
Deru mesin motor yang menggelegar di depan pos kamling langsung membuat Bisma mencelat dari kursi bambu. Dua kawan satu tongkrongannya terbahak seraya menengadahkan tangannya di depan Bisma.
"Beres, bos!" aku si eksekutor pelempar telur ke kepala Pram.
"Kok bisa cepet banget, kalian bisa pastiin gak salah sasaran?" sergah Bisma tak percaya, "Aku gak mau ikut campur kalo kalian salah sasaran apalagi orang sini yang kena!" ungkapnya. Tidak percaya kalau rencana mereka tadi malam berhasil.
Dua kawan Bisma kembali terbahak-bahak meremehkan.
"Pokoknya sesuai target, Bis. Orangnya tinggi, rambutnya gak sisiran, badannya kekar dan brewoknya baru tumbuh. Tadi kita lihat tuh orang yang kamu maksud jalan-jalan sendiri di jalanan depan losmen. Ngelamun, makanya langsung kita sikat dia pumpung sepi!" jelas si eksekutor, "Dan tadi kita lihat mobilnya udah di service."
Bisma menyerahkan selembar uang seratus ribu ke tangan Tegar.
"Bubar, jangan ada yang ngumpul di sini. Aku yakin Mentari pasti bakal kesini dan marah-marah!" katanya memberi perintah.
"Lagian kamu udah punya Arimbi masih ganggu Tari, Bis. Mendingan mantanmu buat aku yang jelas-jelas jomblo!" seloroh Tegar, sontak ia langsung terhuyung ke belakang dengan cepat sewaktu Bisma mendorongnya.
"Berani kamu ganggu Mentari, ibumu aku pecat dari rumahku!" ancam Bisma seraya naik ke motornya, "Jangan lupa rencana nanti malam kalian lakukan! Bersih, jangan sampai ketahuan!" seru Bisma seraya berbalik.
Dua kawan Bisma saling pandang dan mengangguk pasrah karena sejak awal mereka sudah terlibat dalam ambisi si bos jelek itu untuk memiliki Mentari iya atau tanpa pernikahan.
"Urusan nanti malam kita urus nanti malam aja, sekarang kita mbakso dulu, mas. Aku laper." ujar adik Tegar seraya naik ke motor. "Ayo mas buruan, keburu Dara kesini, aku males ngurus dia."
"Bukannya kamu suka sama Dara, Dan?" seloroh Tegar seraya menghenyakkan tubuh di jok motor, Tegar menepuk bahu adiknya, "tapi janganlah, dia anak panti, mau nikahin dia juga ribet, Dan! Dahlah, mbakso aja dulu terus cari potas ikan daripada pusing-pusing mikir cinta-cintaan."
Danang menggeber motornya menjauh dari pos kamling tempat meeting point yang meresahkan keluarga Joko.
•••
Berlelehkan telur yang mendarat di bagian kepala sebelah kanan dan mengotori bajunya sampai terasa nyut-nyutan, Pram tersenyum kecut sembari menghampiri Mentari.
__ADS_1
"Tar, mandiin aku!"
Mentari terkejut melihat pemandangan yang tak disangkanya. Terpogoh-pogoh dia bangkit dari ayunan besi seraya menghampiri Pram.
"Kok bisa kayak gini, Pram? Bisma lagi?" tanyanya panik dengan muka tak percaya.
"Bukan, Tar. Tapi Danang sama Tegar." potong Dara yang melihat kejadian tadi.
"Sama aja, mereka itu satu komplotan!" seru Mentari berang, "sana mandi, Pram. Anggap aja kamu baru ulang tahun." hiburnya sambil tersenyum sedih.
Pram yang memiliki peluang untuk menjatuhkan lawan menggeleng tidak mau.
"Tanggung jawab dong, aku begini kan karena ulah mantan kamu, Tar! Jadi mandiin aku, eh sori, minimal bersihin rambutku dari telur ini. Pusing gue kena timpuk, sakit pala nih jadinya." akunya dengan muka sedih.
Seluruh informasi itu serasa mimpi buruk yang kembali menghampiri Mentari. Demi apapun, dia ingin menghampiri Bisma dan memarahinya, kelakuan laki-laki itu benar-benar membuatnya malu dan semakin tidak enak dengan Pram.
"Ya udah ayo, tapi di luar. Aku gak mau kalo di dalam kamar mandi!" jawab Mentari patuh demi menentramkan hati Pram dari gangguan yang pasti akan terjadi lagi.
Di taman, Mentari menyambungkan selang panjang di kran air. Dia menghela napas sewaktu menatap badan Pram yang mempertontonkan kulit bersih yang kini bisa ia pastikan berapa jumlah tahi lalat di bagian punggungnya.
"Pram, maaf."
Mentari mulai mengguyurkan air di kepala laki-laki menunduk. Pram memejamkan mata, menikmati sensasi sentuhan yang berbeda di kulit kepalanya ketika jari-jari lembut Mentari mulai membersihkan rambutnya dari sisa lendir telur. Pram tak tahan lagi untuk tersenyum dan mengangkat tatapannya setelah Mentari membersihkan rambutnya dari sampo dan menggosok lehernya biar tidak amis.
"Gak sekalian kamu ambil sabun, Tar? Nanggung banget ini kalo cuma keramas doang mana udah basah semua badan gue." selorohnya seraya menoleh. Pram meringis mendapati wajah Mentari sudah merah padam.
Mentari menurunkan pancuran airnya ke tubuh Pram sambil mendengus.
"Ini sudah cukup, Pram. Aku minta maaf soal Bisma tadi, maaf kalo kamu jadi kena getahnya."
__ADS_1
Mentari menyerahkan selang airnya ke tangan Pram. "Nanti aku pel kamarmu setelah pulang. Aku pergi dulu."
Pram mencampakkan selang air ke tanah seraya beranjak dan mencekal lengan Mentari.
"Mau kemana kamu?" tanyanya serius, Mentari memalingkan wajah tanpa berniat menjawab. "Jangan pernah pergi untuk menemui Bisma sendiri, gue gak ngasih ijin, dia psikopat!" imbuh Pram seakan memahami gelagat Mentari.
"Pram, aku gak bisa ngajak kamu untuk urusan ini, biar aku selesaikan sendiri urusanku sama Bisma, biar nanti kamu gak terus-terusan jadi korbannya." ucapnya keras kepala dengan mimik muka hampir menangis sembari mengenyahkan tangan Pram dari lengannya. "Maaf Pram, kamu di rumah aja!"
Mentari melengos pergi, tak sampai depan rumahnya. Gadis itu sudah menjerit-jerit minta tolong untuk di turunkan dari atas tubuh Pram yang membopongnya ke kamarnya
"Udah gue bilang enggak perlu khawatir sama gue karena gue lebih khawatir sama kamu, Tar!" Pram mengunci kamarnya seraya mencampakkan kuncinya lewat jendela.
"Ra—!" teriak Pram, Dara yang asyik ngobrol bersama mekanik dan montir di depan mobil Pram menoleh.
"Apaan om teriak-teriak!" katanya sambil mendekat.
"Tuh ambil kunci kamar gue," Pram menunjukkan kuncinya yang berada di dekat pot tanaman, "tolong simpan dulu dan tolong bilang sama pak Joko Tari ada di kamar gue karena dia maksa nemuin Bisma soal tadi. Kamu jelasin ke mereka dan tunggu gue untuk bikin rencana, pokoknya jangan ada yang keluar dari losmen ini!"
Dara langsung menemukan kunci itu. "Tapi Tari gak papa dia ada di kamar sama om? Dia kan—," Dara nampak gelisah karena tidak sanggup mengatakan kalimat selanjutnya.
Pram mengangguk paham. "Gue udah tau, ambilin aja baju gantinya sekalian makan. Gue laper, dan gue pengen mi rebus gak usah pake telur, gue lagi benci sama barang itu!"
Dara mengangguk patuh, sepertinya dua musuh itu sekarang baru collab jadi akur. Pram berbalik, Mentari yang masih syok hanya bergeming di tepi ranjang.
"Sori bikin kaget, cuma kamu gak bisa ngurus psikopat seperti dia pake perasaan, Tari. Kamu harus pake akal, dan gak bisa sendirian." Pram tersenyum lebar, "jadi sekarang kamu terpaksa aku kurung dulu di sini. Ehm—jadi gerogi."
Pram mengerling usil seraya menyaut handuk. "Bye sayang, nikmati kamar VIP ini dengan senang beserta layanannya, aku mandi dulu habis itu kita nonton TV aja. Enak kan?"
Mentari langsung melayangkan bantal ke arah Pram.
__ADS_1
"Nakal kamu!"