
Pram langsung mengepakkan tangannya sambil berjingkrak-jingkrak menyerupai gerakan kuda dan kupu-kupu liar.
Mentari terbahak tanpa sadar, sangat terhibur dengan kelakuan Pram meski harus ikut menanggung malu di hadapan pengunjung lainnya.
"Kamu bener-bener gak punya malu, Pram." celetuk Mentari, berlari kecil seraya menarik kemejanya dari belakang.
Pram menghentikan kegiatannya lalu berkacak pinggang.
"Padahal aku rajin futsal, tapi ternyata capek juga lari-lari gitu doang." akunya setelah berbalik, "istirahat dulu yuk, ngopi-ngopi apa makan. Aku belum jadi prasmanan tadi."
Pram memandang sekeliling sambil menebarkan senyum. Menjadi badut?
Mentari memutar bola matanya. Seolah Pram gak masalah mereka jadi tontonan yang menghibur.
"Itu karena kamu larinya sambil malu-maluin kamu sendiri Pram, jadi capek." tanggap Mentari merasa sudah jengah berada disana, "boleh, setelah itu kita ke kawah Sikidang Pram atau mau ke bukit Sikunir kalau untung bisa dapat sunset."
"Ke kawah dulu, ke bukitnya kalo kamu gak pake kebaya. Tambah beban tau naik ke bukit pake kebaya, Tar!" seloroh Pram realitas.
Mentari membuat jeda sekian menit di antara mereka sambil menatap Pram heran. Dia yang pertama membuatnya tertawa bebas tanpa beban setelah lara membuatnya mati rasa.
"Kamu bertuah, Pram."
"Haa—" Pram melongo, "Bertuah gimana?"
"Sakti, terima kasih."
Pram tersenyum penuh arti. "Terima kasih untuk apa nih? Aku gak ngasih apa-apa ke kamu, Tar." elaknya sembari berjalan keluar dari kompleks candi, mencari tempat makan atau warung kelontong untuk membeli sendal jepit untuk Mentari.
Pram menaruh prihatin dengan kondisi Mentari yang sejak tadi berjalan tanpa alas kaki sambil menenteng sepatu hak tingginya.
"Mau apa?" tanya Pram sewaktu sudah keluar dari kompleks candi dan mencari tempat makan.
"Mi ongklok sama teh panas, Pram." Mentari menaruh sepatunya di lantai sembari membasahi bibirnya yang kedinginan.
"Ada lagi?" tawar Pram, "mungkin pelukan atau ke kamar mandi?"
"Ke kamar mandi mungkin," Mentari tersenyum malu, "wajahku terlalu lengket, jadi aku agak lama sekalian mau hapus make up." jelasnya.
"Butuh sabun cuci muka?" tanya Pram pengertian, hafal betul, cewek butuh barang seperti itu untuk keperluan wajah. Termasuk adik-adiknya yang getol memaksa suami-suami mereka ke klinik kecantikan jika skin care sudah habis.
"Beliin dulu boleh? Nanti aku ganti di losmen." pinta Mentari dengan rikuh karena baru kali ini semua benar-benar terbalik.
__ADS_1
"Boleh, mereknya apa?"
"Apa saja yang penting untuk kulit normal."
Pram membiarkan Mentari pergi ke toilet dengan buru-buru.
"Aku juga kebelet pipis daritadi, cuma demi kamu aku tahan-tahan."
Pram gegas membelikan sabun muka dan sendal jepit untuk Mentari setelah memastikan ukuran kakinya dari sepatu hak tinggi yang dibiarkan begitu saja di lantai.
"Tari, buka pintunya." panggil Pram.
Pintu terpentang perlahan, Mentari melongok dari kamar mandi paling ujung.
"Ada tisu dan sendal di dalam. Kamu pake biar gak usah pusing-pusing cari lap buat ngeringin mukamu."
Mentari menerima plastik dari Pram sambil malu-malu. "Makasih, Pram." ucapnya tulus.
"Oke, aku ke sebelah terus keluar pesen makan."
Keduanya kembali berpisah. Mentari membuka plastik yang Pram berikan, dia semakin menyunggingkan senyum. Gak peduli suara siulan dan samar-samar terdengar pancuran air ke dalam closet meski air kran ia hidupkan.
Entahlah, Mentari menggeleng tidak tahu, tapi dalam hati dia menikmati setiap kejutan yang di berikan oleh Pram untuknya.
Pram membuka lebar-lebar pintu. Meloloskan helaan napas lega diiringi ungkapan rasa syukur yang tiada terkira. Mentari tertawa lepas. Nyaris seperti pergi ke island of paradise dengan segala kenikmatan dunia rasanya. Ikut senang.
Segera Pram keluar dari toilet yang mempunyai air sedingin es krim. Dia pergi ke kasir untuk memesan dua mi ongklok, mi yang terdiri dari potongan kol, daun kucai, serta kuah kental berkanji itu di sajikan dengan sate sapi dan tempe kemul khas Wonosobo serta tidak lupa dua teh panas.
Pram menunggu sambil tersenyum geli dengan fotografer tadi yang masih mengikutinya.
"Pesen sekalian aja mas, nanti aku bayar."
Ketiban rejeki lagi, pikir si fotografer itu. Tak lama, lima belas menitan. Semua kenikmatan bagi Pram berkumpul di meja makan.
"Jangan langsung di minum, ini masih panas, Tar. Lidahmu nanti bisa terbakar dan aku – aku gak bisa nolongin kamu kalo untuk yang itu!" kata Pram mengingatkan sewaktu Mentari menggenggam gelas besar itu dengan kedua tangan.
"Iya tau, cuma tanganku dingin jadi mencari kehangatan yang ada." kata Mentari seraya mengulum bibirnya menahan gigil.
"Tanganku tadi kamu tolak, padahal kalo kita bisa saling menggenggam itu lebih baik, Tar." Pram mengedipkan sebelah matanya dengan usil.
Si fotografer yang nguping mendadak tersedak.
__ADS_1
"Jadi mereka ini tunangan apa cuma pura-pura preweddingan?" tanyanya resah dalam hati. Menelengkan kepala, melirik kedua insan yang sama-sama memasang wajah nggak enak.
"Canda doang Tar, ayo makan." ajak Pram.
Setengah jam hening, setelahnya berhubungan kapok perut suduken, Pram membuat jeda waktu sebelum ke kawah yang menjadi legenda Pangeran Kidang/dan Shinta Dewi.
Pram menghela napas, "Kita pulang aja gimana, Tar? Besok kita ke sini lagi dengan persiapan yang lebih oke. Aku kasian sama kamu soalnya." urainya jujur.
Mentari mengangguk, karena udara di sana semakin dingin dan langit terlihat mendung. Kawah pun pasti akan mengeluarkan asap belerang lebih pekat.
Pram menghampiri si fotografer yang berjongkok di belakang mobil sewaktu Mentari sudah masuk duluan ke dalam mobil.
"Aku minta fotonya di kirim lewat chat aja mas, ini nomerku, sekalian aku akan transfer setelah itu." Pram memberikan kartu namanya dari dompet.
Si fotografer nampak ragu-ragu mengiyakan. "Serius mas bisa di percaya?"
"Serius, aku ini juragan. Gak mungkin punya anak buah banyak kalau gak bisa di percaya."
Akhirnya fotografer tadi mengangguk pasrah. "Nanti aku kirim yang bagus-bagus mas, terus yang jadi kupu-kupu liar tadi juga mau di kirim?" tanyanya sungkan, soalnya baginya itu konyol.
Pram menepuk jidatnya, merasa bodoh tapi berarti. "Terserah kamu mas."
"Pram udah belum cek bannya?" seru Mentari.
"Udah-udah, Tar." Pram menepuk pundak si fotografer, "aku tunggu mas!"
Mengangguk, si fotografer langsung melompat ke belakang mobil lainnya dan melenggang pergi membawa kisahnya sendiri bersama dua orang itu.
Pram masuk ke mobil seraya menghidupkan mesinnya. Karena sudah cukup bersenang-senang hari ini, sepanjang perjalanan menuju losmen keduanya hanya terdiam.
Mentari lebih banyak memandang keluar, melihat pemandangan pegunungan sementara Pram mencoba menumpuk keberanian mengungkap kisahnya bersama Tatiana nanti.
Apa ini gak terlalu cepat untuk curhat? Lucu juga menurut gue pertemuan ini.
Pram melirik Mentari yang baru saja menguap. Kenyang, dingin, dan lelah membuatnya ngantuk.
Gue penasaran dengan respon Mentari nanti.
•••
To be continue and happy reading.
__ADS_1