Jodoh Istikharah

Jodoh Istikharah
Hadiah Untuk Calina


__ADS_3

Leon menatap Calina dengan raut wajah datar. Sekarang ia telah tahu apa yang selama ini disembunyikan oleh istrinya itu. Tanpa banyak bicara, Leon menyodorkan sebuah kotak kado berwarna ungu untuk Calina.


"Apa ini?" tanya Calina senang. Ini memang bukan hari ulangtahunnya, akan tetapi Leon memberinya kado. Sungguh sweet sekali Leon ini.


"Buka!" perintah Leon masih dengan raut datarnya.


Calina pun menurut, ia membuka kotak tersebut. Namun saat kotak tersebut telah terbuka, betapa terkejutnya Calina. Di dalam kotak tersebut terdapat beberapa foto Calina dan seorang pria. Juga sebuah hasil tes DNA Arjuna dan Leon.


Calina langsung terduduk lemas di lantai. Seluruh sendi-sendinya seperti tidak lagi bisa difungsikan. Ia menitikkan air matanya. Ia sedih, juga merasa bersalah pada Leon.


"Sebenarnya Juna anak siapa?" tanya Leon masih dengan ekspresi datarnya. Inilah cara Leon marah, tidak menyakiti fisik ataupun verbal pada Calina.


"Frans," jawab Calina pelan. "Frans itu bajingan. Begitu dia tahu aku hamil, dia langsung meninggalkan aku. Dan sekarang setelah ia tahu Juna telah lahir, ia kembali datang dan hendak merebut Juna." Calina bicara pelan sekali, seperti orang yang sedang berbisik. Tapi masih cukup jelas di telinga Leon.


"Siapa Frans? Mantan pacar kamu?" tanya Leon.


"Iya," jawab Calina sambil menatap ubin yang dingin. Ia tidak berani menatap Leon.


Leon duduk di tepi ranjang, sementara Calina masih terduduk di lantai. "Dua hari yang lalu, saat aku baru saja sampai ke klinik dokter gigi, tanpa sengaja aku melihat kamu dan seorang pria. Pria tersebut menarik paksa tanganmu," kata Leon sambil mengingat kejadian dua hari lalu. Kejadian yang membuat hidupnya runtuh.


*Flashback Leon


"Lepas, Frans! Aku sudah bilang berkali-kali! Juna bukan anakmu! Dia anakku dan Leon!" pekik Calina kesal. Ia terus mencoba melepaskan tangannya dari Frans si bajingan.


"Anak Leon, ya? Bagaimana jika Leon tahu hasil tes DNA ini?" Frans mengibarkan sebuah kertas di hadapan Calina. Frans sendiri mendapat rambut Juna saat Calina sedang di sebuah klinik untuk mengimunisasi Juna. Saat itu seorang teman ia suruh duduk persis di sebelah Calina dan mencabut beberapa helai rambut Arjuna. Calina yang tidak sadar mengira Arjuna menangis karena lapar atau lainnya, padahal rambut bayi tersebut dicabut oleh seorang pria.


"Aku tidak takut padamu, Frans!" Calina lalu pergi begitu saja setelah berhasil melepaskan diri dari Frans. Ia langsung masuk ke dalam mobilnya dan pergi. Niat awalnya ia ingin periksa kesehatan gigi, tapi mood-nya sudah hilang. Sekarang ia hanya ingin pulang.


Leon Sendiri hanya bisa menyaksikan pemandangan itu dari dalam mobil, tak lupa ia mengambil beberapa gambar Calina dan Frans. Semua yang dikatakan keduanya tadi terdengar jelas sampai ke telinga Leon. Hingga membuat ia hanya bisa terdiam cukup lama karena kaget.

__ADS_1


"Ternyata selama ini Calina selalu seperti orang ketakutan dan marah penyebabnya adanya pria ini." Leon bermonolog sambil melihat Frans yang naik ke atas motor besarnya lalu bergegas pergi entah ke mana.


"Bodoh sekali aku tidak menyadari ini sejak awal." Leon masih saja bermonolog. Hingga beberapa menit ia hanya duduk di dalam mobil, setelah itu barulah ia keluar untuk masuk ke dalam klinik tersebut. Melakukan pemeriksaan gigi yang rutin ia lakukan selama enam bulan sekali.


*Flashback Selesai


"Maaf, Leon. Aku terpaksa melakukan ini. Aku tidak mau Juna lahir tanpa ayah. Maaf aku sudah memanfaatkanmu." Calina dengan rasa bersalahnya tidak berani menatap Leon.


"Jadi kalau aku tidak tahu sendiri rahasia ini, mau sampai kapan akan kamu sembunyikan?" Leon menatap Calina yang terduduk di lantai dan menunduk.


Calina diam saja karena tidak bis menjawab sama sekali. Terang saja ia akan merahasiakan seumur hidupnya. Tapi mana mungkin ia bicara seperti itu pada Leon.


"Saat kita nikah, kamu sudah hamil?" tanya Leon.


"Iya."


"Usia berapa?"


"Aku ingin sendiri dulu, Calina. Aku ingin pergi. Jagan cari aku dalam waktu dekat ini." Leon lalu bergegas pergi.


Sementara itu Calina hanya bisa menatap kepergian Leon dengan perasaan bersalahnya.


***


Tengah malam buta begini Leon duduk termenung di meja kerjanya. Ia hanya sedang ingin menenangkan diri. Dan kantornya adalah tempat yang paling tepat. Karena tengah malam buta begini tidak ada orang sama sekali.


Leon sendiri tidak bisa marah pada Calina. Karena ia juga sadar diri. Bagaimana jahatnya ia kepada istri-istrinya. Mungkin bisa dibilang ini adalah karma untuk dirinya.


Bagi Leon jika Calina telah bertaubat dan hendak memulai hidup baru, ia pasti akan memaafkan Calina. Toh manusia tidak pernah luput dari dosa, bukan? Hanya saja dalam waktu beberapa hari ini Leon butuh waktu untuk sendiri. Setelah dirinya tenang, barulah ia mau bertemu lagi dengan Calina.

__ADS_1


Leon Sendiri sudah terlanjur sayang dengan Arjuna. Dan sampai sekarang masih sayang, meskipun ia tahu itu bukan anaknya.


"Mengapa hidup begini rumit?" lirih Leon. Ia menjatuhkan punggungnya ke sandaran kursi sambil memijit pelipisnya yang berdenyut.


***


"Leon sudah tahu semuanya." Calina memberikan selembar kertas pada Via.


Via langsung mengambil kertas tersebut dan melihat isinya. "Tes DNA? Leon dan Juna?" tanya Via tak percaya. Ia menatap Calina penasaran. Bagaimana tidak penasaran, pasalnya selama ini Calina selalu merahasiakan hal ini dari Leon. Lalu bagaimana Leon bisa tahu ini?


"Iya," jawab Calina lemah. Ia dengan segudang rasa bersalahnya menatap kosong ke arah dinding.


"Bagaimana Leon bisa tahu? Frans yang memberitahunya?" tanya Via. Ia menatap Calina prihatin. Malang sekali nasib percintaan sahabatnya ini.


Calina menggeleng. "Leon tahu sendiri. Saat di klinik dokter gigi, aku sedang ribut dengan Frans. Dan tanpa aku sadari, di sana juga ada Leon. Dia bahkan sempat mengambil beberapa gambar kami." Calina menaruh foto yang diberikan Leon ke atas karpet.


Via mengambil foto tersebut. Dan menatapnya prihatin. Kasihan sekali Calina.


"Tapi aku heran, Leon tidak marah sama sekali. Ia hanya memasang ekspresi datar." Calina bicara sambil mengingat ekspresi Leon malam tadi.


"Mungkin cara marahnya seperti itu. Tidak arogan!" sahut Via sambil menatap foto Calina dan Frans.


Calina mengangguk setuju. "Sekarang apa yang harus aku lakukan? Aku tidak mencintai Leon. Kalaupun aku bertahan dengannya, itu tidak akan pernah membuatku bahagia."


Via menepuk bahu Calina pelan. "Kamu pikirkan baik-baik. Jangan tergesa."


"Aku sudah punya keputusan."


"Apa?"

__ADS_1


"Aku ingin cerai. Cerai lebih baik. Toh aku tidak mencintai Leon. Selama ini aku hanya pura-pura bahagia di sampingnya. Padahal sebenarnya tidak. Aku tidak pernah bahagia sama sekali."


"Apapun keputusan kamu. Aku yakin itu yang terbaik buat kamu," kata Via.


__ADS_2