Juragan Empang Meets Gadis Losmen

Juragan Empang Meets Gadis Losmen
Share location plis.


__ADS_3

Dara menghenyakkan diri di samping Mentari, raut wajah serius masih terpampang jelas ketika memandang Mentari yang menegakkan tubuh dengan bersit resah yang kentara.


"Tar, gak mau cerita kamu?" tanya Dara, "dan siapa cowok yang dimaksud lutung tadi?"


Mentari ragu, mungkin iya Dara suka dengan Maxime makanya ia ingin meminta nomernya. Berbekal alasannya itulah ia urungkan niatnya menjawab pertanyaan Bisma. Arrghh...


Mentari mengerang sendiri, penat dengan urusan cinta yang tidak juga berakhir.


"Tar, cerita ajalah, kamu ini udah seperti kakakku tau. Jadi cerita aja, kamu udah punya pacar baru?" desak Dara.


"Kamu suka sama Maxime, Ra?" tanya Mentari akhirnya.


Dara tertawa kemudian, merasa geli Mentari cukup singkat mengartikan niatnya tadi meminta nomer Maxime.


"Sukalah, maklum aja selama ini losmen belum pernah terjamah laki-laki tampan kebule-bulean seperti Maxime. Wajar kan aku minta nomernya, lagian kalau jodoh tak kemana!"


Dara terkekeh, seakan berpapasan sekali saja dengan Maxime telah membiusnya dengan rasa suka yang sudah lama asing menjauh darinya.


"Preetttt..." kentut jadi-jadian keluar dari mulut Mentari.


"Maxime dan temen-temennya tadi petualang sejati, kerjanya cuma menjelajahi tempat-tempat yang mereka inginkan. Kebetulan aja losmen ini menarik perhatian mereka karena tadi Maxime bilang, losmen ini cozy and creepy." urai Mentari sembari tersenyum.


"Jadi maksud Bisma tadi apa?" Dara mengernyit, "ada hubungannya sama Maxime?"


"Tadi aku foto sama Maxime dan aku kirim ke mas Bisma, rencanaku cuma mau bikin mas Bisma berhenti mengganggu dan bilang dia pacarku, tapi..., Aku lelah meraba-raba sebenarnya bagaimana perasaannya padaku sekarang, Ra!"


Mentari membuang napas sembari mendongkak menatap langit biru berawan, sebab tidak akan pernah ada kalimat yang tepat untuk menggambarkan kisahnya yang tamat akibat Bisma berkhianat. Biadab, namun ia hanya bisa diam ketika semua hal-hal buruk merampas kebahagiaannya di satu hari yang sama.


Tahun baru. Momen pahit yang terus merenggut senyumnya, nyaris di perkosa dan Bisma justru bercinta dengan perempuan lain. Mabuk alasannya, khilaf akunya.


"Jangan menjadi bodoh karena cintamu yang besar untuk Bisma, Tar. Dia itu iblis bermuka manis." Dara mengelus punggung Mentari, prihatin, "lupain Bisma dan itu bisa melupakan semua hal-hal yang pernah terjadi malam itu. Lupain pelan-pelan biar kamu juga tenang, Tar."


Mentari di guyur air es yang kontan membekukan tenggorokan dan semangatnya.


Dara memeluk, "Udah, jangan sedih terus-menerus, Tari. Dunia ini laksana arena bermain yang luas, slalu ada hal genting di atas situasi paling penting."

__ADS_1


"Ra," Mentari menggeleng.


"Dan harus kamu ingat kata-kata anak pungutan ini, terkadang perpisahan jauh lebih baik ketimbang bersama tapi menjadi arena penuh kekacauan!" Dara melepas pelukannya sembari tersenyum hangat.


"Ada yang lebih besar dari cinta, Ra. Yaitu ikhlas." imbuh dara dua puluh tiga tahun yang telah mencecap getirnya sebagai anak panti asuhan yang terletak tak jauh dari losmen idaman.


"Aku maunya juga ikhlas, cuma mas Bisma rese Ra, dia terus gangguin aku." Mentari mendengus kesal sembari memukul lututnya.


"Lagian udah di bikin malu satu kampung masih aja nyimpen nomernya kamu, Tar. Sini biar aku blokir nomornya."


"Jangan!" sahut Mentari cepat, "nanti kalau dia bikin tuduhan yang gak-gak sama losmen ini gimana karena dia gak terima aku blokir nomernya? Aku takut Ra, bagaimanapun bapaknya orang tertinggi di kampung ini."


"Astaga, Tar. Kamu lembek deh kayak bubur, yang berani dong! Toh daerah sini juga banyak hotel melati yang di sewa untuk pijet plus-plus!"


Mentari mengusap telinganya sewaktu kata plus-plus dibisikkan Dara dengan nada dibuat-buat.


"Ya udah, tapi jangan cemburu aku foto sama Maxime tadi." kata Mentari terang, sebab dia takut tak memberi kesempatan bagi Dara merasakan cinta.


"Cemburu buat apa? Heloww, suka bukan berarti cinta, Mentari. Udah sini aku blokir nomernya."


"Makasih, Ra." katanya tulus, "terus terang aku juga gak enak sama istrinya mas Bisma sekarang. Dia pasti kecewa karena suaminya gak setia."


Dara melempar batu besar ke dalam kolam ikan, plung...


"Biarin aja, itu udah risiko dia mau main serong sama cowok orang. Toh kalau gak murahan pasti gak akan hamil." kata Dara realistis. "Udah gak usah di pikirin biarin aja dia mau kecewa, mau nangis, atau mau apalah. Sekarang itu waktunya kamu move on, Tari. Cari pacar lagi gih yang ganteng biar lutung itu makin mendidih."


Mentari tertawa sedih. "Kamu lama-lama mirip ibuk ya, Ra. Cepet-cepet nyuruh cari pengganti biar mas Bisma panas, padahal gak semudah itu cari pengganti. Butuh proses!" katanya sambil berdiri.


"Berhubung nanti malam ada pasar malam kita kesana aja untuk happy-happy. Gimana?" tawar Dara.


Sebelum Mentari menjawab ponselnya berdering, ditariknya ponsel itu dari kantong celana.


"Pram?" gumam Mentari, ia menggulir layar ponselnya seraya menempelkannya ke telinga.


"Selamat siang dengan resepsionis losmen idaman disini. Ada yang bisa saya bantu, Pram?" sapa Mentari ramah.

__ADS_1


Pram terkejut namanya disebut. "Kamu kenal gue?" tanyanya heran.


Mentari tergelak dengan suara lembut yang kembali menyusup ke dalam ingatan Pram.


"Maaf saya mendengar suara anda tadi dengan ibu anda sepertinya." jelas Mentari.


"Oh iya gue lupa emak gue tadi panggil nama gue ya." Pram menepuk jidatnya di balik pintu gudang yang tertutup rapat, bersembunyi dari Asih yang terus menanyakan salamnya untuk Pevita tadi.


"Iya, jadi ada yang bisa saya bantu, Pram?" tanya Mentari ramah, "kami menyediakan kamar dengan harga murah dengan fasilitas lengkap. AC alami, masakan lezat dan layanan kamar dari gadis yang ramah."


Mentari meringis ke arah Dara yang langsung mencebikkan bibir. "Nyindir!" rutuknya lantas melengos pergi.


"Gue butuh bantuan kamu, tapi yang lain bisa Mentari?" tanya Pram menggebu-gebu seolah benar-benar di buru waktu.


"Bantuan apa, Pram?" Mentari penasaran. "Diluar--"


"Share location!" potong Pram cepat. "Gue butuh alamat losmen idaman yang nyaman dan tenang." katanya menirukan tulisan di brosur.


"Baik, akan segera saya kirimkan." Mentari tersenyum penuh. Tamu baru, pikirnya dipenuhi kesenangan.


"Cepet ya dan tolong nanti waktu gue telepon lagi kamu pura-pura jadi pacar gue." pinta Pram dengan nada maksa.


"Loh kok gitu, Pram? Maaf aku--,"


"Tolonglah Mentari, emak gue ribet banget soalnya. Tolong ya, ntar gue bayar double sekaligus untuk booking kamar. Mau ya, plis?" rayunya mengiba, "emak gue ribet banget tau."


"Baik, Pram." Mentari terpaksa mengiyakan hanya demi menggaet pelanggan losmen.


Di gudang Pram berlonjak kegirangan hingga dadanya dipenuhi balon udara yang siap membuatnya melayang.


"Gue tunggu, Mentari. Terima kasih banyak." seru Pram sembari berlari keluar gudang. Ptttt... Sambungan terputus, Pram yang tenang langsung menghampiri Asih di rumah.


Mentari tersenyum kecil. "Ada-ada saja, Pram."


•••

__ADS_1


To be continue and happy reading.


__ADS_2