Juragan Empang Meets Gadis Losmen

Juragan Empang Meets Gadis Losmen
Asyik bener dah.


__ADS_3

Mentari buru-buru memacu motornya keluar dari losmen, sekali lagi dengan perasaan khawatir yang bertubi-tubi akan Pram.


Mentari menghela napas. Sadar, baru kali ini dia benar-benar direpotkan dengan kehadiran tamu yang menginap, Pram hadir dengan cara yang nyeleneh dan tidak wajar, maka berbeda pula apa yang ada dibenaknya saat ini. Mungkin terlalu cepat jika itu disebut perhatian khusus, namun sedikit ruang telah menyita waktunya untuk Pram.


Tiba di apotik. Mentari langsung menuju apoteker yang tersenyum formal kepadanya.


"Ada yang bisa saya bantu kak?"


Mentari mengangguk antusias. "Temanku alergi serbuk sari, kak. Mm..., Dia bersin-bersin, wajahnya merah-merah, sedikit demam, matanya berair terus lemes." jelasnya beruntun seraya tersenyum lebar.


"Sudah berapa lama kak?" tanya apoteker.


"Barusan, baru tidur sekarang." Mentari mengembuskan napas.


"Ini kak, antihistamin dan steroid semprot, tapi ini hanya mengurangi gejalanya tidak menyembuhkan. Jadi kalau seumpama tidak kunjung membaik, sebaiknya teman Mbak dibawa ke dokter di kota."


Penjelasan ringkas itu membuat kepala Mentari terangguk, dia membayar lalu kembali memacu motornya kembali ke rumah.


"Semoga aja Pram membaik secepatnya! Kalau harus ke kota terus boncengin dia jauh banget. Aduh, mana dia baru lemes. Nanti dia pasti jatuhin kepalanya di pundakku. Dah itu—," Mentari menggerakkan bahunya seakan-akan benar-benar ada Pram dibelakangnya sekarang.


"Gak nyaman, mana pasti kalau orang lemes harus dipegangin biar gak jatuh. Argh..., Pram. Kamu bikin aku spaneng!"


Sesampainya di rumah, Mentari juga belum mendapati motor RX-King orang tuanya atau Dara yang sejak kemarin ia harapkan untuk segera datang membantunya.


Cemas, dengan wajah mendung Mentari gegas kembali kamar nomor satu, mengayunkan daun pintu dengan perlahan takut membangunkan Pram.


Mentari tersenyum, masih mendapati Pram terlelap, mendengkur malah meski napasnya terdengar patah-patah.


"Bisa beres-beres dulu sebelum ngurus anak emak. CK! Dasar anak emak, jauh-jauh pergi yang dicari cuma emak, emang gak punya pacar Pram? Apa baru patah hati? CK!"


Mentari melakukan tugasnya dengan hati-hati dan telaten sembari sesekali memastikan cowok itu tetap tidur. Sejenak dalam sepi yang berpendar di siang hari yang syahdu, hawa ngantuk mulai menggelayuti Mentari.


Lelah seharian ngurus anak emak. Gadis itu mendudukkan diri di kursi sembari tetap memegang gagang sapu, Mentari perlahan-lahan memejamkan mata.


•••

__ADS_1


Bunyi sapu yang terjatuh membuat Pram tersentak kaget.


"Tar..."


Hening, tak yang menyahut hingga mau tak mau demi mengenyahkan pikiran buruknya akan demit dan sebangsanya Pram mengerjapkan mata berkali-kali seraya bangkit dengan badan yang terasa berat.


"Mentari."


Pram takjub mendapati cewek itu tidur dengan posisi duduk, kepalanya mendongak dengan bibir yang mangap.


"Nungguin gue dia?"


Pram melirik jam di ponselnya. "Lama juga gue molornya! Pantes dia sampe ketiduran."


Pram melangkah pelan-pelan, menyandarkan sapu ke tembok sebelum memandangi wajah teduh Mentari dari dekat.


"Cantik." Pram merapikan helaian rambut Mentari yang menempel di wajahnya, "kamu cantik dan baik. Terima kasih."


Sejenak, tatapan Pram tertuju pada bibir natural terlihat tidak sensual namun sudah menarik perhatiannya.


"Untung tangan gue kena ingus, coba kalau enggak. Bibirmu tidak bisa diabaikan barang cuma gue pelototi doang, Tar." aku Pram, walau tergiur untuk menyaksikan manisnya wajah Mentari lebih lama Pram berdiri. Dibiarkan gadis itu tetap tidur di kursi daripada menimbulkan perang salah paham.


Pram menyugar rambutnya sembari bercermin dan memeriksa ruam-ruam merah di wajahnya.


"Batal keren karena alergi!" Pram meringis bodoh, "Dan emak kalau tau, wah, heboh bro. Mungkin sekarang bukannya bisa tidur, aku pasti masih di rumah sakit sambil diomelin panjang lebar tapi sambil disayang-sayang khas emak-emak kalau khawatir karena anaknya sakit."


Pram menghela napas. "Tapi disini, enaklah. Diperhatiin walaupun bayar."


Dengan gerakan pelan, Pram membuka plastik yang dibawa Mentari. Dia tersenyum lebar.


"Sori deh kalau gue ngerepotin lagi, cuma tadi kan musibah, kalau tau alergi juga gak akan ikut-ikutan ngendus-endus bunga. Mending ngendus ketiak gue sendiri apa ngendus Mentari yang jelas-jelas wangi."


Pram kembali memandangi wajah Mentari dengan takjub, entah saking lelahnya apa saking ngantuknya. Cewek itu tidak bangun-bangun.


"Untung gak ngiler kamu, Tar. Coba kalau iya, hancur sudah imajinasiku akan parasmu."

__ADS_1


Pram tertawa tanpa suara sebelum berbalik dan buru-buru naik ke kasur. Pram bersin-bersin, sontak hal itu membuat Mentari tergeragap.


"Pram, udah bangun?" tanya Mentari spontan.


"He'eh." Pram tersenyum usil.


Dengan asal Mentari merapikan rambutnya dan memasang wajah biasa-biasa saja. Padahal ngantuk masih menggantung jelas di roman wajahnya.


"Aku ganti tehnya dulu, Pram. Ini udah dingin. Sekalian ambil makan buat minum obat." kata Mentari, nyawanya belum sepenuhnya kembali membuatnya enggan menatap Pram.


Pram menyembunyikan senyum di balik selimut yang menutupi sebagian wajahnya.


Lucu nih cewek, maunya pengen terlihat profesional dihadapan tamu losmen padahal fase terjelek bagi cewek-cewek udah gue lihat.


Pram cekikikan di dalam hati sementara tampangnya memasang wajah pengertian.


"Santai aja, Mentari. Aku disini kok, gak kemana-mana." tersenyum, Pram membiarkan Mentari mengangguk dan mengambil sapunya dengan alis bertaut.


Kok bisa nyender disini? Bukannya tadi aku pegang?


Mentari memalingkan wajah, menatap heran Pram yang menutup seluruh wajahnya. Tidak kuat menahan senyum yang kian lama kian menjadi seringai usil.


Jangan sampai dia curiga, pipinya pasti merah lagi nanti dan ogah ngurus gue yang butuh diperhatiin ini.


"Pram aku tinggal keluar, tolong kamu jangan tidur lagi biar cepetan bisa minum obat." kata Mentari penuh simpati, mengabaikan kerugiannya yang satu tadi, "biar aku bisa tidur nyenyak nanti malam." imbuhnya yang hanya berani ia ucapkan dalam hati.


"Siap! Aku juga pengen buruan sembuh terus menikmati hiling lagi." jawab Pram.


Mentari hampir melayangkan sapunya mendengar kata hiling!


"Giliran kamu sembuh, aku yang sakit, Pram!" gumam Mentari sembari keluar kamar.


Pram kontan membuka selimutnya lalu berbahak-bahak dengan suara yang ditahan-tahan agar tidak meledak dan membuat Mentari benar-benar melayangkan sapunya.


"Asyik bener dah!"

__ADS_1


•••


To be continue and happy reading.


__ADS_2