
Kecemasan Mentari sungguh-sungguh berubah menjadi kepanikan. Bukan lagi memikirkan kondisi alergi yang sedang Pram idap sekarang, tapi kondisinya sendiri yang tidak tahu harus dikembalikan dengan cara apa biar kembali terlihat normal seperti sediakala.
"Aku yakin Pram tadi udah bangun terus pura-pura tidur lagi, kan mana mungkin sapu bisa nyender sendiri ke tembok. Gak mungkin juga demit, pasti Pram tersangkanya!"
Mentari memutar kenop kompor karena hanya ibunya yang masih menggunakan tungku api jika ada tamu yang menginap. Toh selain irit gas, sayang melimpahnya batang kayu dari pekarangan hanya di tumpuk dan diberikan rapuh dimakan waktu.
Gadis itu membuat nasi goreng dengan bumbu instan, biar cepat jadi lalu di makan tamu penginap itu yang meruntuhkan segala pujiannya kemarin.
Dengan kondisi yang benar-benar didominasi rasa malu dan payah, Mentari sudah tahu dia ketahuan tidur dan pasti mangap, pasalnya bukan kali ini saja dia tidur di kursi. Waktu piknik SMA dia pernah mengalami hal itu dan dijadikan olok-olokan satu bus. Bisa dibayangkan bagaimana mukanya waktu itu, merah padam, tapi dia tak peduli, spirit jiwa mudanya masih membara, tinggal ia balas olok-olok temannya dengan rahasia-rahasia yang ia tahu, persoalan beres. Tapi untuk kasusnya dengan Pram. Akting ajalah, pura-pura gak tau, pura-pura bodoh amat biar gak perlu salah tingkah lagi.
"Habis ini aku mau telepon ibuk sama Dara, aku nyerah ngurus Pram!" cerocosnya lalu mengangkat nampan yang telah dia taruh nasi goreng, air putih, teh panas dan apel yang sudah ia potong-potong.
Di kamar Pram buru-buru menetralkan senyumannya, susah, pipinya sudah kebacut tertarik kebanyakan senyum.
"Masih demam, Pram?" tanya Mentari, menaruh apa yang dibawa ke meja lalu menghela napas.
"Demam? Emang aku demam?" diraba-raba sendiri jidat dan lehernya seperti Asih waktu memastikan cucunya demam apa enggak.
"Kok tau aku demam, Tar?"
Pupil mata Mentari sontak melebar "Goblok!" desisnya dalam hati, "kenapa malah buka kartu sendiri sih!" Mentari tersenyum formal, dia minta Pram untuk segera makan saja.
__ADS_1
"Mungkin gejala alergi mirip orang flu kali ya, makanya kamu tau aku demam." kata Pram pura-pura, sementara pipinya semakin kaku karena senyum yang dia kembangkan lagi di wajahnya.
Mentari menggangguk, merasa kesal juga gak bisa apa-apa melihat laki-laki yang pintar membawa diri itu juga masih pura-pura tidak tahu dia menyentuh keningnya.
"Lagian tanganku kenapa sih sok-sokan nyentuh keningnya pake bilang masih demam gak?" batin Mentari, kembali tidak enakan lagi karena takutnya si Pram sudah punya tambatan hati.
Pram berhenti tersenyum, satu menit, dua menit, rona wajahnya kembali seperti semula sadar Mentari nampak buru-buru ingin mengenyahkan diri dari kamarnya.
Pram bangkit berdiri, melihat menu makan siangnya yang ala kadarnya, tapi siapa sangka, pemakan segala mana pernah protes. Di beri nasi garam sama kerupuk pun dia doyan.
"Aku makan dulu ya, kebetulan aku suka telur mata sapi," ucap Pram, "dan kalau kamu mau istirahat atau mau ngapain gitu, bisa kok keluar, karena kayaknya aku cuma mau di kamar aja. Istirahat." aku Pram.
Mentari mengangkat keranjang baju kotor yang belum ia urus tadi.
"Nanti saja, bajuku masih bersih dan aku mau buru-buru pengen minum obat biar cepat sehat lagi!" jawab Pram jujur.
"Mungkin handuk atau seprai mau ganti? Kamu tadi terlalu banyak bersin jadi udah gak nyaman untuk dipakai." Mentari memberi penawaran.
"Sore-sore nanti aja boleh gantinya? Aku sudah terlalu nyaman untuk cuma rebahan, Tar."
Mentari mengangguk, tersenyum seperti biasa dengan hati yang buncah.
__ADS_1
"Cepet sembuh, Pram. Aku berharap untuk itu." Mentari menutup pintu kamarnya, bercicit kecil sepanjang dia menyusuri koridor losmen sampai tempat mencuci baju.
Mentari menuangkan pakaian kotor Pram ke lantai untuk dipisahkan cara mencucinya, tapi matanya langsung tercengang melihat segitiga bermerek Triumph sejumlah dua potong dengan warna yang sama.
"PRAM CANGCUT KAMU NIH!!!"
Di kamar Pram tertawa lalu tersedak makanannya. Ia memukul-mukul dadanya seraya menghabiskan air putih.
"Gue bisa pastiin Mentari terkejut dengan surprise di keranjang!"
Benar saja, Mentari harus menggunakan ranting pohon untuk memasukkan cangcut itu ke dalam mesin cuci dengan muka geli dan mata menyipit ogah-ogahan untuk memandangnya.
"Ibuk, Ra, pliss buruan pulang. Aku gak sanggup nyuci dalemannya setiap hari. Takut terbayang-bayang bentuknya terus orangnya, hua— ibuk... Ini masih di jemur terus di setrika, iugh, ini bukan jatahku!"
Mentari menggeram frustasi, di tinggalkannya mesin cuci yang mulai bekerja itu ke dapur. Makan, dan mengurungkan niatnya untuk membuat rujak.
"Awalnya aku senang ada tamu yang lama nginepnya, tapi harusnya sejak awal dia telepon dan minta jadiin aku pacar bohongannya, aku sudah sadar ada yang gak beres sama orang itu. Seharusnya, dan ini terlambat. Ternyata Pramoedya Aji itu—"
Mentari mengigit apel dingin dan mengunyahnya kuat-kuat.
•••
__ADS_1
To be continue and happy reading.