Jodoh Istikharah

Jodoh Istikharah
Takdir Tuhan


__ADS_3

Arini tengah duduk di dalam sebuah restoran kelas VIP sambil menatap ponselnya yang sepi. Ia sedang janjian dengan seseorang.


Ya, tiba-tiba saja tadi malam Becca mengabari Arini kalau ia ingin bertemu empat mata.


Sudah hampir sepuluh menit Becca belum juga datang. Namun Arini masih dengan setia menunggu kehadiran Becca.


Tiba-tiba saja pintu ruangan di buka, dan muncullah sosok Becca di sana. "Maaf telat, Mbak. Tadi Jasmine sedikit rewel," kata Becca sambil berjalan untuk duduk di depan Arini.


"Tidak apa-apa, aku juga baru saja sampai kok," kata Arini.


"Sudah pesan?"


"Belum."


Becca langsung memesan menu untuk mereka berdua. Dan begitu tak lama menu yang mereka pesan datang.


"Mau bicara apa, Bec?" tanya Arini to the point. Sepertinya ada hal serius yang akan Becca bicarakan.


"Makan dulu, ya, Mbak?" kata Becca penuh permohonan. Becca memang sudah sangat lapar sekali. Tadi pagi ia tidak sarapan, dan sekarang sudah jam satu siang.


Arini mengangguk setuju. Mereka lalu menyantap makanan yang telah tersedia. Dan tak lama mereka telah selesai makan.


"Begini, Mbak..."


Becca tidak langsung melanjutkan kata-katanya, hal itu membuat Arini sedikit bingung dan menatap Becca heran.


"Ada apa, Bec?"


"Kalau suatu saat aku tidak ada, aku titip Jasmine, ya, Mbak. Aku percaya Mbak Arini bisa menyayangi Jasmine seperti anak sendiri." Becca bicara sambil menunduk dan memainkan kukunya yang panjang.


"Kami ngomong apa, sih? Memangnya kamu mau ke mana?" Arini menyentuh lengan Becca pelan. "Sebenarnya apa yang terjadi? Kamu ada masalah sama Leon?" Arini bertanya dengan hati-hati dan lembut.


Becca menggeleng. Ia menatap Arini serius. "Setiap kita memang harus pergi, bukan? Kita tidak di dunia ini selamanya. Cepat atau lambat kita pasti akan pergi."


Arini mulai merasa ada yang aneh dengan Becca. Mengapa Becca bicara seperti ini?


"Kamu jangan ngomong seperti ini lagi, ya?"


Becca malah menatap Arini frustasi. Ia sedang bicarakan serius tapi mengapa Arini malah merespon seperti ini?


"Tapi Mbak bisa janji sama aku, kan? Mbak akan jaga Jasmine seperti anak sendiri?" Becca menatap Arini penuh permohonan.


Arini semakin merasa aneh. Becca bicara seperti ini seolah-olah ia akan pergi selamanya.

__ADS_1


Arini mengangguk sambil tersenyum. Ia meletakkan tangannya di atas tangan Becca yang bertaut di atas meja. "Iya. Mbak pasti akan selalu menyayangi Jasmine seperti anak sendiri."


Becca tersenyum bahagia. "Terimakasih, Mbak." Ia menatap jam di pergelangan tangannya. "Pulang, yuk! Aku kangen Jasmine."


Arini mengangguk saja.


Becca lalu pulang duluan, sementara Arini belum bisa beranjak dari tempat duduknya. Karena ada banyak beban di pikirannya.


"Sebenarnya ada apa dengan Becca? Atau jangan-jangan... Becca mau bunuh diri." Arini langsung membekap mulutnya sendiri karena telah salah ucap.


"Tidak mungkin. Becca tidak mungkin seperti itu."


Arini lalu menelepon Retno.


"Halo, Bu Arini."


"Bude saya minta tolong bisa?"


"Apa, Bu?"


"Tolong awasi Becca ya, Bude. Kalau ada kelakuan dia yang aneh, lapor saya."


"Memangnya ada apa, Bu?"


Arini menggigit bibirnya sendiri karena merasa sudah bicara ngelantur. "Tidak apa-apa, Bude. Hanya saja menurut saya Becca berubah."


Sontak saja kata-kata Retno dari seberang sana membuat Arini semakin gelisah. "Bude bisa tolong rahasiakan pembicaraan kita ini, kan? Jangan sampai Becca tahu."


"Iya, Bu. Bisa."


***


Pukul dua dini hari Leon terbangun saat ponselnya berdering nyaring. Ia pun langsung mengangkat telepon tersebut.


"Halo, Bude. Ada apa?" tanya Leon masih dengan mata terpejam karena mengantuk.


"Bu Becca demam sangat tinggi. Sekarang mau saya bawa ke rumah sakit dekat rumah."


Leon langsung terperanjat dan melek seketika. "Hati-hati, Bude. Saya akan segera langsung ke rumah sakit."


"Baik, Pak."


Leon langsung menaruh teleponnya dia tas nakas. Kemudian ia langsung bersiap-siap menuju rumah sakit.

__ADS_1


"Siapa?" tanya Arini masih dengan mata yang sedikit terpejam.


"Becca masuk rumah sakit. Demam tinggi."


"Aku ikut." Arini langsung beranjak bangun dan menuju kamar mandi untuk mencuci mukanya.


***


Leon dan Arini sedang menunggu Becca yang tak kunjung sadar. Sementara Retno sedang membawa Jasmine jalan-jalan. Entah mengapa batita tersebut sangat rewel, tidak mau diam. Ia maunya jalan-jalan sambil di gendong.


Calina sendiri sedang ada job di luar kota, sehingga belum bisa menjenguk Becca.


Sudah tiga hari Becca demam tinggi dan tidak sadarkan diri. Wajah Leon sangat kusut karena beberapa hari tidak tidur. Leon juga tidak bekerja selama tiga hari ini. Ia fokus menunggu Becca. Sedangkan Arini akan pulang saat malam saja. Namun malam tadi Arini tidak pulang, sehingga sekarang ia terlihat mengantuk. Bagaimana tidak mengantuk? Ia tidak bisa tidur di sini. Ditambah lagi ada Leon yang selalu begadang membuat ia ikut begadang juga.


"Sayang, kamu pulang saja dulu. Nanti kalau Becca bangun, aku pasti kabarin kamu," kata Leon sambil menatap Arini yang matanya sudah lima watt.


Sekarang sudah jam delapan pagi.


"Aku di sini saja," tolak Arini. Toh memang biasanya kalau pagi sampai sore ia akan berada di sini.


"Kamu tolong jangan buat aku semakin setres." Leon bicara dengan sangat frustasi. "Becca sakit, kamu jangan sampai ikutan sakit. Ingat, ada anak kita di dalam perut kamu. Pokok aku tidak mau tahu, kamu harus pulang." Leon bicara dengan sangat tegas sekali.


Kerena tak ingin membuat Leon marah, akhirnya Arini pun mau pulang. "Ya sudah aku pulang. Kalau ada apa-apa tentang Becca langsung kabari aku," kata Arini dan di-iyakan oleh Leon.


***


Arini baru saja selesai mandi sore. Ia berniat ke rumah sakit menjenguk Becca. Ia sudah istirahat berjam-jam, dan sekarang kondisi tubuhnya sudah fit kembali.


Arini mengecek ponselnya sambil duduk di depan meja rias. Ada lima panggilan tak terjawab dari Leon. Dan dua chat masih dari Leon.


Leon


Sayang.


Becca sudah tidak ada.


Deg.


Sontak saja bahu Arini langsung merosot lemas. Ponsel yang ada di tangannya terjatuh begitu saja.


Jadi ini yang dimaksud Becca beberapa hari yang lalu?


Menurut dokter dua hari yang lalu, Becca mengalami demam malaria. Dan Becca juga tidak memiliki penyakit yang lainnya.

__ADS_1


Kalau di pikir-pikir, Becca pasti akan sembuh dan tidak akan meninggal. Tapi takdir Tuhan tidak ada yang tahu, bukan?


Setelah tersadar dari shock-nya, Arini langsung bergegas menuju rumah sakit. Ia tidak membawa kendaraan sendiri, kondisi kacau seperti ini akan gawat kalau ia paksakan menyetir. Akhirnya ia memutuskan untuk memesan taksi online.


__ADS_2