Juragan Empang Meets Gadis Losmen

Juragan Empang Meets Gadis Losmen
Nempel Mulu.


__ADS_3

Pram!


Mentari mengerucutkan bibirnya. Rasanya sudah tidak berselera untuk mengunyah opor ayam angetan itu.


"Bosen Aa, dari sarapan sampai makan malam opor lagi." protesnya sambil menggeleng, "mau yang seger-seger."


"Lagian cuma berdua kamu masaknya satu kilo. Besok lain kali di kira-kira ya geulis biar nggak ke buang-buang kalo udah bosen."


Pram mencubit gemes pipi Mentari. Berjuta rasa bermekaran di benaknya tanpa bisa ia ungkapkan.


Mulai banyak protes, mulai banyak yang dikeluhkan. Tapi jangan sampai Mentari kerja karena lebih baik dia berulah di rumah daripada pergi kerja pagi-pagi, pulang sore-sore. Rasanya rumah ini kembali sepi lagi. Hanya ada gue yang kembali merana menunggu waktu berputar. Menghabiskan hari dengan ikan-ikan gue, dan berharap waktu berputar dengan cepat.


Pram menyingkirkan opor ayam dari dekat Mentari seraya memuji istrinya dengan mengecupi punggung tangannya. Dia akan mengalah demi rumah tangga yang harmonis dan akan slalu seperti itu selamanya.


"Bahan-bahan di kulkas nggak lengkap sayang. Cuma sisa telur, daun bawang dan mi instan. Lainnya cuma bawang-bawangan. Makan itu mau, mi telur?" tawarnya dengan suara lembut.


Mentari menganggukkan kepala tanpa ragu-ragu. "Mau, yang penting Aa yang masak!"


"Ya udah ayo turun." ajak Pram sambil memainkan rambut Mentari, permainan singkat di kamar mandi tadi membuatnya bergetar meski Mentari melakukannya dengan setengah hati.


"Atau mau lanjut lagi sayang, waktu marah-marah tadi, kamu lumayan lebih berani." godanya dengan senyum andalannya.


Bukannya langsung beranjak. Si geulis yang sedang merengut seperti anak kecil itu melabuhkan tubuhnya di punggung Pram.


"Aa gendong." ucapnya sambil melingkarkan tangannya di leher Pram.


Mentari menyamankan posisi kepala di bahu Pram hingga hidung mancungnya menyentuh cuping telinga suaminya, napasnya yang hangat menyusup dan membangkitkan bulu-bulu halus suaminya itu.

__ADS_1


Pram membuang napas. Dalam kondisi marabahaya nafsu seperti itu, ia memasang kuda-kuda pada kakinya yang kokoh untuk berdiri.


Nggak ngerti gue, habis ngambek, terus manja kayak gini. Lagi nggak bisa di tebak apa maunya tapi sikap Mentari yang sekarang ini membuatku banyak kerjaan.


Pram menggendong istrinya sampai ke dapur, ia menaruh Mentari pada kursi tinggi.


"Duduk manis dan lihat aja, jangan ganggu atau turun dari kursi. Ngerti geulis!" Pram memutar tubuhnya seraya menjawil hidung mancung istrinya.


"Pasti anak kita nanti mancung, seperti kita."


Pram menyentuhkan hidungnya ke hidung Mentari, sejenak menautkan bibir mereka yang hanya berpaut berapa inci sebelum mengambil panci dan mengisinya dengan air.


Pram bersiul sambil menghidupkan kompor.


Masak mi lagi, berasa jadi bujang lagi, masak mi telur. Hadeh, eh.


Kelopak mata Pram melebar. Mentari memeluknya dari belakang seakan menambah kesan manja yang belum hilang-hilang sejak tadi.


Mentari tak menjawab, dia hanya terus memeluk suaminya sambil menyandarkan kepalanya di punggung paling nyaman baginya.


Nah kan, apa Mentari takut kehilangan gue gara-gara habis nemuin foto Tatiana?


Pram membiarkan Mentari terus memeluknya meski ia sibuk membuat makan malam sederhana itu.


"Udah matang, Tar. Mau makan dulu atau peluk aja?" ucap Pram sambil menggeser tubuhnya hati-hati.


"Aa suapin ya."

__ADS_1


"Pasti." Pram menaruh dua mangkok mi rebusnya di meja. Ia memutar tubuhnya untuk menjangkau bahu Mentari dan memintanya untuk berada di depan.


"Kenapa?" tanya Pram dengan ekspresi menghangat.


"Aku sayang sama Aa, nggak mau ada yang lain di hati Aa walaupun itu cuma foto jelek, bertanduk dan kumisan yang Aa jadiin jimat. Aa cuma milik Mentari seorang, iya kan? Aa cuma sayang sama aku?" tanya Mentari dengan mata berbinar. Penuh sayang, dengan sedikit kekhawatiran.


Pram mencium kedua mata Mentari seraya memeluknya.


"Kamu milikku, aku milikmu. Udah, nggak ada kata lain untuk membuktikan bahwa kita saling memiliki."


Pram nyengir tanpa bisa di lihat oleh Mentari.


Anak cinta banget gue sekarang.


Mentari mengeratkan pelukannya. Saking takutnya bila pernikahannya harus berjalan dengan bayang-bayang mantan pacar. Ia mengancam Pram jika sekali lagi ia menemukan ada bekas mantan di rumah itu dia mau pulang, pulang ke rumah emak.


Sebuah ancaman paling serius yang Mentari lakukan karena hanya pada emaklah Pram takut.


Besok renovasi rumah, ganti warna cat, ganti semua dekorasi. Bisa mampus gue kalo Mentari tau rumah ini dulu aku dedikasikan untuk Tatiana.


"Siap sayang, sekarang kita makan. Keburu dingin nanti nggak enak." alihnya sambil merenggangkan tubuhnya.


"Aku suapi, dan besok kita belanja, jalan-jalan kemanapun yang kamu mau. Biar nggak bosen di rumah." Dan over thinking, imbuh Pram dalam hati.


Mentari mengangguk, biarlah dibilang seperti jamur ikan yang nempel mulu dia tetap melakukannya, menempeli Pram sampai suaminya itu terlelap lebih dulu. Baru setelah Pram benar-benar tidur, Mentari memeriksa isi hp suaminya.


Mencari keberadaan Tatiana. Dari mulai foto, chat, dan suaminya bener-bener jujur. Tidak ada pembahasan tentang Tatiana atau peninggalan lainnya. Mentari jadi tersenyum lega malam itu tanpa ada rasa curiga bahwa semua warna biru di rumah Pram itu adalah warna kesukaan Tatiana.

__ADS_1


•••


To be continue and happy reading.


__ADS_2