
Semenjak perutnya membesar, Calina tidak pernah tampil di publik. Ia tidak pernah menggung baik on air maupun off air. Hari-harinya selalu dihabiskan di apartemennya atau mengungsi ke villa-nya yang ada di puncak.
Semenjak menghilang, ia hanya mengandalkan penghasilan dari endorsment dan bisnis bakso yang omsetnya tidak seberapa.
"Ca... Kalau begini terus, aku makan apa?" omel Via sambil menatap Calina penuh permohonan.
"Bantu urus bisnis baksoku saja, Vi. Aku tidak mau kehamilanku diketahui khayalak ramai. Apalagi kalau mereka sampai tahu aku menikah siri dan sebagai istri ketiga. Aku tidak mau di cap pelakor," sahut Calina dengan santainya. Ia sedang duduk manis di depan televisi sambil mengunyah keripik pisang.
Ya, ketakutan terbesar Calina adalah privasinya diketahui publik. Kalau untuk endorsment, masih bisa di edit atau diakalin supaya perutnya tidak terlihat.
Via hanya bisa menghembuskan nafasnya kasar. Dalam hati ia merutuki dirinya yang terlalu bodoh dan tidak memiliki bisnis di luar pekerjaannya sebagai manajer.
Memang, sih, Via memiliki investasi di reksadana dan deposito. Tapi tetap saja, investasi itu tidak membuatnya kaya. Apalagi nominal yang ia investasikan tidak seberapa, manalah cukup untuk menghidupi dirinya dan keluarga. Maklum saja, Via adalah tulang punggung keluarga.
"Ya sudah, aku akan urus bantu bisnis baksomu. Yang penting tidak nganggur," ucap Via pasrah.
"Kalau bisa, buat sampai memiliki banyak cabang." Calina menimpali dengan santai sambil matanya menatap layar televisi yang menyiarkan acara kuliner.
"Oke. Aku suka tantangan," sahut Via dengan percaya dirinya. Ya, Via adalah orang yang ambisius dan menyukai tantangan. Ia bertekad akan membuat bisnis Calina memiliki banyak cabang. Sementara untuk saat ini baru ada tiga cabang saja. Dan itu semua masih berada di dalam kota.
"Mau kemana?" tanya Calina saat melihat Via berdiri.
"Pulang. Mau belajar bisnis. Supaya baksomu laku keras. Dan nantinya aku mendapatkan banyak reward," sahut Via sambil mengerlingkan matanya. Ia lalu keluar dari apartemen Calina.
Sepeninggal Via, Calina kembali sendiri. Ia menarik nafasnya dalam-dalam lalu menghembuskannya pelan-pelan.
"Kapan kamu keluar, sayang? Mama sudah tidak sabar ingin bertemu denganmu," gumam Calina sambil mengelus perutnya yang sudah membesar.
Tak lama setelah bertanya seperti itu, Calina tertawa sendiri. Ia sadar pertanyaan sangatlah bodoh. Ya, sudah jelas bayi akan berada di dalam kandungan sang ibu selama sembilan bulan.
Dan sebagai ibu yang baik, tentu saja Calina bisa memprediksi kapan bayinya akan keluar.
Ponsel yang ada di atas karpet berdering.
Leon
Apa kamu baik-baik saja, Ca? Bagaimana kabar anak kita? Maaf aku belum bisa pulang.
Tak butuh waktu lama, Calina langsung membalas pesan tersebut.
Calina
__ADS_1
Aku baik.
Kabar baby baik juga.
Iya aku tahu. Belum waktunya kamu kesini, Leon. Kamu masih harus bersama Arini.
Leon
Terimakasih kamu sangat pengertian.
I love you.
Calina
I love you too.
Calina meletakkan kembali ponselnya di atas karpet. Ia meraba perutnya yang berbunyi. Pertanda cacing di dalam perutnya sedang berdemo minta jatah.
Calina langsung sadar kalau ternyata ia belum makan siang. Ia lalu menuju dapur dan memakan masakan Via beberapa jam yang lalu.
Nasi goreng.
Tadi saat sampai di apartemen Calina, Via langsung to the point minta makan. Ia mengeluh kalau di apartemennya tidak ada makanan sama sekali.
"Seperti biasa, masakan Via enak," gumam Calina setelah ia menyuap makannya.
***
"Leon..."
"Ada apa, Rin?" tanya Leon sambil menatap Arini yang berbaring di sebelahnya.
"Apa kamu mencintai semua istri-istrimu? Emm... Maksudku, apa kamu menikah atas dasar cinta?" Arini bertanya seperti itu karena ia teringat kata-kata Calina tadi pagi.
Leon tidak langsung menjawab. Ia bingung harus menjawab bagaimana. Kalau ia mengatakan "iya", takut akan menyakiti Arini.
"Mengapa kamu bertanya seperti itu?" bukannya menjawab, Leon malah balik bertanya.
Arini yang paham Leon tidak mau menjawab, mengalihkan topik pembicaraan.
"Besok aku mau ke rumah Papa. Kamu mau ikut?" tanya Arini sambil menatap Leon lekat-lekat.
__ADS_1
"Mau," jawab Leon seketika. Memang sudah lama ia tidak mengunjungi mertuanya. Terhitung sejak ia menikah dengan Becca hingga saat ini.
Entah mengapa ada rasa canggung untuk bertemu ayah mertuanya. Ia merasa bersalah karena telah menyakiti Arini. Perempuan luar biasa yang bisa menerima semua sifat baik dan buruk seorang Leon.
"Besok tidak ada jadwal dengan istrimu yang lain?"
"Tidak. Aku sudah membuat keputusan akan berada di rumah kalian selama dua hari. Dan besok jadwalku masih bersamamu," jawab Leon.
"Tidak mau nambah tiga istri lagi? Supaya pas untuk satu minggu. Jadi setiap harinya kamu bisa berpindah-pindah tempat," ledek Arini sambil tersenyum manis.
Hati Leon langsung mencelos saat mendengar itu. Seketika wajahnya langsung berubah pucat. Lagi-lagi ia merasa semakin bersalah pada Arini.
"Wajahmu kenapa? Kamu sakit?" Arini meraba wajah Leon yang pucat. "Kamu sangat pucat," gumamnya.
Leon memegang tangan Arini yang ada di wajahnya. "Terima kasih sudah menjadi perempuan luar biasa dalam hidupku," bisik Leon sambil menatap Arini sayu.
Arini mengerjapkan matanya beberapa kali. Ia bingung, mengapa Leon malah mengalihkan pembicaraan. Padahal kan, niat Arini ingin menggoda suaminya itu. Tapi mengapa Leon malah berubah melow seperti ini.
"Dari kamu aku belajar banyak hal. Bahwasanya tidak semua perbuatan jahat harus dibalas dengan kejahatan," bisik Leon. Ia mencium tangan Arini yang ada didenggamannya. "Bahkan kamu tidak membalasku dengan selingkuh."
Kalau kondisinya tidak sedang melow seperti ini, ingin rasanya Arini menimpali sambil bercanda. Kata siapa aku tidak selingkuh? Aku selingkuh, kok. Sama oppa-oppa Korea.
"Sudahlah. Jangan ungkit yang sudah lalu. Sekarang fokus kita untuk memperbaiki diri saja." Arini mengelus pipi Leon dengan tangan lainnya yang bebas.
Leon memejamkan matanya. Ia meresapi setiap sentuhan yang diberikan oleh Arini.
Ponsel Leon yang ada di atas nakas berdering beberapa kali. Seperti ada beberapa chat yang masuk
"Coba lihat! Siapa tahu penting." Arini menyuruh Leon memeriksa ponselnya.
Leon pun bergegas memeriksa ponselnya. Takut ada sesuatu yang penting. Pasalnya baik Calina dan Becca saat ini sedang tinggal sendirian.
Diana
Kamu lupa kalau sudah menikah sama aku?
Bisa-bisanya kamu meninggalkanku begitu saja.
Leon menghembuskan nafasnya kasar. Dalam hatinya ia merutuki Diana yang terlalu egois.
Leon memilih membuat ponselnya dalam mode pesawat. Setelah itu kembali bergabung dengan Arini.
__ADS_1
"Siapa?" tanya Arini.
"Grup kantor." Leon sengaja berbohong agar tidak menambah beban pikiran Arini.