
Pram mengangkat nampan yang sudah berisi lima cangkir teh di atasnya untuk tamu tak di undang yang parahnya mau ia salahkan tidak bisa, mau ia terima juga setengah hati. Rasa-rasanya sekarang ia berada di ambang batas antara baik dan buruk. Mukanya yang cemberut pun membuat Mentari berbalik, ia meraih gagang termos sambil meringis geli.
Dada Aa kembang-kempis, hihi, pasti Aa lagi menahan diri biar tetap kelihatan penyayang dan ramah di rumah mertuanya. Ckckck, lucu banget sih suamiku.
Mentari menahan senyum sambil mematikan kompornya yang ia gunakan untuk menanak pisang kepok kuning.
"Sebentar, Aa. Ini di bawa sekalian." Mentari menaruh lagi termosnya di lantai seraya mengambil capit gorengan. Ia mengambil satu demi satu pisang itu dari soblok dan menaruhnya ke dua piring dengan corak yang sama.
"Satu buat tamu, satu lagi buat temen-temen Aa." jelas Mentari.
Dengan terpaksa Pram kembali menaruh nampannya ke meja, menggantinya dengan nampan yang lebih besar yang di siapkan Mentari.
"Ayo aku bantu, Aa." Mentari meraih termos dan membawa nampan lainnya dengan isi yang sama dengan milik Pram.
Pram menjulurkan lidahnya kesal, mulutnya seakan sudah lelah untuk diam saja. Karena rasa-rasanya satu rumah itu sedang mengerjainya.
Dalam hati, Mentari tertawa geli sambil menggerak-gerakkan rahangnya.
Suamiku, aduh, duh. Makin gemesin.
"Kenapa, Aa? Lidahnya gatel?" tanya Mentari dengan nada gurauan.
Pram memutar tubuhnya, kakinya terulur untuk menggeser daun pintu agar lebih terbuka lebar.
"Cuma termos aja kenapa harus dikembaliin, barang sepele itu, Tar, kamu udah ikhlas pastinya barang itu di bawa mereka jalan-jalan." omel Pram, "itu pasti cuma alasan dia aja untuk ketemu kamu lagi!"
"Kalau iya?" sahut Mentari, dan sangat bisa di tebak jika suaminya berbalik. Barang kali pria itu kembali ngomel-ngomel tapi layaknya cuaca pagi ini yang terasa belum ada hangat-hangatnya, Pram mengerucutkan bibirnya.
"Aku benci hari ini!" gerutunya sambil kembali berjalan, Pram berdehem-dehem. Barangkali profesi Mentari memang tidak layak baginya, sebab mulut harus tersenyum walau hati tidak. Dan memang seperti itu yang dirasakan Mentari dulu saat melayaninya. Dongkol setengah mati.
__ADS_1
Pram bahkan ingin mengantongi muka-muka sahabatnya dengan plastik kresek hitam karena tersenyum lebar sambil menatapnya lekat-lekat dengan sorot mata geli di tengah taman bersama lima tamu yang nyaris akrab dengan sahabat-sahabatnya.
Kampret, kenapa bule ini ikut-ikutan nongkrong disini. Bakal jadi bulan-bulanan lima kampret di Jakarta nanti ntar gue.
Dada Pram mengembang saking kuatnya ia menarik napas dalam-dalam, bahkan ia malah mematung tanpa mengeluarkan sapaan hangat untuk menyapa tamunya.
Mentari menyunggingkan senyum kikuk sambil menyikut pelan lengan suaminya.
Pram seakan tersadar dari lamunan, ia menoleh, "Apa?"
"Kok apa sih, katanya mau gantiin aku jadi pelayan losmen? Aa lupa?" Mentari menaruh nampannya di tengah-tengah kerumunan pemangsa pisang kukus yang terus berebutan mendapatkannya.
"Ron, elo curang. Masa tiga!" protes Dias.
"Makanya elo yang gercep, lemah!" cibir Roni lalu tertawa terbahak-bahak melihat tampang Dias cemberut. "Nih gue bagi satu."
Tawa itu lebih merdu daripada tawanya, paras itu lebih mulus dari wajahnya.
"Elo ngapain, Pram?" sahut Roni seraya terkekeh, "kalo mau jadi patung di depan lah, patung penjaga, ngapain di tengah taman? Mau jadi patung lampu taman?" selorohnya lalu terkekeh lagi.
Pram sontak menyunggingkan senyumnya dengan muka jelek di hadapan sebelas orang yang melihatnya dengan ekspresi sama anehnya.
Pram menunduk untuk menaruh nampan di kursi semen.
"Selamat menikmati layanan pagi, Maxime dan kawan-kawan. Semoga tidak keberatan dengan pelayanan saya." kata Pram meniru ucapan Mentari saat melayaninya dulu.
"It's oke brother, take it easy, aku suka suasana seperti ini. Ramai." Dan hanya itu saja sambutan Maxime kepada Pram, setelahnya dia kembali beralih kepada Mentari yang kembali masuk ke rumah pribadinya.
Pram mendesah sambil duduk di antara teman-temannya yang sudah menghabiskan sepiring pisang kukus.
__ADS_1
"Elo pada kayak gak pernah ketemu pisang kukus ajalah, anjirr... Gak kebagian gue." gerutu Pram.
"Lapar kali kita, Pram. Habis senam kesehatan jasmani, menguras energi." timpal Dias, si paling berani di siang hari. "Tapi jasmani gue rasanya malah lelah."
Pram mengeraskan rahangnya sambil memiting leher Dias. Terus aja, terus... Jangan kasih kendor." serunya jengkel.
Semua teman-temannya kontan tertawa melihat muka Dias memucat.
"Habis ini enaknya ngapain, Pram. Elo kan anak kampung sini, ajakin lah jalan-jalan."
Pram dan Maxime kemudian sama-sama memandangi Mentari keluar dari rumah pribadinya, tapi tidak mengarah ke taman, dia ke kamar mertuanya, memanggil untuk memberikan teh hangat dan empat pisang kukus yang ia sisihkan untuk mereka.
"Emak..."
"Neng geulis." Asih tersenyum lebar setelah membuka pintu. Sama-sama paham, Mentari langsung masuk ke kamar itu dan di tutup oleh Asih.
"Si kasep marah?" tanya Asih cepat-cepat.
Mentari terkikik geli sambil meraih keranjang berisi baju kotor mertuanya.
"Aa sebel, mak. Dia lagi gantiin aku sekarang jadi pelayan losmen." Mentari beralih ke bapak mertuanya, "bapak masih masuk angin? Mau aku bikinin teh jahe saja atau bubur?"
"Terserah kamu, neng. Itu Pram di jaga biar tidak kumat ngambeknya. Kasian, baru saja bahagia." ucap Bagyo menasihati.
"Iya pak, di luar cuma pada bercanda. Nanti aku bilang ke Maxime kalo Mentari sudah nikah, tapi nanti. Baru seru, pak." Mentari menyingkap gorden hingga bisa melihat ke luar sambil tersenyum lebar. Sebelas orang yang sudah menghabiskan semua minumannya dan pisang kukus itu berdiri, sama-sama merenggangkan tubuh.
"Ayo, gue ajak kalian semua jalan-jalan ke sungai untuk pendinginan langsung dan mengenal kampung ini dengan baik. Akamsi nih, udah pada kenal gue setelah meminang Mentari dengan satu hektar sawah." ucap Pram dengan bangga.
Sontak pada hari yang lembab itu Maxime tak ubahnya seperti lilin yang tak menyala. Kaku, dan tidak mencair.
__ADS_1