
Pagi ini Leon dan David sedang mengunjungi sebuah restoran mewah. Tujuan mereka saat ini adalah: makan di restoran tapi tidak bayar.
Kedua laki-laki tersebut sengaja datang pagi-pagi, karena biasanya kalau pagi restoran cenderung sepi. Dan dugaan keduanya benar. Saat ini keadaan restoran benar-benar sepi. Hanya ada lima pengunjung yang duduk berjauhan satu sama lain.
Nanti begitu jam istirahat siang, biasanya restoran ini akan ramai. Karena letaknya dekat dengan perkantoran. Banyak karyawan yang santap siang di sini.
Begitu duduk, Leon dan David langsung disuguhkan air mineral dan biskuit gratis. Dengan lahap David memakan menu gratis tersebut.
Saat Leon hendak memesan menu, David melarangnya. "Jangan, Mas! Kita kan mau makan gratis. Kalau pesan menu, kita harus bayar," ujar David dengan wajah polosnya.
Leon melompong saking kagetnya. Setelah sembuh dari kaget, Leon lantas bersuara. "Kita makan gratis ini?" tanya Leon sambil mengangkat dua piring berisi biskuit.
David mengangguk. "Iya," jawab David santai.
"Tapi bagaimana caranya kita keluar dari sini tanpa order apa-apa?" tanya Leon heran. Malu sekali rasanya kalau keluar dari sini tidak memesan apa-apa. Apalagi biskuit di atas meja sudah di habiskan. Apa kata pelayanan restoran nanti?
"Tenang, Mas. Nanti saya kasih tahu caranya," ujar David sambil menaik-turunkan alisnya.
Akhirnya Leon pun menuruti apa kata David. Ia lantas memakan biskuit yang ada di atas meja. Rasanya tidak ada yang spesial. Sama seperti biskuit pada umumnya.
"Kita di lihatin terus, Vid. Pelayan di ujung sana dari tadi lihatin kita terus. Mungkin karena kita tidak kunjung meng-order menu," ujar Leon sambil melirik sekilas ke arah dua pelayan yang sedang sibuk berbisik dan melihat ke arah meja mereka.
Ya, wajar saja sih mereka melihat Leon dan David seperti itu. Pasalnya, sejak buku menu dan biskuit ditaruh di meja mereka, mereka tak kunjung meng-order menu dan malah sibuk menikmati biskuit.
Saat biskuit di piring David sudah habis, ia lantas terbatuk-batuk hebat. "Uhuk uhuk uhuk!"
"Kamu kenapa?" tanya Leon cemas.
"Ini akting, Mas," bisik David sambil mengerling ke arah Leon.
Saking bagusnya akting David, perawat Leon itu mukanya sampai merah dan matanya mengeluarkan air mata. Semua yang ada di restoran tersebut melihat heran ke arah David. Termasuk beberapa tamu yang sedang makan.
"Ba-bagaimana ini? Uhuk uhuk. Apa bahan biskuit ini? Bisa-bisanya biskuit ini hampir membunuh, saya!" Ucap David sambil memandang beberapa karyawan dengan tatapan tajam.
__ADS_1
Salah satu karyawan menghampiri David. "Maaf, Mas. Tapi ini bahannya premium. Chef kami tidak sembarangan masak," ujarnya menerangkan dengan ramah.
"Lantas yang baru saja terjadi ini apa? Saya hampir mati tersedak, loh. Biskuitnya kasar. Bikin sakit tenggorokan," ujar David.
"Kami minta maaf, Mas." Karyawan tersebut meminta maaf dengan tulus. Ia tak ingin masalah ini membesar nantinya.
"Sudahlah, saya tidak jadi makan di sini." David langsung berdiri dari tempat duduknya. "Ayo kita pulang saja, Mas," ujar David sambil mendorong Leon keluar dari restoran tersebut.
Beberapa pengunjung dan karyawan melihat kepergian David dan Leon dengan tatapan heran.
Sesampainya David dan Leon di dalam mobil, keduanya lantas tertawa terbahak-bahak.
"Kamu gila!" Leon bicara sambil memegang perutnya yang keras akibat banyak tertawa. "Kalau cuma biskuit, saya bisa beliin untuk kamu. Lagian di rumah juga banyak," ujarnya sambil geleng-geleng kepala.
David melajukan mobil sambil tertawa riang. "Kan sensasinya beda, Mas. Ini lebih memicu adrenalin."
"Kamu sering melakukan itu?" tanya Leon.
"Ini pertama dan terakhir kalinya," jawab David sambil fokus mengemudi.
"Tapi kan buktinya sekarang kita aman, Mas," sahut David santai.
"Huft! Lain kali kalau kamu mau ngajak melakukan hal-hal aneh lagi, saya akan berfikir seribu kali dulu."
David terkekeh sambil geleng-geleng kepala. "Tapi ini pengalaman yang bagus, Mas. Mas Leon tidak akan mendapatkan pengalaman ini kalau tidak bertemu saya."
"Ya, itu memang benar. Tapi saya juga tidak akan jantungan kalau tidak ketemu kamu," sahut Leon sambil memutar lagu melalui tape yang ada di mobil.
"Kita langsung pulang, Mas? Atau jalan-jalan dulu?" tanya David sambil menoleh sekilas ke arah Leon.
"Langsung pulang saja. Saya lapar, belum sarapan," ujar Leon. Memang, saat pergi ke restoran tadi Leon belum sarapan. Karena ia berfikir nanti akan sarapan di restoran. Tapi ternyata malah ia di prank oleh David.
David mengangguk sambil melajukan mobilnya menuju rumah. Sebenarnya ia juga lapar. Karena tadi belum sarapan. Biskuit beberapa biji tidak sanggup mengganjal perutnya.
__ADS_1
***
Akhir-akhir ini Arini sibuk sekali. Ia kerja sebagai pilot dan juga mengurus perusahaan dan juga dua cafe.
Waktu Arini untuk bermain dengan Jasmine dan Yusuf menjadi berkurang. Mereka paling hanya bertemu pagi. Dan kalau malam saat Arini pulang kerja, Yusuf dan Jasmani sudah tidur.
"Hari ini Mama kerja di mana, Pa?" tanya Jasmine sambil menuangkan sereal dan susu ke dalam mangkuk. Keduanya sedang duduk di meja minibar yang ada di dapur.
"Hari ini Mama di perusahaan. Besok subuh Mama terbang," beritahu Leon sambil tersenyum.
Jasmine menganggukkan kepalanya paham.
Dari arah kolam renang, terdengar tawa cekikikan Yusuf dan David. Mereka berdua sedang berenang. Lebih tepatnya, David mengajari Yusuf berenang.
"Kamu tidak mau berenang?" tanya Leon sambil menatap anaknya yang sedang menikmati sereal.
Jasmine menggeleng. Setelah makanan di dalam mulutnya tertelan, ia berkata, "Om David nyebelin. Masa katanya kalau Jasmine mau diajari renang, Jasmine harus melukis wajah Om David di kanvas besar." Gadis cilik Leon tersebut mengerucutkan bibirnya lima centi.
Leon terkekeh. "Kenapa Jasmine tidak mau melukis wajah Om David? Kan Om David ganteng," ujar Leon.
"Lebih ganteng Papa."
"Kalau itu, jelas. Memang menang Papa banyak."
Tiba-tiba saja muncul Wulan dan Ani di dapur. Keduanya baru saja pulang dari supermarket. Dan saat ini hendak menyimpan bahan makanan ke dalam lemari pendingin.
"Eh, ada Bapak dan Jasmine," ujar Wulan. Ia dan Ani membungkuk sekilas ke arah Leon dan Jasmine.
"Aunty, cokelatnya dapat, tidak?" tanya Jasmine sambil menatap Wulan yang sedang membongkar barang belanjaan. Tadi sebelum Wulan dan Ani pergi, Jasmine sudah berpesan ingin dibelikan cokelat.
"Dapat, dong." Wulan lantas menaruh dua batang cokelat di atas meja Jasmine. "Buat berdua sama Yusuf," lanjutnya.
Jasmine mengangguk patuh.
__ADS_1
"Papa mau cokelat?" tanya Jasmine sambil menatap ayahnya.
Leon menggeleng pelan. "Tidak," jawabnya sambil tersenyum.