Jodoh Istikharah

Jodoh Istikharah
Jelous


__ADS_3

Begitu mengetahui kabar kalau Arini hamil, Leon langsung berubah 360°. Ia jadi overprotektif kepada istri pertamanya itu. Hal itu karena semata-mata ia tidak mau lagi terjadi hal-hal yang tidak diinginkan seperti dua tahun yang lalu.


Seluruh anggota keluarga juga sudah tahu kabar bahagia ini. Pun dengan Becca dan Calina. Semua orang menyambut bahagia kabar tersebut.


Namun... Sepertinya kehamilan Arini adalah malapetaka bagi kesehatan hati Becca. Bagaimana tidak? Setiap hari yang harus Becca lihat adalah pemandangan Leon yang begitu sweet dan perhatian pada Arini. Meskipun Becca selalu mati-matian untuk tidak menampakkannya secara terang-terangan, tapi ia selalu menangis dalam diam di kamarnya.


"Honey... Aku berangkat kerja dulu, ya? Aku titip Arini. Jangan sampai dia keguguran lagi." Leon berpamitan pada Becca saat hendak berangkat kerja. Tak lupa ia mencium kening Becca cukup lama.


Menjaga Mbak Arini? Menjaga diriku sendiri saja aku tidak becus. Pikir Becca dalam hati.


Becca diam saja dan hanya tersenyum kecil. Senyum yang ia paksakan untuk terbit. Senyum yang tidak indah. Namun Leon tidak menyadari itu karena saat ini suasana hatinya sedang bahagia.


"Aku sayang kalian semua. Kamu, Arini, dan Calina," ujar Leon sambil menatap Becca lekat-lekat.


Cih! Sayang semua katanya? Becca terus saja melontarkan kata-kata sinis dalam hatinya.


"Ya sudah. Aku berangkat dulu, ya? Kalian hati-hati di rumah."


Leon lalu meninggalkan kamar Becca dan keluar untuk berangkat kerja. Sebelumnya ia sudah berpamitan pada Arini terlebih dahulu.


Sepeninggalan Leon, Becca menghembuskan nafasnya dengan kasar. Perasaan marah dan kecewa ia tumpahkan saat ini juga. Saat ini ia sudah bisa berjalan, meskipun harus merambat pada dinding.


Dengan langkah pelan, akhir ia sampai pada pintu kamar dan lalu menguncinya. Ia butuh privasi. Ingin sendiri dulu.


Becca lalu duduk di sisi ranjang sambil menatap marah ke depan. "Suami tidak berguna! Dulu aku hamil kamu tidak perhatian seperti ini. Ini yang kamu bilang sayang semuanya? Cih! Pembohong ulung!"


Becca hanya sendirian saja di kamarnya, karena Jasmine sedang bersama Retno.


"Ular berbisa! Buaya darat! Kadal buntung!" Becca menyumpah serapah Leon dengan nama-nama binatang. Ia sangat kesal sekali.


Mungkin dirinya ini tergolong munafik, di depan orangnya langsung akan bersikap biasa saja, dan jika di belakangnya akan marah-marah seperti sekarang ini. Tapi Becca tak punya pilihan lain, ia memang tak bisa marah-marah di depan orangnya langsung. Jika ia marah-marah di depan Leon, ia takut akan memperkeruh suasana dan malah akhirnya menjadi panjang.

__ADS_1


Biarlah kekesalan dan luka hati ini Becca tanggung sendiri. Tidak perlu dilampiaskan pada orang lain. Siapa tahu dengan begini ia akan sakit jantung, lalu meninggal. Ini bukan tergolong bunuh diri, kan?


Becca sudah bosan hidup. Ia ingin bersama mamanya saja kalau begini terus.


Bagaimanapun ia tak bisa meminta cerai pada Leon, karena dirinya masih sangat mencintai pria brengsek tersebut. Tapi ia juga tidak bisa kalau begini terus. Ia tidak kuat.


***


Arini membuka kotak bingkisan dari mertuanya yang ada di luar negeri. Kemarin ibu mertuanya menelepon dan mengatakan selamat dan maaf.


Selamat atas kehamilan kedua Arini. Maaf kalau belum bisa pulang karena masih ada pekerjaan.


Setelah di buka, isi bingkisan tersebut adalah krim dan produk kecantikan untuk ibu hamil. Ada krim untuk perut dan wajah juga.


Arini tahu, ayah dan ibu mertuanya ini sangat pilih kasih. Mereka berdua tidak menyukai istri Leon yang lain, sehingga hanya Arini yang mereka perlakukan seperti sekarang ini.


Arini tahu sikap ayah dan ibu mertuanya tidak benar. mau bagaimana lagi, ia tidak bisa berbuat apa-apa. Itu hak mereka.


Karena tidak ingin meninggalkan jejak, Arini langsung menggunting kecil-kecilan kertas yang menandakan identitas si pengirim. Lalu setelah itu membuangnya ke tong sampah yang ada di luar rumah.


Pokoknya jangan sampai meninggalkan jejak kalau tidak ingin terjadi kecemburuan sosial.


***


Tidak banyak yang Arini lakukan hari ini. Ia hanya bermain dengan Jasmine sebentar lalu tiduran atau menonton televisi. Tadi saat Arini sedang asik bermain dengan Jasmine, tiba-tiba saja Becca datang dan mengambil alih anaknya tersebut.


"Maaf, Mbak. Aku sudah lama tidak bermain berdua dengan Jasmine." Becca lalu membawa Jasmine ke kamarnya. Dengan bantuan Retno tentunya. Karena ia belum bisa melakukannya itu sendiri, kondisi tubuhnya belum memungkinkan.


Melihat hal itu, Arini hanya bisa diam sambil bengong menatap kepergiannya Becca. Sepertinya ada sesuatu yang disembunyikan Becca. Tapi apa? Arini tidak tahu.


Karena bingung atas sikap Becca barusan, akhirnya Arini memutuskan untuk keluar sebentar dari rumah Becca.

__ADS_1


Dan sekarang di sinilah Arini, kamar apartemennya. Baru saja ia sampai menggunakan taksi online. Sudah cukup lama ia tidak mengunjungi apartemennya ini.


Ponselnya yang ada di dalam tas berbunyi. Setelah ia lihat, itu adalah telepon dari Leon.


"Halo. Ada apa? Tumben kamu telepon jam segini. Ini masih jam kerja. Belum waktunya istirahat," kata Arini saat ia mengangkat teleponnya.


"Kamu di mana? Kata Bude Retno kamu keluar rumah sendirian? Ke mana?" Terdengar nada suara cemas dari seberang sana.


Arini terkikik geli mendengarnya. Leon ini terlalu berlebih-lebihan.


"Aku di apartemen. Kangen. Sudah lama tidak ke sini."


"Kangen aku?"


Ish! Terlalu percaya diri. Pikir Arini dalam hati.


"Kangen apartemen, suamiku."


"Aku kira kamu pergi entah kemana. Jangan buat aku khawatir lagi, oke?"


"Iya."


Telepon pun terputus. Arini merebahkan tubuhnya di atas kasur. Sekarang ini memang masih pagi, baru jam sepuluh. Tapi melihat kasur yang sudah lama ia tinggalkan ini, tiba-tiba saja ia mengantuk. Dan memutuskan untuk tidur sebentar.


Sementara itu di lain tempat pada waktu yang bersamaan, Becca tengah bermain berdua saja dengan Jasmine.


"Aku harus cepat sembuh. Supaya Mbak Arini segera pergi dari rumah ini. Supaya aku tidak terus-menerus melihat kemesraan mereka. Selama ini aku sudah cukup sabar, kalau begini terus, aku bisa gila. Aku bisa seperti Diana." Becca bermonolog sambil mengepalkan tangannya tanda menyemangati diri sendiri.


Ia tidak mau lagi Arini tinggal di sini lebih lama. Ia tidak mau lagi hatinya terluka karena setiap hari harus cemburu pada Arini. Dua istri tinggal dalam satu atap bukan keputusan yang tepat.


Becca membandingkan ini dengan Calina. Ia yang tak pernah tinggal satu atap dengan Calina merasa tidak ada masalah serius dengan istri ketiga Leon itu.

__ADS_1


"Oke, Becca. Kamu harus sembuh. Harus!"


__ADS_2