Jodoh Istikharah

Jodoh Istikharah
Calina Hamil


__ADS_3

"Hueekk!" Calina merasa mual saat mencium aroma parfum Leon. Buru-buru ia lari ke kamar mandi untuk mengeluarkan isi perutnya.


Leon yang merasa cemas, ikut berlari mendekati Calina. "Ada apa? Kau kenapa, Calina? Kau sakit? Ayo kita ke rumah sakit," ucap Leon cemas. Mana mungkin ia tidak cemas saat melihat istrinya mual-mual seperti itu.


"Jangan dekat, Leon! Jangan dekati aku!" Calina mengibas-ngibaskan tangannya agar Leon menjauh.


"Ada apa, Calina? Mengapa kau mengusirku?" kata Leon bingung. Ia tetap tidak mau menjauh. "Kau marah?" tanyanya.


"Leon, please! Jangan dekat." Karena Leon semakin mendekat bukannya menjauh. Akhirnya Calina kembali muntah.


"Aku tidak akan pergi sebelum kau katakan yang sesungguhnya," kata Leon. Ia kini berdiri di depan pintu sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada.


"Kau boleh mendekatiku asal tidak memakai parfum. Aku sedang hamil, Leon. Indera penciumku sensitif dengan bau parfummu," kata Calina pada akhirnya. Sebenarnya ia belum ingin berbicara soal kehamilannya, akan tetapi ia tidak punya pilihan lain. Ia pun takut Leon akan tersinggung lalu marah padanya.


"Kau serius?" Mata Leon membelalak dan sebuah senyum lebar terbit di wajahnya. "Akhirnya... kita akan menjadi orang tua," kata Leon heboh. Ia sangat bahagia mendengar kabar kehamilan Calina.


"Iya. Sekarang pergilah mandi lalu berganti pakaian. Ingat. Jangan pakai parfum," kata Calina. Ia lalu keluar dari kamar mandi, dan ia menjepit hidungnya saat melewati Leon.


Leon tersenyum lebar karena bahagia. Ia pun lalu menuruti kata-kata Calina. Mandi, kemudian berganti pakaian dan tidak memakai parfum.


Tadi sepulang dari kantor, Leon sengaja untuk menemui Calina karena sekarang adalah jadwalnya ia ke apartemen Arini. Kalau Arini, tidak pernah mempermasalahkan Leon pulang terlambat. Dan ia memutuskan singgah sebentar ke apartemen Calina lalu baru pergi ke apartemen Arini.


Setelah selesai mandi, Leon menemui Calina yang sedang duduk manis di meja makan sambil menggigit sebuah apel.


"Kau sedang hamil, Calina. Alangkah lebih baik kalau kau menyewa jasa asisten rumah tangga," saran Leon saat ia sudah duduk di depan Calina.


"Tidak perlu, Leon. Aku bisa sendiri. Selama ini, aku selalu sendiri. Lagian, ada Via dan adiknya di tower sebelah. Kalau ada apa-apa, aku bisa meminta tolong kepada mereka," kata Calina dengan santainya. Calina memang selalu santai. Tidak panikan.

__ADS_1


Leon tak punya pilihan lain, akhirnya ia pun mengangguk dan setuju. "Baiklah kalau itu maumu. Aku setuju," kata Leon.


"Kau harus segera ke apartemen Arini, bukan? Pergilah! Kasihan dia tidak pernah kau perhatikan," kata Calina.


"Kau mengusirku, hm?" Leon bangkit dan mendekatkan wajahnya ke wajah Calina.


Calina lalu mencium kilat pipi Leon. "Pergilah!" katanya lagi.


Leon menarik nafasnya berat. Jujur saja, ia masih ingin bersama Calina. Akan tetapi kewarasannya mengatakan harus pulang. Ia sudah terlalu banyak mengecewakan Arini. Kasihan perempuan itu.


"Baiklah. Aku pergi. Kalau ada apa-apa, kabari aku atau Via," kata Leon pada akhirnya. Ia lalu mencium bibir Calina kemudian berlalu meninggalkan perempuan itu.


Sepanjang perjalanan, pikiran Leon melayang ke mana-mana. Pikirannya terbagi-bagi. Untuk Arini, Becca dan juga Calina.


Arini masih bersikap dingin. Becca sangat manja karena hamil. Calina santai dan tidak pernah menuntut apa-apa padanya meski ia sedang hamil.


Tak terasa Leon telah sampai di tujuan. Setelah masuk ke dalam apartemen Arini, ia mendapati Arini sedang duduk di depan laptop sambil menggunakan earphone di atas kasur. Seperti sedang menonton film.


"Apa alasanmu menikah lagi? Apa dua istri kurang bagimu?" tanya Arini dengan wajah datarnya.


Deg.


Jantung Leon sekarang sedang tidak karuan. Ia menerka-nerka apa maksud perkataan Arini. Atau jangan-jangan....


"Apa maksudmu, Rin?" tanya Leon pura-pura bodoh.


Arini menghembuskan nafasnya dengan kasar. "Kau sudah menikah lagi dengan artis Caca Calina, bukan? Apa Becca sudah tahu hal ini?"

__ADS_1


"Aku... Aku... Emmm... Maksudku, kau tahu dari mana?" Leon sangat gugup dan serba salah. Tanpa sadar ia terduduk di lantai karena mendadak persendian kakinya terasa lemas.


Arini tersenyum miring. "Salah satu saksi adalah pamanku," katanya datar. "Sebenarnya aku sudah tahu ini sejak lama, akan tetapi aku pura-pura tidak tahu dan menunggu kau akan jujur. Tetapi sampai sekarang kau malah menyembunyikan ini," katanya dengan raut wajah datar dan tenang.


Leon jadi semakin serba salah. Ia mana ingat kalau salah satu saksi adalah pamannya Arini. Karena Leon dan keluarga Arini jarang bertemu dan berkumpul. Malah terkesan tidak pernah. Terakhir berkumpul ya saat mereka menikah.


"Aku minta maaf, Rin. Tolong jangan bilang hal ini kepada Becca. Kasihan, dia sedang hamil," kata Leon penuh permohonan.


"Apa aku terlihat seperti tukang pengadu, hm? Apa aku seburuk itu di matamu?"


"Tidak, Rini. Maksudku bukan begitu. Tolonglah jangan buat aku semakin tersudut. Aku mencintaimu. Itulah faktanya. Makanya aku tidak mau melepaskanmu meskipun kau tidak bisa memberikanku anak. Sekali lagi aku mencintaimu, Rini," lirih Leon sambil tertunduk.


Arini memijit pelipisnya yang berdenyut secara tiba-tiba. Emosi telah menguar di dalam dadanya. Bagaimana tidak emosi? Leon mengungkit soal kemandulannya. Wanita mana yang akan kuat mendengar itu?


Arini mematikan laptopnya dan melepas earphone dari telinganya lalu menaruhnya di atas nakas. Matanya sudah terasa panas. Leon sama sekali tidak pernah menghargainya.


Dulu, waktu pernikahan dengan Becca, Leon mengatakan kalau pernikahan keduanya lebih membuat ia nervous. Tidak seperti pernikahan pertamanya yang santai. Lalu sekarang? Laki-laki tidak berperasaan itu mengungkit-ngungkit kemandulannya.


Arini langsung mematikan lampu utama kemudian berbaring memunggungi Leon. Baginya buang-buang waktu saja berdebat dengan laki-laki seperti Leon. Egois. Tidak memiliki kasih sayang. Tidak punya hati.


"Rini, kau marah?" tanya Leon sambil merangkak ke atas tempat tidur. "Aku minta maaf, Rin," lirihnya sambil memeluk Arini erat.


Sebisa mungkin Arini menahan air matanya agar tidak keluar. Baginya, tidak wort it menangisi pria sejahat Leon.


"Aku minta maaf kalu sudah membuatmu terluka, sayang. Kumohon maafkanlah aku. Aku akan menjadi laki-laki paling malang karena mendapat marahmu. Please! Maafkan aku," lirihnya.


Hening.

__ADS_1


Seperti biasa Arini tidak menjawab apa-apa. Arini memilih diam dan tidak menanggapi Leon, karena ia tidak mau hal seperti tadi terjadi. Ia tidak mau Leon menghinanya lagi karena ia terlalu banyak menyudutkan laki-laki sialan itu.


"Baiklah kalau kau tidak mau bicara. Diammu kuanggap kau telah memaafkanku. Selamat malam, Rini. Selamat tidur. I love you," bisiknya di telinga Arini. Ia lalu memeluk tubuh Arini yang memunggunginya. Kemudian mereka tidur bersama.


__ADS_2