
Tengah malam buta tiba-tiba saja ponsel Calina berbunyi. Ada yang meneleponnya.
Calina melihat ke arah Leon yang masih tertidur pulas dan tidak terganggu akan dering ponselnya.
"Ada apa lagi?" Calina bertanya dengan ketus saat ia mengangkat teleponnya. Ia berbicara bisik-bisik karena takut mengganggu Leon.
"Mau kabur-kaburan sampai kapan?" Terdengar suara berat dari seberang sana. Ya, suara siapa lagi kalau bukan suara si brengsek.
"Cukup! Jangan ganggu kami lagi!" Calina membentak si penelepon karena ia sudah sangat kesal. Ia langsung mematikan ponselnya agar tidak ada lagi yang menggangu tidur malamnya.
Sekali lagi dia melihat Leon yang masih pulas. Dengan gerakan pelan ia turun dari ranjang. Tujuannya saat ini adalah balkon. Ia ingin menenangkan diri barang sejenak.
Yang Calina tidak tahu, sebenarnya sedari tadi Leon sudah bangun. Hanya saja ia berpura-pura tidur. Dalam hati Leon berpikir, siapa yang menelepon Calina malam-malam begini? Lalu mengapa juga Calina bisa semarah itu?
Leon bertekad dalam hatinya akan mencari tahu sendiri masalah Calina tersebut jika istrinya itu kekeuh untuk tidak mau berbagi cerita. Leon yakin, itu bukan masalah sepele. Kalau sepele, tidak mungkin Calina akan semarah itu, kan?
Diam-diam Leon menyusul Calina di balkon. "Malam-malam begini kenapa duduk di luar?"
Calina yang tidak menyangka akan di datangi Leon terperanjat. Dirinya kaget. Pasalnya Leon datang secara tiba-tiba. "Kamu ngagetin. Sini duduk!" Calina menepuk bangku di sebelahnya.
Leon pun lalu duduk di sebelah Calina. "Ada apa? Sepertinya ada masalah," tebak Leon. Ia memandang Calina lekat-lekat. "Aku suami kamu, kalau ada apa-apa, kamu harus cerita sama aku. Jangan di pendam sendiri," lanjutnya.
Calina menggeleng pelan. "Aku baika-baik saja. Memangnya aku terlihat seperti orang galau?" Calina yang tidak tahu Leon mendengar percakapannya tadi terus saja mengelak dan meyakinkan Leon kalau dirinya baik-baik saja.
Leon semakin curiga. Pasti ada yang disembunyikan Calina. Tapi ia memilih untuk tenang dan berpura-pura tidak tahu apa-apa. "Kamu sering nongkrong malam seperti ini?" tanya Leon.
"Jarang. Hanya saat sedang ingin saja," jawab Calina. Ia memandang lurus ke depan. Ke arah gedung pencakar langit yang saat ini tengah dihiasi lampu-lampu.
Leon mengangguk. "Ternyata enak ya menikmati pemandangan malam seperti ini." Leon juga ikut memandang lurus ke depan.
"Leon..." Calina memanggil Leon dengan pelan sekali.
"Ada apa?" Leon menoleh ke arah Calina dan menatapnya lekat-lekat.
"Kalau suatu saat aku..." Calina tidak jadi melanjutkan kalimatnya. Ia malah diam saja.
__ADS_1
"Suatu saat kamu?"
"Kalau suatu saat aku pingin ke Eropa. Kamu ngasih izin, tidak?" Calina asal saja bertanya. Pertanyaan sebenarnya yang ingin ia tanyakan tadi bukan itu. Tapi berhubung ia tidak bisa menanyakannya, akhirnya ia bertanya asal saja.
"Boleh. Tapi tunggu uangku cukup, ya?" jawab Leon.
"Oke. Nanti kita bisa jalan-jalan bertiga. Ke Prancis, mungkin?"
"Seluruh Eropa juga tidak apa-apa, tapi kalau kita punya uang. Kalau tidak ya jalan-jalan virtual saja." Leon terkekeh.
Calina juga ikut terkekeh.
"Tidur lagi, yuk! Besok aku kerja," kata Leon dan disetujui oleh Calina.
Keduanya lalu bergegas untuk kembali tidur. Tapi Leon tidak bisa langsung tertidur. Ia hanya pura-pura menutup mata saja. Karena di pikirannya saat ini masih ada Calina.
Sebenarnya apa yang terjadi pada Calina? Mengapa akhir-akhir ini ia aneh?
Pasalnya bukan hanya sekali ini saja Leon memergoki Calina seperti ini. Sebelum-sebelumnya sudah sering. Dan jawaban Calina selalu sama.
***
Hari ini adalah hari terakhir Hamdani bekerja. Selanjutnya ia akan pensiun. Mengetahui ayahnya akan pensiun, Arini mengantarkan ayahnya bertugas untuk yang terkahir kalinya.
"Papa hati-hati, ya!" Arini mencium punggung tangan ayahnya.
"Iya," jawab Hamdani.
"Dadahh... Opa." Arini mengangkat tangan Jasmine seperti orang melambai.
"Kakek. Jangan Opa. Nanti di sangka Oppa-Oppa Korea," protes Hamdani. Sebenarnya ia hanya bercanda saja. Dirinya mah dipanggil apa saja tidak masalah. Mau Kakek, Opa, Mbah, atau apapun itu oke saja.
"Dilarang protes. Dahh... Opa."
"Dahh... Jasmine." Hamdani melambaikan tangannya pada Jasmine dan Arini. Ia lalu hilang dari pandangan Arini karena tersamarkan dengan orang yang berlalu lalang.
__ADS_1
Setelah mengantarkan ayahnya berangkat kerja, Arini memulai untuk jalan-jalan berdua saja dengan Jasmani. Tujuannya kali ini masih mall. Ia berniat membeli mainan untuk Jasmine.
Saat hendak memasuki dalam mall, Arini di tabrak oleh empat kawanan bocah SD. Keempatnya adalah laki-laki.
"Maaf, Tante, kami tidak sengaja," kata bocah yang badannya paling kecil. "Kalian, sih, jalan tidak pakai mata." Dia memarahi tiga teman lainnya.
"Tantenya yang menghalangi jalan kita," protes bocah yang rambutnya panjang.
"Iya. Kita kan sedang buru-buru, jadi wajar kalau tidak melihat," protes yang paling besar.
Sementara yang satunya lagi hanya diam saja, ekspresinya seperti orang yang malas ribut.
"Lihat! Tantenya lagi hamil. Kasihan!" Yang paling kecil tadi menunjuk perut Arini.
"Tante tidak apa-apa, kok," kata Arini ramah.
"Heh! Bocah maling. Bocah maling! Sini kalian! Awas kalau sampai tertangkap! Saya masukkan penjara kalian! Mau di penjara, heh?" Seorang ibu-ibu gemuk berteriak sambil menunjuk-nunjuk empat bocah tadi.
Saat Arini menoleh, empat bocah tadi sudah hilang dari pandangan. Kabur.
"Ada apa, Bu?" Seorang satpam bertanya pada ibu tadi.
"Itu... Empat bocah tadi nyuri uang saya yang tidak sengaja nongol di kantung celana." Si ibu menunjuk kantung yang ada di belakang celananya, tempat tadi ia menyimpan uang. "Dasar bocah sialan. Pasti tidak pernah di didik orang tuanya." Si ibu terus saja mengomel. Khas ibu-ibu sekali.
"Berapa uang Ibu yang di ambil mereka?" tanya si satpam.
"Lima puluh ribu," jawab si ibu dengan cepat. "Walaupun cuma lima puluh ribu, kalau maling ya harus tetap di hukum. Malah kabur lagi. Tolong tangkap mereka, Pak!"
Melihat hal itu Arini hanya bisa geleng-geleng kepala tak habis pikir. Padahal kalau dilihat dari gayanya, si ibu ini adalah orang kaya. Kentara sekali dari aksesoris, tas dan pakaian yang ia kenakan. Branded.
Perkara uang lima puluh ribu saja diributkan. Memang sih kelakuan empat bocah tadi tidak baik, tapi apa salahnya di ikhlaskan saja. Cuma lima puluh ribu kok.
Arini lalu berjalan ke dalam mall. Ia tidak ingin berlama-lama mendengar ocehan si ibu. Bisa pusing dirinya nanti.
Ingatkan Arini untuk tidak membenci si ibu terlalu berlebihan. Karena saat ini dirinya sedang hamil. Takutnya sifat pelit si ibu tadi malah nurun ke anak yang ada di kandungannya ini.
__ADS_1
Amit-amit jabang bayi.