
Bukan ingin menjadi seorang ratu baru yang tinggal tunjuk langsung ada, tinggal minta langsung tercipta, Mentari yang sedang membawa bakal calon cucu Asih dan Bagyo yang telah di harapkan sepenuh hati di perlakukan dengan hati-hati seakan dia itu vas tua yang di senggol saja langsung pecah.
Padahal jika di lihat dari keadaan Mentari sekarang, wanita itu bugar, tidak ada tanda-tanda awal kehamilan yang meresahkan dan membahayakan. Makanya dia heran sendiri kenapa mertuanya tidak memperbolehkannya nyapu halaman, ikut beres-beres rumah, dan berimbas pada kejengkelan hati Dara.
"Enak banget jadi ibu hamil, cuma jadi mandor, dari tadi cuma tunjuk ini, tunjuk itu. Beres." eluhnya sambil mendorong meja, mengembalikan ke tempat yang sama seperti sedia kala.
Mentari cuma bisa meringis karena Dara langsung di damprat oleh juragan empang dari Jawa barat.
"Udah kamu nurut aja, habis ini emak ajak kamu ke tanah Abang, beli gamis seragam buat pengajian besok siang!" rayu Asih. Bukan main, Dara langsung setuju saja karena dia suka melihat banyak hal baru, suasana baru, juga karena Asih tidak pelit.
"Iya emak, tapi apa besok kalo aku nikah dan hamil emak juga kayak gini, manjain aku, gak marah-marah, nggak nyuruh aku jadi kuli pasar?" sahut Dara.
Pram dan Mentari yang sedang berada di tempat berbeda dengan kesibukan yang berbeda pula menunduk sambil tersenyum lebar. Mereka terlihat geli akan pernyataan Dara. Beruntung Dara yang sedang memegang kemoceng dan membersihkan dinding-dinding tidak melihat.
Emang dia mau nikah sama siapa? Pacar aja gak punya. Jadi penasaran gue, jalan sama siapa adik gue di rumah emak. Bahaya ini kalo sampe salah sasaran.
Pram mengangguk sewaktu Asih menatapnya.
"Semua sama, Ra. Pokoknya kalo lagi hamil muda emak manja-manja, seperti yang emak bilang kemarin, emak akan jaga sampai gendut."
"Emak kenapa kalo sampai gendut, Mak?" Pertanyaan polos itu membuat dada Asih bergetar, dulu sekali sebelum Pramoedya Aji terlahir butuh waktu sampai dua tahun untuk menimang anak setelah anak pertamanya keguguran.
"Itu tandanya semuanya sehat, Ra. Tapi ingat tidak semua orang sama. Kenapa emangnya tanya begitu udah mau nikah, jangan ah, emak belum masih izin."
__ADS_1
Dara tertawa sambil berbalik. "Bukan lah, mak. Cuma nanya doang, soalnya emak udah kayak ibu di kampung, sayang sama aku."
Oh, air mata Mentari langsung merebak keluar dengan tangisan yang teramat pedih hingga membuat Pram menghampirinya dengan khawatir.
"Kenapa sayang?"
"Itu." Mentari sesenggukan sambil menunjuk Dara yang memeluk Asih.
"Ja-jadi tambah kangen sama ibu."
Mendengar semua itu, tampang Pram langsung ketar-ketir. Ia cuma bisa memeluk Mentari tanpa mengeluarkan sepatah kata. Tapi matanya yang tidak terlihat oleh Mentari ditatapnya ibunya dan Dara dengan ngeri.
Lepas pelukan kalian.
"Besok sayang kita pasti pulang." kata Pram menenangkan meski hatinya bergemuruh dengan hasutan dua orang itu.
"Sini, Tar. Gak usah nangis gitu lah, gembeng kamu, jelek tau mukamu." sahut Dara lalu cekikikan.
Bukan cuma Pram yang kaget, Mentari pun jadi mengusapkan air mata dan ingusnya ke baju Pram sebelum melepas pelukannya.
Sepasang matanya langsung melirik Dara dan ibu mertuanya. Sepersekian detik, muka serius itu langsung menubruk ke dua tubuh itu.
"Kangen ibu, kangen bapak, rasanya dadaku sesak jadi sulit bernafas." urainya sambil nangis lagi.
__ADS_1
Pram kontan melepas bajunya, tubuh kekar itu langsung terpampang jelas di depan mata, tapi alih-alih mengganti bajunya ke kamar, di tempelkannya kaos putih yang ia kenakan di wajah istrinya untuk mengeringkan air matanya itu.
"Cup-cup-cup, nama kamu nanti bukan Mentari lagi Tar, tapi mendung."
Karena itu, mengingat ucapan Pram yang salah kaprah dan tidak menghibur sama sekali bahkan seenaknya mengganti namanya dengan mendung, Mentari mencubit dadanya.
Pram tersenyum aneh, di pegangnya dadanya sendiri sambil bersiap untuk kemungkinan terburuk. Mentari ngambek, tidur memunggunginya atau yang lebih mengejutkan lagi adalah caranya ngidam menimbulkan kewaspadaan. Bagus memang hormon kehamilan itu, bukan cuma mengubah pandangan Pram tentang istrinya tapi semuanya walaupun cuma sedikit.
"Aa, tega. Masa gitu." protes Mentari, "yang manis kaya waktu Aa deketin aku di losmen!"
Pram langsung bertindak begitu Dara hendak membuka mulutnya. Takut ada hasutan lagi yang membuat Mentari goyah. Dirangkulnya bahu sang istri meninggalkan Dara dan ibunya ke kamar. Dibawanya Mentari ke kamar mandi, ke depan wastafel.
Sepasang mata Pram menatap Mentari dengan banyak ekspresi dan spekulasi. Tapi dari semuanya itu ada kecemasan yang sarat, ada kebahagiaan yang dalam dan ada kewaspadaan yang sedang Pram tumbuhkan.
Dengan sikap serius dan khidmat dibasahi tangannya dengan air yang mengalir, lalu mengusapkannya pada wajah Mentari. Berkali-kali sampai terlihat segar sebelum Pram menarik laci, mengambil handuk kecil untuk mengeringkan wajah Mentari.
Sementara ada dua manusia yang sedang kembali merajut harap di kamarnya. Asih dan Dara berdoa dengan khidmat dan serius.
"Semoga mereka tidak bertengkar. Amin."
Asih dan Dara menganggukkan kepala bersamaan. Keduanya langsung pergi ke pasar setengah jam kemudian, membeli segala macam sesuatu yang di butuhkan rumah Pram. Tentunya ada Mentari yang menjadi pemilih utama yang akan menghias rumahnya bersama Pram selamanya dalam suka duka, meskipun mati-matian harus menekan ego masing-masing demi lancarnya proses berumah tangga.
•••
__ADS_1
To be continue and happy reading.