Jodoh Istikharah

Jodoh Istikharah
Pertanyaan Menyebalkan


__ADS_3

Leon menenteng keranjang bunga berbagai jenis. Ia melangkahkan kakinya ke dalam pemakaman dengan gontai.


Setiap menginjakkan kaki di sini, ia selalu ingat akan semuanya. Semua kesalahannya sebagai seorang suami.


Makam Becca terletak di sisi paling ujung. Setelah berjalan beberapa menit, ia sampai di makan Becca.


Becca di makamkan bersebelahan dengan Rania di sebuah kompleks pemakaman umum. Sementara Diana di makamkan di pemakaman elit. Bukan Leon pilih kasih, keputusan Diana di makamkan di tempat elit adalah keputusan mertuanya. Sementara ia sendiri tidak sanggup jika harus memakamkan Becca dan Rania di pemakaman elit. Maklumlah, uang yang ia miliki tidak seberapa.


Leon duduk sambil melamun di samping makam Becca. Tiba-tiba saja ia di kagetkan dengan suara ponselnya yang ada di saku celana.


Yang menelepon adalah Aldo-- sekretaris barunya. Karena sekretaris yang lama sudah mengundurkan diri karena akan pindah ke luar kota bersama istrinya.


"Halo, Do. Ada apa?"


"Bapak di mana? Sepuluh menit lagi ada meeting dengan Pak Cakra," beritahu Aldo dari seberang sana.


Leon menggigit bibirnya sambil meninju tanah dengan kesal. Mengapa ia bisa sampai lupa ada jadwal sepenting ini? Pak Cakra sendiri adalah seorang pengusaha restoran yang hendak bekerjasama dengannya.


"Iya, saya sudah di jalan." Leon terpaksa berbohong.


Setelah telepon terputus, ia langsung menaburkan bunga di makam Becca dan Rania.


"Istirahat yang tenang, Honey. Aku akan sering ke sini. Sekarang aku harus segera pergi, ada meeting sama client."


Begitu selesai berpamitan pada Becca dan Rania, Leon langsung bergegas menuju Restoran Alam Sakti, tempat dimana ia dan Cakra akan melakukan meeting. Restoran Alam Sakti merupakan restoran milik Cakra.


***


"Mas Leon, saya mau tanya." Cakra menatap Leon lekat-lekat. "Kabarnya Mas Leon punya empat orang istri, ya? Bagaimana caranya? Saya mau juga berpoligami."

__ADS_1


Sontak saja Leon menjadi jengah. Dia menatap laki-laki tua berperut buncit tersebut dengan tidak suka. Kalau laki-laki lain mungkin akan bangga ditanya seperti itu, tapi bagi Leon itu adalah sebuah sindiran. Pokoknya ia tidak suka ditanya seperti itu.


"Istri saya sudah tua, membosankan. Saya mau cari istri yang masih segar. Saya kan punya banyak uang, pasti perempuan manapun mau sama saya. Iya kan, Mas?" Cakra memainkan cincin batu akik yang ada di jari manisnya. Laki-laki kepala empat tersebut bicara dengan penuh percaya diri.


"Perempuan itu langsung leleh kalau kita kasih uang. Pasti istrinya Mas Leon begitu juga, kan? La wong istri saya juga begitu. Saya sebenarnya ada pacar rahasia, tapi belum saya nikahi." Cakra terus saja berceloteh panjang lebar. Membuat Leon sangat muak dan ingin segera pergi dari hadapan si tua tersebut.


Saat ini mereka hanya berdua saja di sebuah ruang VIP, mungkin karena hal itulah yang membuat Cakra bebas bicara apa saja.


"Pak Cakra, maaf ya, saya harus segera pergi. Ada urusan." Leon mengecek arlojinya yang ada di pergelangan tangan. Sebenarnya ia tidak ada urusan apa-apa, dirinya hanya sedang mencari cara untuk pergi dari hadapan Cakra.


Cakra nampak tidak suka, apalagi sedari tadi ia sudah bicara panjang lebar dan tidak ditanggapi oleh Leon. Ia menatap Leon dengan tatapan sinis.


"Maaf, Pak. Saya pergi dulu." Leon membungkuk sopan lalu bergegas keluar dari restoran tersebut.


"Huft... Untung bisa kabur." Leon menghembuskan nafas lega saat sudah berada di dalam mobil. Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Tujuannya saat ini adalah kembali ke kantor, karena memang ini masih waktunya kerja.


Namun Leon salah, kabar dirinya berpoligami sudah tersebar di lingkungan bisnisnya. Entah bagaimana ceritanya, tiba-tiba saja berita tersebut sudah menyebar saja.


***


Calina memang artis, tapi kehidupannya sama seperti orang pada umumnya. Mungkin orang berpikir ia kaya, banyak uang. Tapi tidak demikian, sebagai artis baru, bayarannya belum seberapa. Sehingga itulah ia bergaya hidup biasa saja. Bahkan tidak memiliki barang branded.


Bagi Calina daripada membeli barang-barang branded, lebih baik uangnya ia tabung untuk masa depan Arjuna. Lagian tidak ada yang tahu sampai kapan ia akan menjadi artis.


"Kamu masak apa?" Leon bertanya sambil mendekati Calina yang sedang menggoreng sesuatu di atas teflon.


"Bakwan jagung. Bakwan jagung pakai kuah pempek pasti enak." Calina mengecek kompor sebelahnya yang sedang memasak kuah pempek. "Juna sudah tidur?" tanyanya saat melihat Leon sendirian saja.


"Sudah. Kamu penyanyi, loh. Memangnya tidak apa-apa kamu makan gorengan?" tanya Leon tak percaya. Pasalnya selama ini yang ia tahu kalau penyanyi itu selalu menjaga pita suaranya dan tidak mau makan gorengan.

__ADS_1


Tanpa berpikir dua kali Calina menjawab, "Tidak masalah. Lagian besok juga tidak ada jadwal manggung. Saatnya membebaskan diri untuk makan apa saja," ucap Calina sambil mengangkat bakwan jagung yang sudah matang.


Leon hanya mengangguk saja dan melihat semua yang di kerjakan Calina. Dulu sebelum ia menikah dengan Calina, yang ia tahu kehidupan artis itu penuh dengan glamor dan gemerlap barang branded.


Namun sekarang Leon baru sadar, kalau untuk menjadi artis, bukan itu modal utamanya. Pada dasarnya artis adalah seniman. Maka dari itu yang menjadi modal utama bagi seorang artis adalah seni yang nyata.


"Ayo makan!"


Suara Calina menginterupsi Leon. Ia menoleh ke arah meja makan, bakwan jagung dan kuah pempek telah tersedia.


Leon pun mengambil duduk di hadapan Calina. "Kamu ini tidak seperti perempuan kebanyakan. Kalau perempuan lain pasti akan menghindari makan malam seperti ini."


"Aku memang lain daripada yang lain," kata Calina sambil menuangkan kuah ke dalam mangkuknya.


Sebelumnya Calina sudah memesankan rice bowl untuk Leon. Dan untuk dirinya sendiri memang sedang kepingin makan bakwan jagung, jadi ia tidak membeli rice bowl untuk dirinya sendiri.


"Kamu makan dulu rice bowl-nya. Baru setelah itu makan bakwan. Eh, kamu suka bakwan, kan?" tanya Calina sambil meniup makanan yang ada di sendoknya. Setelah dipastikan dingin, ia lalu menyantapnya.


Leon menuruti apa yang di interupsikan Calina. Memang bagi Leon tidak akan kenyang kalau belum makan nasi, oleh karena itu ia memang harus makan nasi.


"Aku suka semua makanan," jawab Leon. Ia pun menikmati makan malamnya yang kesekian kali dengan Calina.


Wajah Calina yang merem melek menahan pedas dan panas adalah pemandangan yang lucu bagi Leon. Tanpa sadar ia tertawa.


"Ada apa?" Calina bertanya dengan kening yang berkerut.


"Ekspresi kamu lucu. Pedas banget, ya?"


"Iya." Calina menjawab sambil kesusahan menahan pedas. Ia memang sering sembrono, tidak tanggung-tanggung saat memasukkan cabai ke dalam masakan, akibatnya ya seperti sekarang ini. Ia sendiri yang sengsara.

__ADS_1


__ADS_2