
Keesokan harinya, pesta ngunduh mantu yang terbilang sangat wah di kampung juragan Bagyo terlaksana dengan lancar.
Pengantin baru yang sudah tidak malu-malu lagi menunjukkan kemesraan mereka di depan banyak orang itu menjadi raja dan ratu sehari dengan menggunakan pakaian adat Sunda.
Mentari yang cantik jelita, dan Pram yang gagah perwira. Lengkap sudah pernikahan mereka yang bahagia. Baik bagi sang mempelai atau orang tua mereka yang teramat bersyukur anak-anaknya telah memiliki pendamping hidup.
Pram dan Mentari berbagi rasa yang sedang bermekaran di benak mereka kepada siapa saja yang menatap mereka dengan senyuman.
"Tiap hari cuma di kamar, ngobrol di kamar, cekikikan. Saya benar-benar seneng lah besan, Pram bertemu wanita idaman keluarga kami. Sudah cantik, pinter ngurus rumah pokoknya mah, saya dan mas Bagyo sudah bisa tenang sekarang menikmati masa tua." urai Asih di hadapan besannya.
"Tapi besan jangan mikir yang enggak-enggak dulu, Mentari bukan jadi pengurus rumah. Bukan Dia sepenuhnya ngurus Pram." imbuh Asih, takut salah server nanti.
Joko hanya manggut-manggut, wong dia juga senang anaknya nikah sama anak juragan. Terlebih Mentari telah bebas sebebasnya dari Bisma. Itu yang terbaik dari segalanya.
Joko mengipasi wajahnya dengan peci. Siang hari di pinggir sawah, di bawah tenda rasanya panas-panas gimana gitu, apalagi tamu undangan keluarga Bagyo berjubel. Datang silih berganti dan nyaris acara selesai, dua keluarga mempelai bisa saling duduk-duduk sambil ngobrol—kecuali Bagyo, dia sudah di rumah, tidur-tiduran.
"Saya ikut senang, besan. Nak Pram sejak awal datang ke rumah memang baik, lucu, kalo orang Jawa bilang grapyak. Cocok sama Mentari yang murung, wes pokoknya saya senang Mentari ada yang jagain sekarang." puji Joko dengan jujur.
"Pokoknya kita sama-sama senang lah, besan. Tapi anak-anak kita lebih senang, tuh cengengesan terus di panggung pengantin. Pasti Pram ngajak neng geulis aneh-aneh,"
Tapi emak suka. Hihihi.
Bagyo mengangguk, hari ini begitu menjadi hari yang baik untuk yang terbaik bagi semuanya. Tak terkecuali bagi Wartini yang kembali bertemu anaknya. Tegar dan Danang yang lebih baik dari pada menjadi anak buah Bisma.
•••
Empat hari kemudian, rombongan keluarga Mentari telah kembali ke rumah masing-masing dengan selamat. Kini giliran pengantin baru itu yang hendak pulang ke Jakarta.
"Pokoknya sebulan sekali nanti emak pasti mampir ke rumahmu, Pram. Atau kamu yang datang ke sini, tengok emak dan bapak! Awas aja kalo main kabur setelah dapat satu hektar!" kata Asih dengan nada tegas.
Pram merapikan jilbab emaknya yang melenceng ke kiri. Ia tersenyum dan merasa ada yang menghangat di dalam dadanya sewaktu mengamati mata senja ibunya.
"Santai, Mak. Lagian, sawah yang emak kasih kemarin masih anak buah emak yang urus kan?" tanya Pram.
Asih berdehem, raut wajahnya yang tadinya sedih kini jadi jengkel mendengar Pram berkata, "Ntar kalo panen bagi-bagi ya, aku cuma mau tanahnya aja, hasilnya terserah emaklah gimana."
__ADS_1
Pram langsung bersembunyi di balik Mentari waktu ibunya hendak menaboknya.
"Benar-benar masih emak yang ngurus. Terus kamu kerja apa, Pram?" seru Asih sambil menguber-uber Pram yang terus menghindar dari protesnya.
"Naon ceunah kayak gitu, udahlah Mak. Mau cetak si Aa mah. Mau menikmati the real rumah tangga!" pungkas Salsabila yang melihatnya tom and Jerry versi anak dan ibu kejar-kejaran di dalam rumah. Bahkan Mentari cuma bisa menikmati keusilan suaminya sambil cengar-cengir sendiri.
Lima menit kemudian. Pram ngos-ngosan di depan Mentari.
"Sayang, ayo pulang. Capek aku di sini. Emak ngomel-ngomel terus." keluhnya.
Seharusnya Mentari mengusap peluh di kening Pram yang menghiasi kening maskulin Brad Pitt kw itu. Tapi dia suka melihat suaminya berkeringat dan panas.
"Pamitan dulu yang bagus sama emak, Aa." sarannya sembari menarik lembar tisu yang Pram ambil sendiri dari meja.
Mentari mau tak mau tersenyum sambil menyeka keringat di kening Pram sambil tersenyum. Sempurna. Cowok badung itu sudah bertemu lawan yang seimbang. Lawan yang bisa di ajak macam-macam tepatnya setelah hari itu mereka memulai kehidupan sehari-hari rumah tangga di rumah semi kayu.
"Sayang..."
Pram langsung menempelkan diri di belakang Mentari yang sedang masak. Bobot laki-laki itu menghangat di punggung gadis yang sedang mengaduk-aduk kuah opor.
"Udah, Aa. Panas ini, opornya baru mendidih. Kamu mau bikin aku celaka?" cibir Mentari sambil mendorong mundur Pram dengan pinggulnya.
Pram yang “tersenggol” merasa seperti tersengat arus listrik di pangkal pahanya.
Mentari berbalik sambil mengerucutkan bibirnya.
"Hari pertama aku masak, Aa udah ganggu aja sih! Gimana besok-besok, aku bisa batal masak tau." omelnya sambil menusuk dada Pram dengan jari telunjuknya.
Pram nyengir sambil menyusupkan kedua tangannya ke celah-celah tangan Mentari saat ia berkacak pinggang. Pram tersenyum, lemah lembut dia mengecup bibir Mentari sambil mematikan kompor.
Laki-laki itu mengangkat tubuh Mentari yang mungil sekali baginya. Imut-imut sekali. Apalagi gadis itu malah memeluknya.
"Udah nggak tahan gue!!!"
Pram menaiki anak tangga dengan ringisan geli melihat muka istrinya yang berontak tapi juga merona.
__ADS_1
Pram tertawa. "Nggak ada alasan gosong, kompornya udah gue matiin. Dan nggak ada kata takut, kamu sudah terlalu pintar ngasih layanan pribadi buat gue sayang!"
Mentari yang mengalungkan tangannya di leher Pram menyapukan lidahnya di bibir cerewet itu. Mencium Pram sepenuh hati dengan bibirnya yang lembut. Laki-laki itu tersenyum tanpa melepas bibirnya sampai tiba di kamar.
Pram menurunkan Mentari di ranjang berlapis seprai coklat tua. Terlebih macho seperti penghuni kamarnya yang sedang mengunci kamar.
Pram melepas celana jins pendek sobek-sobeknya sambil menatap Mentari dengan senyum seksinya yang menggoda.
"Apapun yang membuatmu bahagia, pasti membuatku bahagia. Dan bahagia mu hanyalah denganku." kata Pram sembari menarik Mentari ke dalam ciuman yang penuh cinta dan hasrat yang tertunda.
Dan lagi-lagi, gadis yang telah bersentuhan dengan kulit panas suaminya itu hanya merona.
"Cium keningku, Aa." bisiknya diiringi desau nikmat yang menguat di dalam tubuhnya.
Laki-laki yang sedang menikmati kelembutan si mungil itu mendongkak. Ia tersenyum hangat dan mencium kening istrinya sambil mengenyahkan jutaan ragu yang ia tunda-tunda untuk mendesak Mentari.
"Aa,"
Mentari mengusap rahang Pram, membalas ciuman suaminya lebih keras. Pram yang terbakar gairah mendesakkan keberuntungannya lebih cepat. Mentari merintih sambil mencengkram punggung suaminya. Meski begitu keduanya tersenyum dalam perih dan panas sambil terus menikmati hasrat yang semakin lama, semakin liar. Keduanya tenggelam dalam kenikmatan, membunuh waktu dalam percintaan yang menjadi candu mereka setelah cumbu.
Mentari mencapai puncak sambil memukul punggung Pram. Tapi laki-laki itu hanya meringis dan terus mendesak lebih dalam, mencapai kepuasan setelah berkali-kali membuat istrinya kehilangan napas.
"Aku mencintaimu, Mentari Saputri. Aku mencintaimu."
Pram menjatuhkan diri di samping istrinya setelah menghangatkan rahimnya dengan benih supernya.
Luar biasa. Olahraga baru. Keringetan. Mantap-mantap.
Pram terengah-engah sambil mengusap rambut lembab Mentari.
"Terima kasih sayang, enak?"
•••
To be continue and happy reading.
__ADS_1
bukan novel dewasa, jadi nggak hot. 😂✌️