
Saat kerja terlalu berlebihan, tubuh bisa saja sakit. Ya, seperti halnya Leon. Saat ini laki-laki tersebut sedang terbaring lemah di rumah sakit.
Leon merasakan kaki dan tangannya seperti kesemutan dan tak bisa digerakkan. Ia merasakan kalau kaki dan tangannya bengkak besar sekali. Rasanya berat dan tidak bisa digerakkan.
"Hei, selamat pagi," sapa Arini yang baru saja masuk ke ruang rawat inap suaminya. perempuan itu tak datang sendiri, ia membawa dua anaknya.
"Pagi," sahut Leon dengan senyum yang dipaksakan.
Si sulung Jasmine merengek tidak mau masuk sekolah. Gadis cilik tersebut memaksa ingin menjaga ayahnya di rumah sakit.
Arini yang tak tega melihat wajah memelas Jasmine, akhirnya mengizinkan buah hatinya itu untuk libur sekolah. Toh dulu saat ia masih sekolah, ia sering libur sesukanya juga. Terutama saat ada PR dan ia belum mengerjakannya.
"Anak Papa tidak sekolah?" tanya Leon sambil menatap Jasmine.
Jasmine menggeleng pelan. "Jasmine mau nemani Papa di sini," ujar Jasmine polos.
"Terimakasih ya, Anak cantik."
"Sama-sama, Papa. Papa cepat sembuh, ya? Nanti kalau Papa sembuh, kita liburan keluarga, ya?"
"Oke, Sayang. Do'ain Papa cepat sembuh, ya?!"
"Pasti, Papa."
Arini mendudukkan Yusuf di sofa panjang. Sementara Jasmine masih setia berdiri di sisi ranjang ayahnya.
"Kamu bawa anak-anak sendirian?" tanya Leon sambil menatap Arini.
"Iya. Bude Ani lagi ke pasar. Wulan sakit gigi," jawab Arini. "Kamu mau sarapan apa? Aku sih bawanya nasi goreng sama bubur ayam. Kamu pilih yang mana?" tanya Arini.
"Nasi goreng aja."
"Oke. Tunggu sebentar, ya?! Aku ambil di mobil dulu. Tadi mau di bawa sekaligus tapi tanganku tidak muat," kekeh Arini. "Mama ke parkiran dulu, ya?! Kalian jagain Papa. Jangan keluar dari kamar, Papa. Oke anak-anak?" Arini menatap Jasmine dan Yusuf bergantian.
"Oke, Mama," jawab Jasmine dan Yusuf serentak.
Arini lalu bergegas menuju parkiran untuk mengambil bekal yang sudah ia masak susah payah tadi subuh. Dan tak lama, perempuan itu telah kembali lagi ke ruang rawat inap suaminya.
"Yusuf Jasmine mau sarapan lagi, Nak?" tanya Arini sambil membuka bekalnya.
"Udah enyang, Ma."
"Kenyang, Ma."
__ADS_1
Yusuf dan Jasmine menjawab bergantian.
Arini lantas menyuapi Leon dengan telaten. Tangan suaminya itu tidak bisa digerakkan. Rasanya lemas, seperti tidak memiliki otot.
Sebenarnya kalau di paksa, tangan Leon masih bisa di fungsikan. Tapi hasilnya tidak maksimal. Contohnya jika ia terpaksa harus makan sendiri, maka ia akan memegang sendok dengan kedua tangan.
Tapi kalau untuk kaki, benar-benar tidak bisa di fungsikan sama sekali.
"Kalian sudah sarapan?" tanya Leon setelah kunyahan di mulutnya tertelan.
"Sudah. Maaf ya kami sarapan duluan. Habisnya lapar." Arini meringis sambil menyuapi suaminya.
"Tidak apa-apa, Sayang. Santai saja," kekeh Leon.
Tadi malam, Arini menjaga Leon sampai pukul empat pagi. Sesampainya di rumah, Arini langsung menyiapkan sarapan untuk suaminya.
Arini sengaja masak sendiri, karena Wulan sedang sakit gigi. Dan Ani mengerjakan pekerjaan rumah lainnya. Seperti menyapu dan mengepel.
Wulan sakit gigi parah. Sampai-sampai ART Arini itu memutuskan pisah kamar dari Ani. Biasalah, kalau sakit gigi mendengar suara sedikit saja bawaannya ingin marah. Oleh karena itu Wulan memutuskan untuk tidur sendiri saja. Supaya tidak mendengar suara apapun dari orang lain.
Dan pagi ini, Arini kembali mengunjungi suaminya bersama sang anak. Tolong ingatkan Arini untuk menjaga kesehatan. Jangan sampai ia ikut sakit juga, mau bagaimana anak-anak nantinya kalau sampai dua orang tuanya sakit.
"Sudah, Sayang. Kenyang," ujar Leon.
Sisa nasi Leon masih ada setengah lagi. Tapi berhubung Leon mengatakan kenyang, maka Arini tidak dapat memaksa.
"Maaf ya aku buat kamu susah." Leon bicara sambil menunduk dan memainkan selimut.
Arini yang sedang membereskan bekas makan Leon, menoleh ke arah suaminya itu.
"Kamu ini ngomong apa, sih? Aku tidak suka dengar kamu ngomong seperti itu."
"Maaf."
"Papa kenapa?" tanya Jasmine. Gadis cilik tersebut sedang mewarnai buku menggunakan krayon.
"Tidak apa-apa, Nak," jawab Leon pelan.
Setelah selesai membereskan alat makan, Arini duduk di sisi ranjang Leon. Yusuf dan Jasmine sedang sibuk mewarnai buku.
"Apa yang kamu rasakan?" tanya Arini sambil mengangkat tangan kanan Leon.
"Kesemutan. Bengkak. Berat."
__ADS_1
Arini sedikit mencubit tangan tersebut. "Sakit, tidak?"
"Tidak."
Arini lalu berganti mengangkat kedua kaki suaminya. "Bagaimana rasanya?" tanyanya lagi.
"Kesemutan. Bengkak. Berat," jawab Leon.
Arini lalu duduk kembali di sisi ranjang suaminya. Ia sendiri memang sering merasakan kesemutan. Tapi tidak lama seperti Leon saat ini.
Arini juga tahu bagaimana rasanya kesemutan. Tidak enak sama sekali. Kaki terasa bengkak dan berat. Padahal kalau di lihat secara kasat mata, kaki kita itu normal-normal saja. Tidak bengkak sama sekali.
"Bagaimana kalau aku lumpuh, Rin?" lirih Leon dengan air mata yang nyaris tumpah.
"Jangan ngomong sembarangan, Leon! Aku yakin kamu pasti sembuh."
"Iya. Papa pasti sembuh," timpal Jasmine yang mendengar percakapan orang tuanya.
"Papa cembuh," sahut Yusuf. Bocah laki-laki cilik tersebut ikut-ikutan kakaknya.
Mendapatkan semangat dari istri dan anak-anaknya, Leon tersenyum lebar sekali.
Tadi malam, Mutiara dan Malvin menelepon Leon lama sekali. Berhubung mereka masih ada pekerjaan, jadi mereka tidak bisa pulang. Keduanya hanya bisa menyemangati sang anak melalui jarak jauh.
Sedangkan Hamdani, ayah mertua Leon itu sedang mendaki ke Sumatera. Jadi belum bisa menjenguk sang menantu.
Seumur hidup, mungkin ini adalah titik terendah Leon. Perusahaan nyaris bangkrut. Di lilit hutang. Sakit parah. Cobaan benar-benar datang tanpa ampun.
Bahkan untuk mandi dan membersihkan pan*at saja Leon tidak bisa. Dia harus di bantu Arini untuk melakukan hal itu. Entah bagaimana jika sampai Arini sudah masuk kerja tapi ia belum juga sembuh. Mungkin ia akan bau karena tidak ada yang membersihkannya.
Sudah hampir satu hari Leon merasakan sakit aneh itu. Satu hari saja rasanya seperti satu tahun. Bagaimana jika sakit ini tak kunjung sembuh?
"Mama..., Lihat ini!" Jasmine menyodorkan hasil mewarnainya. "Rapi, kan?"
Arini melihat hasil mewarnai Jasmani sambil tersenyum bangga. "Bagus. Rapi. Anak Mama memang hebat," puji Arini tulus.
"Papa mau lihat, dong?!" ujar Leon.
Arini lalu memberikan buku tersebut pada Leon.
"Waahh... Ini keren," puji Leon.
Jasmine yang mendapatkan pujian dari ayah dan ibunya hanya bisa tersenyum malu. Gadis cilik tersebut lantas berlari mendekati adiknya yang masih mewarnai.
__ADS_1
Manis sekali anak-anak Arini dan Leon ini.