
Leon menatap ke arah Arini yang terbaring di ranjang rumah sakit. Pandangan matanya tak karuan. Kesal bercampur panik.
Bagaimana tidak kesal, ia sudah sering sekali mewanti-wanti Arini supaya tidak melakukan kegiatan yang berlebihan. Eh, malah Arini melakukan itu. Akibatnya sekarang tubuh Arini drop. Tentu saja itu membuat Leon panik dan tak bisa tidur sama sekali.
"Maaf. Aku membuatmu khawatir." Arini bicara lirih sambil menatap bersalah ke arah Leon. Ia memang sudah cuti dari bekerja, tapi beberapa hari terakhir ini ia sering sekali pergi bermain ke luar dengan Jasmine. Dan itu hanya berdua saja. Tanpa Leon atupun Retno. Tentu saja Arini melakukan hal tersebut pada saat Leon sedang bekerja.
Semua orang juga tahu bagaimana capeknya menjaga batita yang sudah mulai aktif. Namun Arini masih saja nekat melakukan itu, akibatnya ya seperti ini. Tubuhnya drop.
Leon memijit pelipisnya yang berdenyut. Ia menatap Arini dengan pandangan tak terbaca. "Kalau sudah pulang dari sini, janji jangan pernah di ulang!"
Arini mengangguk yakin. "Iya. Aku janji. Sekarang kamu makan dulu, gih! Aku juga lapar. Makanan rumah sakit ini bukan seleraku." Arini memberi kode pada Leon supaya suaminya itu pergi membeli makanan di luar.
Leon yang paham akan kode itu pun langsung mengerti. "Kamu mau makan apa?" tanya Leon.
"Aku mau gado-gado dan jus semangka."
"Itu saja?"
"Iya."
"Oke. Aku berangkat."
Leon pun lalu bergegas keluar dari rumah sakit untuk membeli makanan yang di inginkan Arini. Karena di kantin rumah sakit tidak ada jus semangka, akhirnya Leon harus membelinya di luar rumah sakit. Tapi kalau demi Arini sih tidak apa-apa. Ke ujung dunia pun ia rela.
Sepeninggalan Leon, Arini menatap bingung ke sekelilingnya. "Sebenarnya aku hanya kecapekan sedikit. Tidak terlalu parah. Istirahat di rumah saja bisa sembuh. Tapi Leon malah membawaku ke rumah sakit. Tidak tahukah Leon, disini aku tersiksa akan bau obat-obatan yang begitu menyengat. Ugh! Aku harus segera pulih! Supaya cepat pulang." Arini berbicara sendiri dengan penuh semangat.
Arini tahu Leon sangat mengkhawatirkan dirinya yang sedang kelelahan seperti ini. Tapi sepertinya Leon salah, karena ia sudah terlalu berlebihan. Tapi Arini tidak bisa berbuat banyak, karena takut membuat Leon tersinggung. Yang harus ia lakukan adalah cepat pulih dan meyakinkan Leon untuk segera pulang.
***
"Beli jus, Leon?"
__ADS_1
Leon seperti kenal suara tersebut. Ia lalu menoleh ke arah belakangnya. Dan benar saja. Itu Via. Pantas saja ia seperti familiar dengan suara itu.
"Kamu di sini juga?" tanya Leon. "Sendirian saja?"
"Sama Calina. Dia ada di dalam mobil. Sedikit tidak enak badan karena kebanyakan manggung," kata Via sambil menunjuk mobil di mana Calina ada di dalamnya.
"Tidak enak badan?" tanya Leon dan diangguki oleh Via. "Aku duluan, ya!" katanya dan lagi-lagi dianggap oleh Via.
Leon pun langsung bergegas menghampiri Calina sambil menenteng gado-gado dan jus pesanan Arini.
Tok tok.
Leon mengetuk kaca mobil Calina. Awalnya Calina sedang tidur, tapi setelah ia mendengar kaca mobilnya di ketuk dan itu oleh Leon, ia langsung membukanya.
"Hei. Ada apa? Mengapa wajahmu kusut seperti itu?" tanya Calina sambil meneliti penampilan Leon yang kusut. Seperti orang malas hidup saja.
"Kamu tidak enak badan?" Bukannya menjawab pertanyaan Calina, ia malah memberikan pertanyaan balik kepada Calina.
Leon memperhatikan Calina dengan seksama. Memang Calina tidak terlihat seperti orang yang tidak enak badan. Ia terlihat baik-baik saja. Namun sedikit mengantuk.
"Syukurlah kalau kamu baik-baik saja." Leon menghembuskan nafas lega begitu mengetahui Calina baik-baik saja.
"Siapa yang bilang aku tidak enak badan? Ooo... Pasti Via." Calina melihat ke arah Via yang sedang menatapnya dari dalam kedai jus pinggir jalan. "Jangan percaya dia. Tukang bual!"
Leon pun ikut menatap ke arah Via. Dan yang di tatap hanya melayangkan cengiran sambil garuk-garuk kepala yang tidak gatal.
"Sekarang kamu mau ke mana?" tanya Leon. "Masih ada kerjaan?" tanyanya lagi.
Calina menggeleng. "Tidak ada. Aku mau pulang. Mau tidak sepuasnya. Hooaamm..." Calina terus saja menguap. Ia memang sangat mengantuk sekali. Job-nya akhir-akhir ini sedang gila-gilaan. Akibatnya ia kekurangan tidur.
"Kita pulang sekarang?" tanya Via yang sedang membuka pintu mobil di bagian kemudi.
__ADS_1
"Iya," jawab Calina. "Tapi ngomong-ngomong apa untungnya ngerjain Leon? Nih lihat! Dia jadi cemas gara-gara kamu!" Semprot Calina.
"Maaf, ya, Leon!" Via menangkupkan kedua tangannya di depan dada tanda permohonan.
"Tidak apa-apa," jawab Leon. "Sekarang kalian pulang, gih! Biar bisa cepat istirahat."
"Oke. Aku pulang dulu, ya?" pamit Calina.
"Hati-hati!" pesan Leon.
Setelah Calina dan Via hilang dari pandangan, barulah Leon memutuskan untuk kembali ke rumah sakit.
**
Arini hanya satu hari di rawat di rumah sakit. Dan sekarang ia sudah kembali ke rumah. Karena tidak ingin melakukan kesalahan yang sama sebanyak dua kali, Arini pun tidakĀ ingin lagi melakukan banyak aktivitas di luar rumah seperti kemarin.
"Leon..." Arini memanggil Leon yang sedang menatap cermin di meja rias. Suaminya itu sedang bersiap-siap untuk pergi kerja.
"Ada apa, Sayang?" Leon melihat Arini dari pantulan kaca yang ada di depannya. Ia sedang menggunakan serum di wajah.
"Aku masih ngantuk. Boleh tidur pagi, tidak?" tanya Arini.
Sontak saja Leon langsung melarang. "Tidak boleh, Sayang. Nanti kalau sudah siang, baru kamu tidur lagi." Leon sendiri dulunya selalu di larang oleh orang tuanya untuk tidak tidur di pagi hari. Alasannya tidak baik. Pagi bukan waktunya untuk tidur.
"Tapi aku masih ngantuk," rengek Arini. Ia memang benar-benar mengantuk. Sehari semalam di rumah sakit tidak bisa tidur sama sekali.
Melihat Arini yang terus merengek, akhirnya Leon pun luluh. Ia sendiri juga tahu kalau Arini tidak tidur selama sehari semalam. Timbul rasa tidak tega pada diri Leon melihat istrinya begitu mengantuk seperti ini. "Ya sudah. Tidur saja tidak apa-apa. Jangan lupa baca do'a sebelum tidur!" pesan Leon.
"Baik, Tuan Muda!" Arini pun langsung bergelung di balik selimut. Tak butuh waktu lama ia sudah tertidur. Padahal Leon belum juga keluar dari kamar tersebut.
Melihat Arini yang sudah pulas, Leon hanya bisa geleng-geleng kepala. "Aku berangkat dulu, Sayang." Leon berpamitan seolah-olah Arini tidak tidur saja. Ia mencium kening Arini sebelum akhirnya keluar dari kamar tersebut untuk pergi bekerja.
__ADS_1