar barang belanjaannya. Dua anaknya memang berbeda. Arini kalau demam sukanya makan bubur, sedangkan Aldi kalau demam maunya makan mangga.


***


"Sepi ya tidak ada Bude Retno," kata Wulan sambil menunggu Yusuf makan. Yusuf memang batita hebat, tidak suka makan di suapi.


Ani yang sedang membereskan mainan Yusuf menoleh. "Iya. Biasanya kalau ada Mbak Retno, kami pasti sudah bergosip," kata Ani sambil memasukkan mainan lego ke dalam kardus. "Kamu payah, Lan. Tidak bisa di ajak gosip."


Wulan hanya geleng-geleng kepala sambil tersenyum saja. Dia tidak tahu, jika nanti dirinya tua, apakah akan sama seperti ibu-ibu pada umumnya? Akankah jika dia tua nanti jadi menyukai gosip?


"Bis... Bis." Yusuf mengangkat sendoknya tinggi-tinggi.


"Habis, ya? Pintar." Wulan langsung membereskan bekas makan Yusuf yang berantakan. Nasinya berceceran hingga ke mana-mana. Tapi itu dapat dimaklumi, karena Yusuf masih batita. Wajar jika makannya belum bisa rapi.

__ADS_1


Ponsel Ani di atas meja berdering. Setelah dilihat, ternyata Arini yang menelepon.


"Halo, Bu. Ada apa?" tanya Ani saat ia sudah mengangkat telepon dari Arini.


"Halo, Bude. Bude nanti tidak usah menjemput Jasmine. Biar saya yang menjemput," kata Arini dari seberang sana.


"Baik, Bu," jawab Ani.


"Ibu, ya?" Wulan bertanya saat Ani sudah menutup teleponnya.


"Iya. Kata ibu, Bude tidak usah menjemput Nona Jasmine ke sekolah. Beliau yang mau menjemput Nona Jasmine." Ani menjawab sambil menaruh ponselnya di atas meja. Kemudian dia menyimpan mainan Yusuf yang sudah dibereskannya.


Wulan yang sudah selesai membersihkan sisa makan Yusuf, mengambil ponselnya dan mulai membaca komik. Kebiasaannya saat tidak ada kerjaan memang seperti ini.


"Wulan..." Ani memanggil sambil menaikkan Yusuf ke atas mobil-mobilan karena batita tersebut merengek ingin naik mobil.


"Ada apa, Bude?" jawab Wulan sambil menoleh ke arah Ani.


"Kamu masih muda, kenapa toh mau jadi pembantu?" Ani bertanya karena ia penasaran. Harusnya seusia Wulan ini kuliah, atau setidaknya berkerja di perusahaan. Bukan malah menjadi asisten rumah tangga.


"Saya lagi mengumpulkan uang untuk lanjut kuliah, Bude. Saya mau jadi chef. Mau kuliah masak di luar negeri," jawab Wulan. Sejak kecil Wulan memang bercita-cita menjadi profesional chef. Oleh karena itu, dirinya suka sekali bekerja di bidang masak. Dulu sebelum bekerja di sini, dirinya pernah satu tahun bekerja di restoran cepat saji. Tapi di sana karirnya hanya sebagai pelayan. Kemudian pernah juga tiga bulan bekerja di Rumah Makan Padang sebagai tukang pembuat jus.


"Hebat. Cita-cita kamu tinggi. Anak Bude seusia kamu malah menikah. Sebenarnya Bude mau dia jadi dokter, tapi dia tidak mau kuliah. Katanya otaknya tidak kuat. Sekarang ya gitu. Kerja jadi kasir di toko kue.


"Perempuan, Bude?"


"Laki-laki," jawab Ani. "Laki-laki kok menikah muda. Berani sekali mengambil keputusan. Belum punya pekerjaan tetap sudah menikah." Ani malah jadi kebablasan dan curhat pada Wulan.


"Tidak apa-apa, Bude. Nanti juga ada rezekinya orang yang sudah menikah. Kadang datangnya tak terduga," ujar Wulan. Wulan memang masih belia, tapi pikirannya sungguh dewasa.

__ADS_1


__ADS_2